Unduh Aplikasi

Dikonfirmasi Soal Tudingan Berkompromi dengan PT LMR, Shabela Bungkam

Dikonfirmasi Soal Tudingan Berkompromi dengan PT LMR, Shabela Bungkam
Foto: Toskomi.com

BANDA ACEH - Gelombang penolakan terhadap aktifitas penambangan emas di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, terus berlanjut. Mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat dan aktivis lingkungan bersikukuh kegiatan penambangan itu mesti dihentikan, karena berpotensi merusak lingkungan.

Ketua Umum Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tengah (IPPEMATA), Sutris, kepada media ini mengatakan aksi penolakan terhadap tambang emas itu sudah dilakukan berulang kali. Namun, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, bergeming dan belum menentukan sikap apapun terkait persoalan tersebut.

Baca: Shabela Diduga Berkompromi dengan PT LMR

Menurutnya, aktifitas penambangan di Linge oleh perusahaan tambang emas PT Linge Mineral Resources (LMR), apabila dibiarkan akan meninggalkan sejumlah permasalahan baru, seperti tandusnya hutan, munculnya lubang hasil penggalian, sungai tercemar dan dikhawatirkan pula mengubah pola pertanian masyarakat.

Bahkan sebut Sutris, saham terbesar dari PT LMR tersebut dimiliki Barisan Gold Corporation asal Kanada dengan kepemilikan saham sebesar 80 persen. Selain itu, investasi asing itu juga disetujui secara sepihak oleh Pemkab Aceh Tengah, tanpa pernah sedikitpun mengabarkan adanya investasi perusahaan tambang emas di Linge kepada masyarakat.

"Kemudian, PT Atlas Mineral Exploration memiliki 12 persen Saham serta PT Bayu Kamana Karya sebanyak 8 persen Saham. Ini kan sudah mengangkangi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang mengatur kewenangan Pemerintahan Aceh," katanya.

Permasalahan lain yang terjadi di Linge, sebut Sutris, yaitu lahan perkebunan masyarakat dicaplok begitu saja. Pihaknya terkejut mengetahui areal kebun masyarakat masuk kedalam Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

"Izin eksplorasi Seluas 36. 420 Hektare. Dimana hati mereka, padahal di Linge itu ada situs sejarah urang Gayo dan awal peradabanya. Di Linge itu tempat sakralnya Urang Gayo” tutur Sutris.

Pihaknya juga menduga Bupati Shabela telah berkompromi dengan pihak perusahaan PT LMR tersebut. Hal ini dikarenakan sejak April lalu hingga saat ini Bupati Aceh Tengah itu, masih enggan membuka mulut untuk menolak kehadiran tambang PT LMR.

"Sehingga bungkam dan enggan menanggapi aspirasi rakyat Aceh Tengah terhadap penolakan tambang di Gayo," pungkasnya.

Dikonfirmasi AJNN, terkait tudingan mahasiswa ini Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar memilih bungkam dan diam seribu bahasa. Pesan WhatsApp yang dikirimkan AJNN sejak Kamis (3/10) pagi kemarin, hingga berita ini diturunkan belum juga dibalas, meski dua centang biru terlihat tanda pesan itu sudah dibaca.

Komentar

Loading...