Unduh Aplikasi

Dear Haters

<i>Dear Haters</i>
Ilustrasi: Fotolia

TERLALU naif jika urusan Qanun Lembaga Keuangan Syariah dibenturkan dengan buruknya layanan perbankan syariah. Apalagi hanya urusan tarik atau setor uang dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM). 

Menolak pelaksanaan qanun itu sama seperti membandingkan celah dinding yang retak dengan jurang menganga di Palung Mariana; tak sebanding. Bahkan alasan sejumlah orang yang menolak pelaksanaan qanun ini terbilang mengada-ada. 

Para haters, sejak awal Qanun LKS ini akan dilaksanakan, gencar melakukan perlawanan. Mereka mencoba menggiring opini bahwa di Aceh harus ada juga bank konvensional yang beroperasi beriringan dengan bank syariah. 

Mereka juga terus mengungkit-ungkit kelemahan perbankan dan mengaitkan hal itu dengan ketidaklayakan pemberlakukan Qanun LKS. Seribu alasan diumbar, mulai dari kesulitan menarik uang sampai sulitnya bertransaksi ke luar negeri. 

Yang dilupakan para haters Qanun LKS ini adalah perbankan syariah itu adalah sebuah keniscayaan. Dan di Aceh, ini menjadi identitas yang membantu menyempurnakan pelaksanaan syariah Islam di Aceh. 

Ada andil Gubernur Aceh Zaini Abdullah di sini, itu jelas. Ada nama-nama penting lain yang juga berkontribusi untuk mewujudkan pembentukan qanun ini, itu juga tak bisa dipungkiri. Namun yang paling penting adalah qanun ini adalah sebuah pengejawantahan pelaksanaan syariat Islam yang ada di Aceh. Dan itu semua merupakan wajah warga Aceh. 
 
Kita tidak sedang menuhankan syariah Islam dan perbankan syariah. Karena memang, dalam praktiknya, masih banyak kekurangan. Pelayanan Bank Aceh Syariah dan Bank Syariah Indonesia, juga masih jauh dari ideal. 

Namun ini semua adalah proses. Teknologi dan dunia keuangan syariah, tidak hanya di Indonesia dan Aceh, juga terus berjalan mencari kesempurnaan. Dan Aceh, berada di atas rel yang tepat untuk mengantarkan sebuah sistem perbankan yang diyakini sebagian besar musli, yang menjadi penduduk di negeri ini, lebih baik dari sistem yang lama. 

Sebagai pengguna jasa, tentu warga Aceh berhak mengkritik layanan yang belum sempurna ini. Kritik ini adalah bentuk dorongan agar perbankan syariah juga memiliki layanan bisa dibanggakan dan diandalkan; alias tidak bikin susah. 

Para petinggi perbankan, juga Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, jangan menganggap ini sebuah kenyinyiran. Untuk para pembenci, anak sekarang bilang: haters, atau yang mencoba mencari keuntungan pribadi dari celah ini, kalian harus berusaha lebih keras untuk menggagalkan pelaksanaan qanun ini.

Komentar

Loading...