Unduh Aplikasi

Diduga Tak Dilayani, Pasien di RSUDZA Terjatuh dari Kursi Roda

Diduga Tak Dilayani, Pasien di RSUDZA Terjatuh dari Kursi Roda
Pasien tergeletak di lantai karena diduga tidak mendapatkan pelayanan di ruang IGD RSUDZA. Foto: Ist

BANDA ACEH - Salah seorang pasien Rumah Sakit Umum Dokter Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Samsul Bahri (38), diduga tidak mendapatkan pelayanan yang baik ketika berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), Senin (10/12), dini hari.

Bahkan, pasien yang mengalami demam tinggi itu sempat jatuh ke lantai dari kursi roda yang berada di depan meja dokter, karena kondisi yang semakin lemas, namun belum juga mendapatkan pelayanan dari para perawat atau pun dokter.

Diketahui, Samsul Bahri merupakan abang kandung dari Sekretaris Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Fakhrurrazi. Pasien itu baru mendapatkan pelayanan setelah pihak keluarga marah dan memukul meja.

Fakhrurrazi yang juga berada di rumah sakit ketika kejadian mengaku sedih dan miris melihat kondisi pelayanan rumah sakit provinsi itu. Menurutnya, semua pasien harus diberikan pelaynanan yang baik.

"Benar-benar buruk saya lihat kondisi pelayanan rumah sakit itu, kejadian di depan mata saya sendiri, setelah saya pukul meja dan saya marah-marah, baru kemudian abang saya diberikan pelayanan," kata Razi--sapaan akrab Fakhrurrazi--kepada AJNN.

Pasien di RSUDZA tertidur di atas kuersi roda di Ruang IGD. Foto: Ist

Saat pertama kali tiba di rumah sakit, Razi mengaku sempat meminta bantuan kepada petugas pengamanan di IGD agar pasien mendapatkan penanganan dari dokter. Namun, sayangnya pasien juga tidak mendapatkan pelayanan, padahal kondisi pasien ketika tiba di rumah sakit sudah mulai kritis.

"Abang saja hampir setengah jam tergeletak di lantai, tapi tidak dilayani juga, dan hanya menjadi tontonan dari sekian banyak dokter di IGD. Sekarang abang saya masih dirawat di IGD," ungkapnya.

Ia menilai rumah sakit tersebut belum pantas mendapatkan penghargaan prestisius untuk pelayanan kesehatan di level nasional, yaitu predikat ‘Best of The Best’ atau terbaik dari yang terbaik untuk kategori RSUD tahun 2018. Apalagi sebelumnya juga telah meraih Akreditasi Paripurna lima bintang, yang diberikan oleh Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS).

“Jika seperti ini layanan yang diberikan untuk apa penghargaan setinggi langit, dan pemberian penghargaan sebesar itu patut dipertanyakan bagaimana cara mendapatkannya,” katanya.

Dari beberapa temuan YARA, kata Fakhrul, masih ada masalah di RSUDZA, terutama terkait pelayanan yang diberikan terhadap masyarakat Aceh yang terkesan tidak sepenuh hati dan masih jauh dari standar pelayanan yang baik.

“Untuk apa penghargaan jika hak-hak pasien diabaikan, rumah sakit ini pelayanannya menyangkut nyawa orang, bukan pelayanan mengurus KTP,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur RSUDZA, Azharuddin mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

"Maaf saya belum tahu, baru tahu dari WA ini, nanti akan dikabari melalui Humas RS ya, terima kasih. Kalau sudah selesai klarifikasi internal akan kami kabari segera siang ini," kata Azharuddin singkat kepada AJNN.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...