Unduh Aplikasi

Darwin Z, Perajin Rotan Beromzet Puluhan Juta

Darwin Z, Perajin Rotan Beromzet Puluhan Juta
Darwin Z perajin industri rotan di Desa Keude Bieng, Kecamatan Lhok Ngan, Aceh Besar. Foto: AJNN/ Indra Wijaya

BANDA ACEH - Selain menyediakan lapangan pekerjaan, keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) telah berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Meski di tengah pandemi, UMKM juga menjadi motor penggerak perputaran ekonomi suatu daerah.

Darwin Z (47) misalnya, Pperajin industri rotan di Desa Keude Bieng, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar. Ia bersama istrinya Aminah (43) menjalankan bisnis keluarga sejak tahun 90-an.

Ia mengaku, saat libur natal dan tahun baru, ia mengantongi omzet  hingga Rp50 juta dalam seminggu.

"Karena kan banyak wisatawan dari luar daerah, jadi sehari itu laku barang kita 15 buah bahkan lebih," kata Darwin saat ditemui AjNN, Sabtu (30/1/2021).

Tangannya terampil mencocokkan satu persatu potongan rotan. Tudung saji yang akan ia buat. Potongan-potongan kecil rotan bertaburan di bawah kakinya. Kira-Kanan tampak kerajinan rotan berupa tas, tudung saji dan vas bunga telah siap jual.

Meski pandemi, tak membuat usahanya terpuruk begitu jauh. Produksi kerajinan rotan itu rutin terus ia ciptakan bersama istrinya. Di dalam tokonya, puluhan jenis kerajinan sudah tergantung. Motifnya pun berbeda. Mulai dari kursi, tas, tudung, vas bunga dan berbagai macam ornamen penghias ruangan lainnya.

Harga jualnya bervariasi. Mulai dari harga ratusan hingga jutaan. Rata-rata peminat kerajinan rotan milik Darwin pun dari luar daerah. Untuk warga lokal peminatnya belum terlalu banyak.

"Kalau langganan sih rata dari luar daerah seperti Jakarta, Medan, Palembang dan Lampung," ucapnya.

Industri rotan yang sudah generasi ke empat itu tetap eksis hingga sekarang. Untuk bahan bakunya sendiri ia lebih memilih rotan lokal seperti dari daerah Simeulue, dan sejumlah wilayah di Aceh. Menurutnya rotan lokal tak kalah bagus kualitasnya dibandingkan rotal dari luar Aceh.

Dalam seharinya juga ia mampu mampu menghasilkan 50 jenis kerajinan rotan seperti tudung saji, tempat bola lampu, tempat kue, tempat ikan, keranjang parsel, keranjang buah, tas, koper, dan berbagai produk rumah tangga lainnya. Total ada 15 tenaga kerja tetap yang mendukung produksi kerajinan. Saat terjadi lonjakan permintaan, Ia memberdayakan warga di sekitar usahanya untuk ikut membantu proses produksi. Jumlahnya bisa mencapai 10 orang.

"Tergantung jenis permintaan dari pembeli," ujarnya.

Ditempatnya juga menerima pesanan sesuai keinginan pembeli. Namun, paling banyak ia menerima pesanan seperti pot bunga, tudung saji, dan kursi. 

Ia mengatakan, usaha kerajinan rotan seperti ini juga untungnya tak selalu seperti yang diinginkan. Penjualan paling tinggi itu hanya masa liburan saja. Jika hari-hari biasa, ia hanya mampu menjual satu sampai dua kerajinan saja. Bahkan pernah tak ada pembeli sama sekali.

Meski begitu, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, omzet yang ia terima tahun ini lebih tinggi daripada tahun sebelumnya. Jika dulu ia hanya mengantongi Rp20-Rp30 juta saja, kini saat libur Nataru ia mengantongi omzet Rp50 juta.

Ia berharap kepada pemerintah, pegiat UMKM seperti yang ia lakoni sekarang agar lebih diperhatikan. Produk lokal lebih dikedepankan dari pada produk luar.

"Kita perajinnya banyak di Aceh. Ngapain beli di luar. Mulai daeri kue, perajin dan semuarnya kita ada. Pemerintah harus mengedepankan produk lokal dari pada produk luar," pungkasnya.

Komentar

Loading...