Unduh Aplikasi

Diduga Kualitas Benih Bantuan Pemerintah Tak Bagus, Petani di Aceh Besar Gagal Panen

Diduga Kualitas Benih Bantuan Pemerintah Tak Bagus, Petani di Aceh Besar Gagal Panen
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH – Puluhan hektare padi di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, mengalami gagal panen. Diduga, benih padi bantuan pemerintah tersebut tidak memiliki kualitas yang bagus sehingga tidak tahan cuaca panas.

Hal tersebut diketahui sesuai dengan hasil pantauan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) saat meninjau ratusan lahan sawah di Gampong Lam Ilie Teungoh, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Utara.

Ketua Komisi II DPRA, Nurzahri mengatakan ada dua kegiatan yang dilakukan di lokasi gampong tersebut, pertama program Pemerintah Aceh yaitu program IP300 dengan luasan areal 500 hektare, dalam program tersebut menggunakan jenis bibit Inpari 32.

“Hasil pantauan kami di lapangan terhadap kondisi tersebut ternyata ada 30 hektare yang gagal panen atau rusak berat, 25 persen rusak sedang dan 50 persen rusak ringan,” kata Nurzahri, Jumat (9/8).

Sambungnya lagi, sementara satu kegiatan lagi di gampong tersebut yakni, Program Kementrian Pusat dengan luas areal sawah sebesar lima hektare, dengan pengujian benih Inpari 32 dan Inpari 42, dan hasil pantauan hamper 75 persen gagal panen.

“Dari keterangan petani yang kami peroleh serta informasi dari kepala desa setempat, salah satu penyebab gagal panen adalah karena kualitas benih yang tidak bagus, karena tidak tahan cuaca panas, sementara sebagian lagi terkena hama wereng,” ungkapnya.

Lanjutnya, menurut keterangan yang pihaknya dapatkan dari penyuluh, bibit jenis inpari terutama inpari 32 tidak tahan cuaca panas karena asal bibit jenis itu dari luar daerah, walaupun sudah beberapa kali di uji coba di Aceh. Salah satu faktor utama karena kondisi Aceh memiliki cuaca yang cukup panas.

“Kami menyarankan agar ke depan, dinas terkait tidak lagi menggunakan bibit jenis inpari untuk pilot proyek Pemerintah Aceh, tetapi akan lebih bagus menggunakan jenis bibit lokal yang telah teruji sejak zaman dulu dan secara turun temurun telah digunakan oleh petani kita,” jelasnya.

Selaku Komisi II DPRA, pihaknya juga meminta kepada Kementrian Pertanian untuk bertanggungjawab terhadap keruguian yang dideroita oleh petani akibat pemaksaan pengguna bibit inpari 32 tersebut.

“Apalagi kerugian ini dihadapi ketika masyarakat menghadapi lebaran qurban dimana seharusnya para petani menikmati hasil panen untuk merayakan hari besar Islam,” pungkasnya.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...