Unduh Aplikasi

Dari Penjara ke Penjara

Dari Penjara ke Penjara
ilustrasi

SAH-sah saja bila Kementerian Kehakiman memindahkan 58 narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A, Banda Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar ke Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara.

Mereka merupakan napi yang ikut serta mendukung Gunawan, terpidana kasus narkoba, saat merusak sebagian ruangan lapas pada 4 Januari 2018. Mereka merupakan napi yang terlibat narkoba dengan masa tahanan yang berbeda-beda.

Selain 58 narapidana tersebut, 16 narapidana lainnya masih ditahan pihak Kepolisian termasuk tiga pelaku utama, mereka adalah Gunawan, Bahtiar dan Muhammad.

Namun pernyataan seorang pejabat di kementerian itu yang mengatakan selama ini di Lambaro, seorang narapidana bebas keluar masuk tanpa seorang pun petugas sipir yang mampu mencegahnya jelas menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya, apakah memang negara punya kuasa mengendalikan para narapidana atau malah sebaliknya; mereka yang mengendalikan?

Termasuk para sipir yang malah bersekutu dengan narapidana. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang merusak sistem dan mendorong perlawanan terhadap aparatur negara.

Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah jaminan dari kementerian bahwa kerusuhan dan fasilitas mewah di dalam penjara tak lagi terulang. Tidak di Lambaro, tidak juga di Tanjung Gusta.

Negara, sekali lagi, tak boleh kalah dengan para penjahat. Aparatur negara yang tak mampu mengerjakan tugas-tugas mereka harus dievaluasi jika perlu diberikan sanksi tegas. Masih banyak orang yang berdedikasi untuk dipekerjakan. Pemindahan itu jangan hanya memindahkan masalah.

Komentar

Loading...