Unduh Aplikasi

Din Minimi Butuh Perhatian

Din Minimi Butuh Perhatian
BANDA ACEH - Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso mengatakan kelompok Nurdin bin Ismail bukan gerakan separatis. Gerakan mereka dipicu oleh ketidakpedulian Pemerintah Aceh terhadap sebagian besar bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Pemerintahan Aceh saat ini, baik di eksekutif maupun di legislatif, dipimpin oleh bekas kombatan GAM.

“Mereka juga bukan perampok atau kelompok kriminal. Mereka hanya tidak diperhatikan,” kata Sutiyoso di Lhokseumawe, Selasa (28/12) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Sutiyoso memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan didampingi oleh Deputi II Mayjen TNI Tamrin, Direktur 23 Brigjen TNI Zulfazdi Juni dan perwakilan Aceh Monitoring Mission Juha Christensen. Nama terakhir merupakan perwakilan Uni Eropa untuk perdamaian Aceh. Proses penyerahan diri ini sejak dua bulan lalu telah dilakukan.

Kepada Sutiyoso, Din Minimi mengajukan sejumlah permintaan. Yakni menuntut pemerintah melanjutkan program reintegrasi bekas kombatan, memperhatikan kesejahteraan semua bekas kombatan, memberikan santunan kepada semua janda korban konflik (inong bale) serta anak yatim korban konflik. Mereka juga meminta amnesti bagi yang akan diterima oleh sekitar 120 orang anggota Din Minimi. Baik yang menyerah maupun mereka yang di penjara.

Kelompok ini juga meminta peninjau Independen dalam Pemilihan Kepala Daerah 2017 untuk menghindarkan pemilihan dari aksi teror, intimidisai dan kriminal. Mereka juga meminta . Meminta agar KPK untuk turun ke Pemerintah Daerah Aceh dikarenakan adanya sesuatu hal yang tidak beres dalam pengelolaan anggaran daerah.

Namun tidak semua anggota Din Minimi menyerahkan diri. Tiga orang lainnya masih buron dan membawa senjata api. Namun Sutiyoso menegaskan, mereka bukan lagi bagian dari Din Minimi dan tidak berhak atas amnesti.

Dalam pertemuan itu, juga ditegaskan bahwa Din Minimi tidak terlibat dalam pembunuhan dua orang anggota Intel Kodim 0103/Aceh Utara beberapa waktu lalu. Pelaku, kata dia, adalah anggota Din Minimi yang memisahkan diri dari kelompok itu. Proses penyerahan diri kelompok ini dilaporkan ke Presiden Joko Widodo dan Menko Polhukam Luhut Panjaitan. Untuk urusan amnesti, BIN akan mengoordinasikannya kepada Komisi III DPR RI dan Menteri Hukum dan HAM.

Saat menyerahkan diri, Din Minimi menyerahkan juga 13 pucuk senjata laras panjang jenis AK, satu pistol FN, satu pucuk SS-1, satu pucuk pelontar granat
Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...