KHASANAH

Darah Aceh (1)

Darah Aceh (1)
Pendaratan pertama Belanda di Aceh. Foto: int

Jika orang Aceh tersinggung, nasi tinggal (sisa makan) pun tak ditawari. Tapi bila tak tersinggung, buah zakar mereka pun boleh dipegang.

Muhammad Tewe adalah seorang seniman asal Lampung, propinsi di ujung timur Sumatera. Namun dia merekam setiap gerak pergolakan masyarakat di Aceh, negeri di ujung barat. Dia berujar, "Aceh lahir dari sebait puisi. Jika ingin menaklukkan Aceh,” kata dia, “sentuhlah batin mereka dengan ruh spiritual dan religius. Bukan bedil dan kekerasan. Orang Aceh adalah manusia yang hidup, terasuh, dan terasah dentingan hikayat perang. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, syair perang dikumandangkan, melantun tiada berhenti.”

Kata-kata itu masih terekam jelas dalam ingatan meski disampaikan lebih 10 tahun silam di Jakarta. Karena memang jejak perjalanan Aceh tak lepas dari cerita duka. Persis seperti rentakan Krueng Daroy yang airnya membelah dan mengaliri Istana Raja Iskandar Muda yang kini disulap menjadi Pendopo Gubernur Aceh.

Memang, sejak ratusan tahun silam, tak seorang sanggup meramalkan kapan air Krueng Daroy berhenti mengalir, seperti kisah pergolakan dan derita orang Aceh: hidup, terpelihara, dan bernyawa. Itulah budaya Aceh. Bagi mereka, jika dimulai, perang dan memanggul senjata merupakan pertaruhan harga diri. Tidak ada istilah menyerah, apalagi kalah dalam mempertahankan hak-hak hidup mereka.

Bagi orang Aceh, mati mempertahankan hak-haknya lebih terhormat ketimbang menyerah dan kalah. Jika kalah tak terhindari, orang Aceh lebih memilih pergi dan ke luar kampung karena menanggung malu tiada terkira. Sebab, sejak dalam buaian, lelaki dan perempuan Aceh disuguhi hikayat perang; sepenggal kisah tentang heroisme dan militansi dalam garis keturunan Aceh.

Profesor Teuku Djuned adalah seorang ilmuwan Aceh. Dia tercatat sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH Unsyiah). Dalam sebuah kesempatan, dia berkisah tentang pengaruh Islam di Aceh jauh sebelum penjajah Belanda masuk datang. Pengaruh Islam mewarnai seluruh aspek kehidupan masyarakat. Roda pemerintahan, keputusan-keputusan hukum, kebijakan politik dan ekonomi, serta kesenian dan hal-hal bersifat pribadi. Singkat kata, Islam adalah nadi kehidupan masyarakat Aceh.

Pada masa itu, Aceh tak ubahnya seperti miniatur kehidupan masyarakat di Jazirah Arab. Kedekatan inilah yang mendasari Aceh dijuluki Serambi Mekah. Di sini, nilai Islam bukan sekadar dogma di dalam Alquran dan Hadis. Kata Djuned, ruh Islam menjelma dalam perkataan dan perbuatan orang Aceh. “Of the world religions, Islam is found here and professed of all achehnese,” kata Djuned mengutip Van Vollenhoven (1981:55).

Pemerintahan Aceh saat itu dipimpin oleh kesultanan. Puncak kejayaan kerajaan Aceh dicapai masa kesultanan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan Aceh ini kesohor, disegani, dan ditakuti oleh Kerajaan Melayu, Portugis dan Belanda karena memiliki ratusan ribu tentara. Saat itu, sedikitnya 600 kapal perang dan ribuan persenjataan militer melengkapi armada perang Kesultanan Aceh. Ini jelas membuat keder lawan-lawan.

Kesultanan menggunakan ulama-ulama besar sebagai penasehat pemerintahannya. Iskandar Muda mengangkat Syekh Abdurrauf sebagai mufti kerajaan Aceh Darussalam pada 1042 Hijriah.“Banyak ulama berbagai negara dan murid-murid berbagai daerah di nusantara datang belajar kepada Syekh Abdurrauf (Imam Maulana Abdul Manaf Al Amin),” cerita Djuned melansir sejarah. Kerajaan sangat konsisten mengembangkan agama Islam di Aceh. Sebagai pusat pengembangan, kesultanan membangun masjid-masjid di seluruh penjuru. Satu di antaranya adalah Beit Arrahman. Masjid ini lebih dikenal dengan Masjid Raya Baiturrahman (T.A.Hamid, 1984:45).

