Unduh Aplikasi

Dinilai Tak Adil, Warga Kuta Baro Pertanyakan Harga Pembebasan Lahan Jalan Tol

Dinilai Tak Adil, Warga Kuta Baro Pertanyakan Harga Pembebasan Lahan Jalan Tol
Pertemuan tokoh masyarakat Kuta Baro

BANDA ACEH - Tokoh masyarakat dan Keuchik se-Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar meminta kejelasan terkait harga yang ditetapkan untuk pembebasan lahan pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli di daerah setempat.

Keuchik Gampong Tumpok Lampoh, Hasanuddin mengatakan, rapat yang dilaksanakan mereka semalam itu guna membahas masalah pembayaran pembebasan lahan untuk jalan tol yang dinilai cukup murah atau berbeda dengan harga ganti rugi yang diterima warga kecamatan tetangga seperti Baitul Salam, Darussalam dan Blang Bintang.

"Kuta Baro belum pembayaran, harga tidak sesuai dengan daerah yang sudah dibayarkan. Kami meminta keadilan, gimana cara kami harus sesuai dengan yang sudah dibayar punya orang," kata Hasanuddin saat dikonfirmasi AJNN, Kamis (17/10).

Hasanuddin menyebutkan, harga yang ditawarkan saat ini ke daerah mereka baik yang masuk dalam pemukiman atau perkebunan berkisar antara Rp 75 ribu sampai Rp 81 ribu per meter. Sedangkan di daerah tetangga yakni Kecamatan Baitul Salam dan Darussalam harganya lebih tinggi.

Karena itu, pihaknya meminta penjelasan dari pihak terkait kenapa bisa seperti itu, atau memang ada kesalahan dalam proses penyampaian saat ini. Mengingat selisih wilayah tidak terlalu jauh.

"Kenapa seperti itu, selisih wilayah tidak terlalu jauh, bahkan kami dalam pemukiman sangat disayangkan harganya Rp 81 ribu juga. Kalau biasanya lebih Rp 300 per meter," ujarnya.

"Untuk itu kami meminta penjelasan dan meminta agar harus dinaikkan, atau diverifikasi kembali atau didata ulang. Harus dijelaskan kenapa bisa seperti itu," sambung Hasanuddin.

Hasanuddin juga menegaskan, disini mereka tidak menolak pembayaran pembebasan lahan untuk jalan tol tersebut. Tetapi minimal harga yang ditetapkan itu dapat disamakan dengan daerah lain yang sudah dibayarkan. Karena memang masih didaerah yang sama.

"Kami bukan menolak, tapi harus disesuaikanlah, dan penjelasan kenapa seperti itu," tutup Hasanuddin.

Komentar

Loading...