Unduh Aplikasi

Debat Kamala Harris vs Mike Pence

Debat Kamala Harris vs Mike Pence
Saifuddin Bantasyam. Foto: Ist

Oleh: Saifuddin Bantasyam 

Rabu malam kemarin, atau Kamis pagi tadi pukul 08.00-09.30 WIB, berlangsung debat calon Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris dengan Mike Pence. Kamala (mewakili Partai Demokrat, seorang pengacara) merupakan senator kelahiran California dari seorang Ibu orang India dan ayah berasal dari Jamaika. Sedangkan Mike Pence (Partai Republik) adalah Wakil Presiden AS saat ini, kelahiran Columbus, Indiana, AS dan pernah menjabat sebagai  sebagai Gubernur negara bagian Indiana 2013 hingga 2017. Pence merupakan anggota dari Partai Republik mewakili Indiana di DPR sejak 2001 hingga 2003.
 
Latar mereka yang kontras itu sangat menarik perhatian publik sejak dari awal masa pencalonan sampai dengan sehari menjelang debat berlangsung. Siapa yang paling jago dalam debat? Akankah Harris yang dikesankan sangat kuat sisi intelektualnya akan  membuat Pence “mati kutu?” Atau, akankah Pence yang sarat pengalaman sebagai gubernur dan kini wapres petahana, mampu menghancurkan reputasi Harris yang mendampingi Joe Biden dalam pemilihan presiden AS pada 2 November nanti? Itu pertanyaan yang banyak muncul disertai dengan berbagai ulasan, termasuk oleh jaringan televisi BBC dan CNN.
 
Kondisi Donald Trump yang positif Covid-19, menambah ketegangan dalam pilpres AS kali ini. Akankah Pence tertekan, khususnya karena kemungkinan Trump tak bisa tampil dalam debat kedua nanti, yang berarti debat cawapres ini menjadi penting dalam hal pengumpulan suara? Dengan kata lain, jika dirinya terjungkal dalam debat cawapres ini, maka Trump dan dia akan sama-samat tamat. Situasi ini tak mudah bagi Pence. 

Ekspektasi Publik

Ekspektasi publik terhadap debat yang berkualitas membayangi penampilan kedua mereka. Hal ini disebabkan karena debat Trump vs Joe Biden pertengahan minggu lalu, dianggap salah satu debat terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah debat capres di AS. Dalam debat itu, moderator dibuat mati kutu, Trump tak pernah berhenti menyela, atau menginterupsi. Biden pun terpancing untuk membalasanya. 

Saya berpikir bahwa baik Harris maupun Pence sadar tentang ekspektasi publik tersebut saat melangkah masuk ke dalam ruang debat. Tetapi, benarkah mereka sungguh-sungguh sadar? Untuk Harris, saya katakan “ya.” Dia sangat menyadari bahwa hasil pada 2 November nanti, antara lain tergantung pada penampilannya dalam debat. Sedangkan dari sisi Pence, sepertinya dia hadir ke dalam ruangan karena harus hadir. 

Saya menonton debat dari awal sampai akhir di rumah melalui chanel CNN. Kesan saya, Harris jauh lebih siap dari segi penampilan secara fisik, lebih energik, sempat juga melemparkan senyum beberapa kali, terlihat sangat rileks. Ini beda dengan Pence, yang sepertinya “sengaja” menyembunyikan siapa dirinya dalam debat itu, tak pernah mau memberi senyum selebar senyum Harris, dan terlihat sangat serius, mungkin karena sedang menjabat sebagai wapres. 

Harris lebih sabar dengan misalnya tak terlalu mempermasalahkan Pence yang sangat sering bicara melebihi waktu yang disediakan, juga tak melakukan protes kepada Susan Page (wartawan USA Today) yang bertindak sebagai moderator. Namun, beberapa kali Harris berani menunjukkan rasa percaya diri yang kuat, misalnya dengan mengulang kata “I am speaking” kepada Pence yang sering menginterupsi Harris, sedemikian rupa Harris menyampaikan protesnya,  sampai-sampai  “I am speaking”  menjadi trending di media sosial di Negeri Paman Sam itu. Biden, saat memprotes Trump dalam debat, mengucapkan kata “Hi man, can you shut up?” 

Substansi 
  
Posisi Pence sebagai wapres petahana memang rentan dari serangan. Ini hukum yang universal termasuk di Indonesia, bahkan juga untuk pemilihan gubernur, bupati dan wali kota bersama dengan wakil-wakilnya. Saya pikir, Pence sadar, sesadar tentang betapa kontroversialnya bosnya, Trump, selama empat tahun belakangan ini. “Ini menjadi sasaran tembak Harris,” mungkin begitu dalam pikiran Pence, yang tentu kemudian harus berpikir bagaimana keluar dari jalur tembakan itu.
 
Akan halnya Harris, dia relatif kurang memiliki beban atas serangan-serangan tertentu yang bersifat khusus dari Pence. Apalagi hasil polling debat capres, Biden disebut unggul beberapa poin dibanding Trump. Tinggal kemudian mencoba menerka-nerka apa gerangan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan Susan. 
 
Lalu saat dimulai, mungkin Harris langsung merasa di atas angin saat pertanyaan pada bagian awal adalah tentang Covid-19. “What would a Biden administration do to control coronavirus that a Trump administration wouldn’t?” (Apa yang akan dilakukan pemerintahan Biden untuk mengendalikan virus korona yang tidak akan dilakukan oleh pemerintahan Trump) Juga, “why is the U.S. death toll higher than any other wealthy country? (mengapa angka kematian AS lebih tinggi daripada negara kaya lainnya). Berikutnya, “How can you expect Americans to follow safety guidelines when weren’t followed at the White House? (Bagaimana Anda bisa mengharapkan orang Amerika mengikuti pedoman keselamatan saat tidak diikuti di Gedung Putih). Kemudian, “Is detailed information about the the president’s health something voters deserve to know?(Apakah informasi terperinci tentang kesehatan presiden adalah sesuatu yang pantas diketahui oleh para pemilih). 
 
CNN tampaknya “membantu” Harris. Saya katakan demikian karena tak hanya Harris yang sudah tahu jawaban (dan akan mudah menjawab) pertanyaan-pertanyaan  tersebut,  melainkan juga warga biasa pun bisa menjawabnya. Hal ini tak lain tak bukan karena angka kematian karena Covid-19 yang mencapai 200 ribu lebih dan jutaan yang terinfeksi menandakan ada yang salah dengan cara Trump menangani pandemi itu. 
 
Demikian juga sikap Trump sendiri terhadap Covid-19 yang digolongkan sebagai “covid denial” alias tak percaya corona, dan berulang menyebut virus itu dibuat oleh China. Saking tak percaya pada Covid-19, Trump tak mewajibkan masker kepada pegawai gedung  putih. Dirinya pun ogah-ogahan pakai masker, bahkan saat masuk ke Gedung Putih setiba dari rumah sakit, Trump melepaskan maskernya, seperti sengaja menunjukkan kepada rakyat, “I don’t want to wear a mask.” (Saya tidak ingin memakai topeng). 

Dalam pemikiran saya, Tump sudah menyediakan  jawaban atas beberapa pertanyaan di atas. Harris hanya perlu menyampaikan jawaban-jawaban itu dengan bahasanya sendiri. Termasuk pertanyaan tentang informasi mengenai kesehatan presiden. Gedung Putih sepertinya berusaha menyembunyikan kepada publik tentang kondisi Trump setelah debat dengan Joe Biden. Gedung Putih membuat pernyataan bahwa Trump baik-baik saja, tetapi ternyata hari Jumat harus dibawa ke rumah sakit. Harris mengatakan setuju bahwa informasi kesehatan kepala negara harus diketahui oleh rakyat, sedangkan Pence agak berputar dalam menjawab. 

Tetapi terhadap beberapa pertanyaan lain, keduanya seperti tak mau atau tak mampu menjawab. Kalaupun menjawab, maka mereka melakukannya secara tak langsung, dengan cara  main-main di pinggiran. BBC dan CNN membahas situasi aneh ini dengan beberapa pakar. Beberapa media di AS pun melakukan hal serupa. Menurut mereka, rakyat AS sesungguhnya sangat menunggu jawaban atas seluruh pertanyaan, tetapi apa yang terjadi adalah di luar harapan.
 
Akan kita berpikir bahwa kalau kita dalam posisi Trump dan Biden, atau Pence dan Harris, atau mencalonkan diri sebagai gubernur/calon wakil, bupati/wali kota, kita akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan moderator?  Saran saya hanya satu: “please don’t!”  Jangan berpikir mudah saat debat berlangsung. Debat Trump dan Biden serta Pence dan Harris sudah membuktikan ketidakmudahan itu. 

Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...