Misionaris Belanda yang ditugaskan ke Aceh, C. Snouck Hourgronje, mengatakan sejak itu hukum Islam mempengaruhi hukum adat. Keduanya menjadi satu. “Hukom and Adat are insperable…the hukom is Allah' hukom and the adat is Allah's adat.” Hal sama dikemukakan para ahli bahwa adat menyatu menjadi satu hukum layaknya zat dengan sifat atau bahasa Acehnya; hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut.

Djuned juga mengungkapkan tentang pemahaman berbeda yang dikemukakan ahli fikih. Menurut ahli fikih, dalam masyarakat terdapat dua jenis hukum, yaitu hukum syariat dan hukum adat. Kedua jenis hukum tersebut menjadi sumber hukum bagi hakim dalam memutus sebuah perkara di pengadilan. Di Aceh, hukum Islam dan hukum adat menjadi living laws tataran kehidupan masyarakat. Sejak teori reception in complexu diumumkan Van Den Berg dan Salomon Keyzer, tesis tersebut mendapat pembenaran ilmiah sebagai hukum yang hidup di kalangan bangsa Indonesia. Kenyataan itu mendapat pengakuan sebagai hukum positif dari pemerintah kolonial dan dimuat dalam pasal 131 ayat (6) IS.

Ada satu contoh menarik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh yaitu menyelesaikan konflik, termasuk tindak kriminal (perkelahian dan tindak kekerasan lain), dengan cara mengimplementasikan nilai-nilai budaya spiritual (adat dan istiadat).

Al kisah diceritakan seorang saksi mata bernama Muhammadiyah, penduduk Kelurahan Keuramat, Banda Aceh. Kata bujang yang biasa disapa Ngoh ini, permasalahan kecil bisa menjadi besar di Aceh. Hanya karena bertukar pandang antara pria dengan pria lain. Ini adalah ajakan untuk berkelahi. Kejadian ini berlangsung pada 1989, di bulan Ramadan. Saat itu Ngoh masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun dia masih mengingat baik perkelahian kelompok antara pemuda kelurahan Keuramat dengan Pemuda Asrama PHB.

Pemicunya adalah pandang-pandangan. Pemuda dari dua kelompok yang bertetangga itu beradu pandangan saat sama-sama mengendarai sepeda. Pemuda dari asrama tiba-tiba menghardik pemuda kampung Keuramat yang asik memperhatikan ulah mereka. “Apa lihat-lihat, memang ada utang?” Mendengar perkataan itu, sontak pemuda kampung Keuramat merasa terhina. Mereka merasa ditantang. Sambil menghentikan sepedanya, ia menantang balik, “Mata, mata aku, kok kau yang sibuk?” kira-kira begitu jawaban pemuda kampung Keuramat. Pemuda asrama—jumlahnya sekitar enam orang—terpancing. Harga diri mereka jatuh di hadapan teman-teman jika hanya diam.
Seketika itu pemuda asrama berhenti, menghampiri dan melayangkan kepalan tangan ke wajah pemuda dari kampung Keuramat. Hanya perlu satu pukulan untuk merobohkan si penantang. Dan perkelahian masal pun dimulai. Kedua kelompok saling mengirimkan serangan. Untung saat itu ada orang tua melintas dan meleraikannya. Meski berhenti beberapa saat, kedua kelompok ini merasa belum puas. Gejolak jiwa muda mereka bangkit mempertahankan gengsinya. Mereka berlalu dan menceritakan kejadian itu kepada kelompoknya.

Kelompok asrama tidak puas! Sambil membawa senjata tumpul dan tajam, kelompok ini menyerbu dan mencari orang-orang kampung Keuramat yang berkelahi dengan rekan mereka. Pengeroyokan terhadap Pemuda Keuramat berlanjut hingga pertumpahan darah. Tidak ada korban tewas meski darah tertumpah di mana-mana. Suasana kampung yang tenang berubah mencekam. Ratusan pemuda lalu lalang membawa pentungan, celurit, pisau, balok dan senjata tajam. Sebagian berkumpul, dan yang lain berjaga-jaga di depan Masjid Al Ikhlas.

Melihat peristiwa sepele menjurus besar itu, orang tua kampung Keuramat mendatangi dua kelompok bertikai. Mereka berharap masalah ini bisa diselesaikan secara musyawarah. Niat baik tetua di kampung, ternyata, berbuah kedamaian. Tanpa melibatkan polisi, perkelahian masal itu diselesaikan secara musyawarah sesuai adat istiadat berlaku. Mereka di-peusejuk (tepung tawar) dan orang tua kampung menggelar kenduri kampung pulut kuning. Ini menjadi pernanda akhir permusuhan dua kelompok muda.

