Unduh Aplikasi

KHAZANAH

Darah Aceh (2)

Darah Aceh (2)
Pendaratan pertama Belanda di Aceh. Foto: int

Jika orang Aceh tersinggung, nasi tinggal (sisa makan) pun tak ditawari. Tapi bila tak tersinggung, buah zakar mereka pun boleh dipegang.

Menurut Rusdi Sufi, masyarakat Aceh memiliki beberapa karakteristik khas yaitu, gemar memberi salam. Salah satu ciri khas etnis Aceh, mungkin juga suku bangsa lain di Indonesia, memberi salam ketika bertamu ke tempat seseorang belum dikenalnya. Sebelum dia memasuki rumah orang lain, terlebih dahulu menyapa penghuninya dengan ucapan assalamualaikum. Ini adalah sikap hidup yang diajarkan Nabi Muhammad saw kepada umatnya.

Karena Islam itu damai, setiap pemeluknya dianjurkan hidup berdamai sesamanya. Menjawab salam ini wajib hukumnya. Jika ucapan salam tidak dijawab karena penghuni tidak ada di rumah, misalnya, untuk menghindari fitnah tamu tadi tidak masuk ke rumah dan segera beranjak. Dan lagi, tidak menjadi kebiasaan tamu atau pemuda di Aceh bertamu kepada seorang gadis di rumahnya, baik ada atau pun tidak ada orang tua si gadis di rumah.

Tidak pula termasuk adat istiadat di Aceh, seorang gadis atau pemuda mengurus sendiri perkawinannya tanpa melalui seulangkee atau penghubung yang diatur orang tua si pemuda itu untuk menghubungi pihak si gadis. Tegasnya, tidaklah biasa seorang gadis memulai menyatakan kehendaknya untuk kawin. Hal ini tercermin dalam ungkapan Aceh: hana mon mita tima. Artinya: “Tidak ada sumur yang mencari timba.”

Ada hal tabu dan pantang bagi seorang menantu, baik laki-laki maupun perempuan, bergaul dengan mertuanya seperti ia bergaul sesama kawannya tanpa megindahkan tata cara sewajarnya dengan orang tua yang patut dihormatinya. Hal ini tidak pantas karena dianggap bertentangan dengan perasaan malu. Dalam kehidupan Islam, malu adalah sebagian dari iman.

Tangan kiri atau kaki: Seorang Aceh tidak menyerahkan, menerima sesuatu atau mengimbau seseorang dengan tangan kirinya, baik berkelakar apalagi bersungguh-sungguh. Tangan kiri dianggap tidak sopan karena kegunaannya membersihkan bahagian tubuh setelah membuang hajat besar. Demikian juga dengan memegang kepala. Kepala merupakan bagian tubuh ditakdirkan Tuhan berada di posisi paling atas. Di situ dipusatkan indera-indera terpenting seperti otak, mata, telinga, mulut dan lidah untuk berhubungan dengan organ-organ tubuh penting lainnya ke bawah. Dalam pandangan orang Aceh, memegang atau mengambil penutup kepala yang sedang dikenakan, baik disengaja atau berkelakar, adalah hal terlarang.

Masyarakat Aceh juga, sebagaimana ajaran Islam, menaruh rasa hormat tinggi kepada mereka yang memiliki usia lebih tua. Tua di sini dimaksudkan seseorang lebih lama hidup dan berpengalaman, lebih bijaksana dalam tindak-tanduknya dibandingkan seseorang berusia muda. Hal ini tidak berarti pemuda bergelar sarjana dipandang tidak terhormat. Semua bisa dilihat dan dirasakan dalam pergaulan sehari-hari.

Jiran atau tetangga juga mendapatkan tempat khusus dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Bahkan jika mereka berbeda keyakinan beragama. Karena itu, orang Aceh tidak merasakan asing jika ia berdiam dekat seseorang berlainan suku bangsa atau agama dianutnya. Dia dapat merasakan hubungan kekeluargaan mesra dengan jiran dalam batas pandangan-pandangan hidupnya. Orang Aceh merasa rendah hidupnya apabila dia berseteru dengan jiran atau tetangganya.

Karena cara hidup orang Aceh terjalin unsur-unsur agama Islam, maka pada prinsipnya, orang Aceh menaruh rasa damai hati siapapun, sejauh dia tidak dipandang remeh atau dihina oleh golongan lain. Makna salam diucapkan setiap bertamu dan berpisah, di mana pun tempatnya, merupakan ajaran seorang Aceh untuk hidup damai dengan segala makhluk Allah di muka bumi ini.

Prinsip hidup ini berlaku sejak perang Belanda. Aceh diperangi Belanda walaupun Belanda boleh saja mengemukakan beragam alasan mengapa ia memerangi Aceh. Tetapi, jelas sikap Belanda tidak dapat ditolerir karena merusak sikap hidup orang Aceh yang selalu ingin hidup damai. Karena sikap itu, akhirnya orang Aceh menyebut orang Belanda dengan istilah khape atau kafir karena memerangi Aceh.

