Unduh Aplikasi

Danau Laut Tawar Bebas Sampah, Apa Mungkin?

Danau Laut Tawar Bebas Sampah, Apa Mungkin?
Keindahan Danau Laut Tawar dengan keramba Apungnya. Foto di ambil dari tepi danau di kampung Mendale. Foto: AJNN/Fauzi Cut Syam

Oleh: Fauzi Cut Syam

Saat mendengar Aceh Tengah, hal yang pertama terbayang di pikiran kita adalah Danau Laut Tawar/Lut Tawar. Danau ini merupakan yang sangat indah. Keindahan danau ini bisa kita nikmati dari berbagai sudut dan jarak. Kalau dari jauh, kita bisa menikmati keindahannya dari lokasi diantaranya puncak Pantan Terong dan Puncak Origon Tingkem. Dari dekat, kita bisa melihat riak gelombang air danau dari tepian kampung Mendale, Dekat dengan kota Takengon atau di Pantai Menye di kampung Kala Bintang di sudut timur danau.

Danau yang ada di dataran tinggi Aceh ini, berada 1.500 meter di atas permukaan laut dan terletak di bibir Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Luasnya mencapai 5.472 hektar dengan panjang 17 kilometer dan lebar 3,219 kilometer.

Namun ada yang membuat kita sedikit kurang nyaman saat menikmati danau ini dari jarak dekat. Ya, dari dalam air danau, terlihat sejumlah sampah. Sampah ini bukan sampah seperti daun kayu atau ranting tanaman saja, tapi sampah plastik dan sejenisnya.

Timbul pertanyaan, sebenarnya sampah ini dari mana? Apakah sampah dari rumah tangga, sampah yang dibuang wisatawan atau sengaja danau indah ini dijadikan tempat sampah?

Kalau dilihat dari bentuknya sampah yang ada di dalam air danau Laut Tawar, sebagian besar adalah plastik kresek, sedotan, botol air mineral dan beberapa styrofoam tempat makanan serta beberapa sampah anorganik lainnya. Jadi kita bisa berasumsi, ini pasti berasal dari wisatawan dan limbah rumah tangga. Namun, apakah tidak ada larangan dari pengelola wisata atau pemerintah kepada pengunjung, untuk tidak buang sampah sembarang?

Sebenarnya pemerintah dan pengelola wisata sudah membuat sejumlah himbauan dan larangan agar pengunjung dan masyarakat di sekitar danau untuk tidak membuang sampah sembarang. Bahkan beberapa tempat wisata utama telah tersedia tempat sampah. Tapi, perilaku dan kesadaran pengunjung lokasi wisata dan masyarakat sepertinya masih jauh dari harapan pemerintah dan pengiat lingkungan hidup.

Sampah, terutama yang berasal dari plastik bukan hanya menganggu keindahan danau Laut Tawar. Sampah yang menumpuk dan mengendapkan dalam danau bisa berakibat fatal bagi manusia, terutama dari ikan yang dikonsumsi.

Danau laut tawar terkenal dengan sumber perikanan air tawar yaitu ikan Depik (Rasbora tawarensis) dan beberapa jenis ikan lainnya yang dipelihara mengunakan keramba apung atau "ikan liar" yang langsung dijaring atau ditangkap nelayan tradisional.Di danau ini juga ada 37 jenis ikan. Ikan di sini ada yang dijual kepasar dan dikonsumsi oleh masyarakat. Namun ada satu hal yang tidak kita sadari saat mengkonsumsi ikan, yaitu kita telah ikut memakan mikroplastik yang juga dimakan oleh ikan tersebut.

Apa itu mikro plastik? Mengutip dari Wikipedia Indonesia, Mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Meskipun ada berbagai pendapat mengenai ukurannya, mikroplastik didefinisikan memiliki diameter yang kurang dari 5 mm atau seukuran sebutir beras hingga mikroskopis. Artinya, potongan plastik dapat dicerna oleh berbagai makhluk, dari plankton yang membentuk dasar rantai makanan di sungai, danau, laut lalu dimakan oleh ikan, lalu ikan itu kita konsumsi.

Ahli ekotoksikologi di Universitas New South Wales, Australia, Mark Browne menyebutkan kalau, partikel mikroplastik yang tertelan secara fisik dapat merusak organ tubuh. Menurut Browne, sebagaimana dikutip dari Scientific American, potongan plastik juga melarutkan bahan kimia berbahaya, seperti bisphenol A (BPA) yang mengganggu hormon hingga pestisida, yang dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh. Hal ini juga menghambat pertumbuhan tubuh dan reproduksi.

Kembali Persoalan sampah di Danau Laut Tawar. Apakah pemerintah Aceh Tengah sadar akan terancamnya Danau Laut Tawar oleh sampah?

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang saat ini di pimpinan oleh Shabela Abu Bakar sebenarnya sudah menyadari akan kondisi ini. Hal itu dibuktikan saat Shabela mengadakan pertemuan dengan LSM, camat dan Reje di oproom kantor Bupati beberapa waktu lalu. Bahkan dirinya mengibaratkan Danau Laut Tawar sudah seperti "Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar" di Aceh Tengah. Miris memang.

Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai kecil yang mengarah danau merupakan faktor utama menumpuknya sampah di Danau Laut Tawar. Perilaku masyarakat ini tentu saja sangat berkontribusi terhadap menumpuknya sampah ke dalam danau terbesar.

Selain itu mengutip dari beberapa sumber, saat ini Aceh Tengah juga sedang menghadapi masalah rumit tentang pengelolaan sampah. Kabupaten Aceh Tengah memang punya TPA Uwer Tetemi, yang di Kecamatan Silih Nara. Namun TPA ini sudah tidak mampu menampung jumlah sampah masyarakat Aceh Tengah yang sangat banyak, terutama kota Takengon. Apalagi TPA Uwer Tetemi, luasnya hanya dua hektar, padahal setiap harinya puluhan ton sampah dibuang ketempat tersebut.

Untuk itu Pemkab Aceh Tengah berencana membangun TPA baru di kawasan Kampung Blang Kekumur, Kecamatan Celala. Tapi apakah harus menunggu TPA baru untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarang?

Kita semua tentu saja berharap danau laut tawar akan tetap indah dipandang mata, tertata dengan baik dan tidak menjadi tempat pembuangan akhir Sampah dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mari kita jadikan Danau Laut Tawar contoh destinasi wisata yang indah dan bebas sampah.

Komentar

Loading...