Cerita Ngoh ini dibenarkan Burhan, Imam Masjid Al-Ikhlas. Menurut Burhan, peran orang tua gampong— dalam struktur pemerintahan di Aceh disebut tuha peut dan tuha lapan—sangat besar dalam menengahi pertikaian, termasuk peristiwa di atas. Islah antara pemuda Keuramat dan asrama digelar di Masjid Al-Ikhlas. Api kebencian yang mereka kobarkan padam. Dua kelompok pemuda bertikai mengubur segala emosinya. Sejak itu, masyarakat di sana rukun, damai, dan bersahabat kembali.

Unik dan islami
Memang, dalam tataran Aceh, terkenal ungkapan: Adat bak Po Teumeureuhom, Hokum bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana. Artinya: adat disusun sendiri oleh majelis/kabinet sultan, hukum disusun sendiri oleh majelis Syiah Kuala (ulama Syikh Abdurrauf), qanun disusun sendiri oleh Putro Phang (istri Sultan Iskandar Muda yang diambil dari Kerajaan Pahang, Malaka) dan reusam disusun sendiri oleh laksamana.

Itulah kultur masyarakat Aceh; unik, keras, namun islami. Malah, dalam kaidah lain di Aceh, ada pameo, “Meunyoe Ka Teupeh Hate Ureung Aceh, Bu Lebeh han Dipeutaba. Meunyoe Hana Teupeh Boh Kreh Dibie Raba.” Terjemahan bebas ungkapan itu kira-kira: Jika orang Aceh tersinggung, nasi tinggal (sisa makan) pun tak ditawari, tapi bila tak tersinggung, buah zakar mereka pun boleh dipegang.

Bicara soal budaya di Aceh lebih sering disebut dengan adat dan istiadat. Adat istiadat bersumberkan kepada adat istiadat yang timbul dari interaksi masyarakat itu sendiri. Itulah filosofi rakyat Aceh, atau menjadi semacam rule of life. Semacam Pancasila di Indonesia.

Dalam tataran Aceh, budaya dikategorikan dua: Adat dan adat istiadat. Tapi, begitu disebut adat pasti konotasinya berhubungan dengan hukum, atau hukum adat. Jika dibahas mendalam, adat ada aspek sanksinya. Tentu bila ada norma-norma dilanggar. Sedangkan adat istiadat, dalam rutinitas, lebih bersifat serimonial.

Kedua instrumen ini, baik adat dan adat istiadat, bagi orang Aceh, sangat dipengaruhi ajaran Islam dan menjadi kunci budaya Aceh. Dahulu, budaya Aceh bercampur dengan budaya Hindu. Tapi, begitu Islam masuk, semuanya hilang. Apa pun yang bertentangan dengan Islam dihilangkan.

Pada rutinitas adat istiadat, bagaimana lelaki Aceh turun ke laut, kaum perempuannya ke sawah, atau lelakinya masuk ke hutan, tetap diperbolehkan. Begitu juga kegiatan seremonial Aceh; diawali membaca basmallah, diakhiri doa. Ada upacara adat, termasuk peusijuek-nya. Inilah warisan-warisan budaya Aceh diasimilasikan dengan Islam.

Mengenal karakter Aceh
Medan, Sumatera Utara, adalah daerah di luar Aceh yang didiami banyak generasi Aceh. Di wilayah ini, masyarakat kerap memberikan akronim kata Aceh menjadi Asal tahu Cara pasti Enak Hidup, agaknya mengandung makna bias. Kalimat “asal tahu cara,” bisa ditafsirkan bermacam-macam, seperti tahu cara menipu, mengelabui atau makna berkonotasi negatif lainnya.

Yang pasti, seperti kelaziman bergaul, tahu cara di atas lebih tepat bila kita artikan mengerti atau memahami keadaan tempat kita bermukim. Seperti pepatah kuno, lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya, dan lain daerah lain pula adat istiadatnya. Barangkali ini lebih bisa diterima akal sehat.

Inilah terminologi tepat kalimat “tahu cara” di atas. Pesan moralnya, jika kita hendak masuk ke Aceh, pastikan kita mengerti dan memahami budaya, adat istiadat dan karakter orang Aceh. Tujuannya, tentu, agar kita tidak bersinggungan dengan mereka atau siapapun, di daerah mana pun di Nusantara ini. Bila semua terpenuhi, mungkin kehadiran kita menjadi lebih berarti dalam pergaulan sesama suku bangsa. Atau, paling tidak, terjalin ukhuwah, pengertian, keharmonisan , dan melenyapkan sakwa sangka. Mohsa el Ramadan

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini

Umum
USK Jalin Kerja Sama dengan KPK

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala menjalin kesepakatan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya...