Unduh Aplikasi

Difteri, Wabah Lama Bersemi Kembali

Difteri, Wabah Lama Bersemi Kembali
Deby Pranata, SKM. Foto: Ist

Oleh: Deby Pranata, SKM

Pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri di wilayah kabupaten/kota. Diantaranya Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Aceh, merupakan satu-satunya provinsi di republik ini yang pertama sekali mengasuransikan seluruh warganya agar mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Sejak program JKA diluncurkan pada 1 Juni 2010, Pemerintah Aceh menganggarkan ratusan miliar setiap tahun untuk memulihkan kesehatan masyarakat. Alokasi anggaran juga sangat besar yang diperuntukkan dalam mengelola pelayanan ksehatan di Provinsi Aceh.

Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat dan munculnya beragam jenis penyakit serta tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat, pengeluaran pemerintah untuk pengobatan kuratif ini akan terus meningkat. Fakta juga menunjukkan, sekitar dua per tiga pengeluaran JKRA tersita untuk mengobati penyakit penyakit yang sebetulnya bisa dihindari.

Kontroversi dan permasalahan imunisasi juga tak dapat di hindari di sebagian masyarakat Aceh hingga saat ini. Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektifitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti. Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya.

Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari lima tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar tujuh persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Masalah utama yang menghambat akses anak terhadap program vaksinasi adalah harga yang masih mahal serta kurang aktifnya petugas vaksinasi dalam menjangkau masyarakat. Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran ilmiah.
Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Bahkan terdapat kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan kelompok tertentu khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang sekelompok oknum pelaku naturopathy atau bisnis terapi herbal. Dalam tren dunia kesehaan modern bukan lagi soal pengobatan, tapi pencegahan. Banyak orangtua yang menyesali kelalaiannya ketika anak sakit. Beberapa waktu yang lalu, misalnya, orangtua panik karena banyak anak di Indonesia terkena difteri.

Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang mengerikan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.

Difteri bukanlah penyakit baru. Ia sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah mewabah di banyak negara. Ia juga disebut sebagai penyakit masa lalu sejak difteri diperkenalkan pada tahun 1920-an dan 1930-an. Namun, penyakit masa lalu ini bersemi kembali dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2016 tercatat 1 angka kematian anak yang disebabkan karena wabah difteri di aceh barat. Hingga 7 November 2017, jumlah pasien difteri di Aceh telah mencapai 90 orang. Dari jumlah itu, empat orang telah meninggal dunia dan empat lagi masih dirawat secara intensif di RSUZA Banda Aceh. Secara nasional Aceh menduduki ranking keempat dalam KLB difteri setelah Jawa Timur 271 kasus (11 kematian), Jawa Barat 95 kasus (10 kematian), dan Banten 91 kasus (5 kematian).

Setelah hampir satu dekade tidak muncul. Kini difteri kembali mewabah bumi Aceh, seolah ini merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang kian hari semakin memprihatinkan. Menurut Riskesdas 2017 dan 2013 kasus difteri adalah wabah lama dan umumnya menyerang anak-anak. Difteri telah berhasil diperangi indonesia pada 1990 saat program imunisasi digalakkan. Namum penyakit akibat infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan ini kembali hadir dan menjadi momok dalam kehidupan masyarakat aceh.

Kemunculan gerakan immunity gap, atas penolakan terhadap vaksin menyebabkan kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk. Padahal, dari data yang tercatat, ditemukan fakta bahwa 66 persen kasusnya timbul pada mereka yang tidak melakukan vaksin. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun media, pada tahun 2017 diketahui 12 kabupaten/kota yang warganya teinfeksi bakteri difteri di Aceh. Ialah Aceh Timur 18 orang, Pidie Jaya 14 orang, Banda Aceh 13 orang, Bireuen 11 orang, Aceh Utara 11 orang, Pidie enam orang, Aceh Besar enam orang, Aceh Barat empat orang, Lhokseumawe dua orang, Sabang dua orang, Aceh Selatan dan Aceh Tamiang satu orang.

Penderita penyakit Difteri disebabkan akibat tidak meratanya proses imunisasi di seluruh pelosok Aceh. Selain itu, orangtua juga menjadi penyebab karena tidak mau anaknya diimunisasi karena adanya pemikiran yang menyatakan vaksin imunisasi itu haram. Perlu kita sadari bersama bahwa satu-satunya cara untuk mencegah Difteri hanya dengan memberikan imunisasi. Kasus difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang seperti di aceh, di mana kesadaran akan pentingnya vaksinasi masih rendah. Difteri dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko.

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang dapat terkena difteri yaitu lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat, sistem imun yang lemah dan masalah sosial budaya yang bertentangan program imunisasi anak sehingga menimbulkan kontroversi dan permasalahan di lingkungan masyarakat aceh.

Sering kita jumpai bahwa orang tua menunda bahkan menolak anaknya di imunisasi lantaran keraguan terhadap keamanan imunisasi. Hal ini bisa dimengerti karena informasi yang tersebar mengenai dugaan efek samping imunisasi. Salah satu yang menjadi pertentangan adalah berita anak sakit atau bahkan meninggal setelah mendapatkan vaksin polio. Belum lagi kecurigaan imunisasi menyebabkan autism karena pengaruh vaksin palsu.

Sesuai dengan program organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia), pemerintah mewajibkan lima jenis imunisasi bagi anak-anak, yang disebut Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Sedangkan tujuh jenis lainnya dianjurkan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap beberapa jenis penyakit. Wajib itu artinya semua anak yang tinggal di Indonesia wajib diberikan lima jenis imunisasi untuk mencegah tujuh jenis penyakit. Meski penting, namun pemerintah tak mewajibkan semua jenis imunisasi. Hanya ada 5 jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada anak yaitu imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin), hepatitis B, DTP (Difteri Tetanus Pertusis), Polio, dan campak. Sedangkan imunisasi yang lain sifatnya hanya dianjurkan.

Jika sudah begini, siapa yang akan disalahakan. Disatu tenaga kesehatan sangat berperan penting mengingat kasus difteri ini merupakan wabah KLB. Disisi lain peran serta masyarakat juga menjadi faktor pendukung dalam penanggulangan kasus difteri di aceh saat ini. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir separuh wilayah Indonesia. Kita berharap agar kedepan wabah difteri serta kontroversi permasalahan imunisasi dalam masyarakat ini dapat ditanggulangi dengan baik melalui strategi promosi kesehatan dan program-program yang direncanakan pemerintah di tahun 2018 khususnya dibidang kesehatan.

Dengan melakukan upaya pencegahan, wabah penyakit difteri dapat ditanggulangi serta jumlah angka kematian pada anak yang disebabkan oleh penyakit ini juga akan mengalami penurunan. Untuk itu, kesadaran masyarakat terutama orang tua mengenai pentingnya pemberian vaksin Difteri kepada anakanak tentunya sangat diharapkan sebagai wujud kontribusi dalam memberantas penyakit difteri demi peningkatan mutu kesehatan masyarakat terutama anak-anak. Sehingga kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan.

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh.

Komentar

Loading...