Orang memerangi orang lain yang beragama Islam, oleh orang Aceh pada masa itu di anggap kafir. Orang seagama sajalah yang tidak mau memerangi sesamanya. Karena itu, melawan orang semacam ini merupakan prinsip hidup utama orang Aceh. Mereka akan melawan sekuat tenaga tanpa memperhitungkan untung ruginya demi tercapai batas waktu memungkinkan bagi mereka damai kembali. Kendati peperangan Belanda di Aceh berakhir, pendudukan oleh Belanda usai, orang-orang tua Aceh tidak merasa mereka kalah dari lawannya.

Dalam pandangan orang Aceh, taloe atau kalah merupakan hal negatif. Jika dia merasa taloe atau tersisih dari suatu pergaulan masyarakat, maka dia ke luar dari kampungnya dan pergi berdiam di tempat lain—tempat orang belum mengenal dirinya—agar dia dapat hidup terhormat kembali. Karena itu, prinsip hidup berdamai sangat penting bagi seorang Aceh, suatu sikap yang dipertahankan secara sungguh-sungguh. Setiap sengketa di kampung Aceh selalu dibawa kepada titik perdamaian dilakukan kepala kampung bersama anggota-anggota pemerintah kampung itu.

Sejak lama pula kehidupan sosial di Aceh memiliki hirarki tersendiri. Di Aceh, kepala kampung dinamakan keuchik. Maksudnya, seseorang dituakan memimpin kampung kendati usianya muda, tetap disebut lebih tua daripada orangtuanya sendiri (keuchik=ku-chik=leubeh chik nibak ku) dan disebut eumbah artinya ayah, sedangkan teungku gampong atau pengawas agama di kampung disebut ma atau ibu kampung. Tegasnya keuchik atau teungku merupakan dwitunggal kampung yang bersama-sama penasihatnya disebut tuha peut atau tetua empat mengatur keamanan, ketentraman, dan kebaikan di kampung.

Sehubungan prinsip hidup damai itu, dalam penghidupan orang Aceh dikenal ucapan berbunyi; sihet bek rho bah habeh maksudnya; miring jangan tumpah biarlah. Artinya daripada miring-miring atau tanggung-tanggung, biarlah tumpah atau sungguh-sungguh sekali asal tidak sampai malu. Prinsip hidup ini mengartikan orang Aceh hanya mengenal sahabat setia, sahabat benar-benar seperasaan dan sependeritaan dengannya. Untuk sahabat sedemikian ia rela mengorbankan apa saja, jika perlu nyawapun dikorbankan.

Namun Aceh juga menyimpan cerita dendam. Dalam buku-buku karangan Belanda masa lalu, tercatat cerita tentang sifat mendendam orang Aceh . Gambaran ini sebenarnya keliru. Orang Aceh sesuai ajaran agama dianutnya, sesungguhnya, hanya mengenal kata tueng bila, maksudnya menuntut bela. Seorang Aceh menuntut bela atas setiap kerugian dideritanya.

Menuntut bela menurut Islam adalah wajib. Tetapi, karena prinsip hidup orang Aceh lebih menyukai damai, menjadi tugas bagi eumbah dan ma di kampung sebagai tokoh-tokoh berwibawa untuk betindak. Tujuannya agar semua persoalan sengketa dinetralkan kembali di dalam pergaulan masyarakat di kampung itu.

Dalam bahasa Aceh ada perkataan dendam di sebut dam. Tetapi, penggunaannya sangat negatif. Jadi, jika dalam praktik terjadi penyimpangan daripada yang disebut di atas, berarti orang itu tidak memahami prinsip hidupnya sebagai seorang Aceh.

Dalam urusan pergaulan, orang-orang Aceh juga mendapatkan tempat tersendiri dalam komunitas yang berada di luar Aceh. Jika menilik dari sikap yang yang dijelaskan di bagian awal, jelas bahwa orang Aceh tidak memiliki masalah dan bukan menjadi masalah saat berasimilasi dengan orang di luar sukunya. Demikian juga di daerah sendiri. Sikap hidup ini sudah ada dalam darah setiap orang Aceh jika diingat orang Aceh merupakan percampuran darah bangsa-bangsa besar dunia.

Karena dalam pergaulan masyarakat Aceh, nilai-nilai kekeluargaan adalah sebuah keutamaan. Ketika sebuah kaum mempertahankan kelangsungan hidupnya, keluarga mempunyai arti sangat penting. Peperangan antara satu daerah dengan daerah lain membuat setiap keluarga amat menonjol dan bertanggung-jawab antara satu dengan lain. Menurut asal-usulnya bangsa Aceh itu terdiri atas empat kaum atau suku.

Prinsip hidup mencintai keluarga seperti pada masa dahulu sampai sekarang masih dipegang kuat di manapun orang Aceh berada. Karena itu, apabila seseorang yang lama berada di luar daerahnya pulang kampung dan mendapat undangan jamuan makan seadanya dari sanak keluarga di sekitar kampung, tak elok rasanya menolak tawaran tersebut. Menolak jamuan itu berarti melanggar adat. Penolakan membuat orang yang mengundang merasa rendah dalam pandangan umum. Mohsa el Ramadan

Komentar

Loading...