Unduh Aplikasi

Dewan Aceh Jaya Temukan Proyek Irigasi Mubazir

Dewan Aceh Jaya Temukan Proyek Irigasi Mubazir
Wakil Ketua DPRK Aceh Jaya, T Asrizal (kiri) meninjau irigasi yang tidak berfungsi di Desa Paya Laot, Rabu (30/1/2019). Foto: Antara Aceh.

ACEH JAYA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Jaya menemukan proyek irigasi terbengkalai dan tidak difungsikan di Desa Paya Laot, sehingga dinilai mubazir.

Saat melakukan peninjauan, Wakil Ketua DPRk Aceh Jaya, T Asrizal, Rabu, melihat dua titik lokasi yang berada di desa yang sama, menemukan proyek irigasi yang dibangun tahun 2015 terbelangkalai dan tidak difungsikan.

T. Asrizal menyampaikan, hasil tinjauan pertama di salah satu irigasi yang dibangun pada tahun 2018 dengan anggaran DAK sudah dapat dimanfaatkan seadanya namun secara kualitas masih jauh di bawah standard, sehingga harus di sisip kembali.

Namun, kata Asrizal pada tinjaun irigasi ke dua yang dibangun pada tahun 2015 memang tidak bisadi fungsikan sama sekali oleh masyarakat karena memang tidak ada debit air yang cukup.

"Kalau pada irigasi yang dibangun tahun 2015 memang tidak berfungsi sama sekali, dan kami rasa memang ini ada kelemahan diperencanaan," ungkapnya.

Langkah pertama ini menjadi pengalaman dalam hal perencanaan meskipun sudah sangat banyak irigasi yang dibangun di Aceh jaya ini memang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Seluruh irigasi yang dibangun di Aceh Jaya memang tidak berfungsi sebagai mestinya, banyak kelemahan-kelemahan yang kita lihat seperti perencanaan awal dan pengawasan sehingga nampak dibangun asal jadi saja," ujar dia.

Ia menyampaikan bahwa dengan adanya kejadian seperti ini Aceh Jaya membutuhkan sumber daya manusia yang tinggi dan benar seperti disampaikan oleh masyarakat yang berkembang selama ini perlu dievaluasi kinerjanya.

"Apakah ini lemah SDM di dinasnnya ini perlu dievaluasi," tuturnya.

Asrizal menyampaikan bahwa memang irigasi di Desa Paya Laot tersebut tidak dikatakan tumpang tindih namun termasuk proyek yang merugikan negara, karena perencanaan yang tidak maksimal.

"Sebenarnya, kalau konsultan perencanaan memang paham betul dengan kondisi debit air yang ada, maka otomatis tidak akan dibangun di tempat tersebut," ujar dia.

"Ini langkah pertama kita untuk tidak terjadi lagi ke depan dan dinasnya tidak bekerja asal-asal," katanya.

Sementara itu, Ketua kelompok tani, Muahammad Rizal menyatakan, memang sejak dibangun pada tahun 2015 irigasi tersebut tidak berfungsi dengan baik.

"Kalau ada hujan ada airnya, kalau tidak ada hujan tidak ada air. Memang sejak dibangun begitu, debit air ada namun tidak mencukupi," jelas dia.

Ia menuturkan, selama ini pihaknya hanya menunggu tadah hujan untuk petani padi di kawasan tersebut.

"Kami berharap irigasi yang dibangun saat ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya," harapnya.

Data yang diterima Antara dari dinas terkait bahwa pembangunan irigasi di Desa Paya Laot pada tahun 2018 dari dana DAK dengan anggaran Rp1,4 miliar dan irigasi yang dibangun tahun 2015 dari DAK tambahan dengan besar anggaran Rp1,5 miliar.

Komentar

Loading...