Unduh Aplikasi

Curhat Keluarga Korban Kekerasan Seks Anak

Kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur selalu menyisakan cerita pahit bagi para korban dan keluarganya. Seperti sabetan parang, meski sudah berlalu, tetap juga meninggalkan bekas.

Begitulah setidaknya pengakuan J (40) warga kota Banda Aceh. Ia adalah Ayah dari seorang anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Sekarang anak lelakinya yang masih duduk di kelas Lima Sekolah Dasar itu masih mengalami guncangan mental yang hebat, anak itu menjadi menjadi penakut, sensitif dan cepat marah.

Perubahan psikologis anaknya itu diakui J setelah mengalami pelecehan seksual oleh anak tentangga rumahnya beberapa waktu lalu.

"Sensitif terhadap orang, cuman kalau terganggu lebih cepat marah, takut terhadap orang - orang baru. Sedikit waspada dengan orang sekitar, jika dirinya melihat orang asing sering menyebutkan 'bandot'," kata J.

J juga mengisahkan pasca kejadian itu anaknya sering mendapatkan ejekan dari teman-temanya di sekolah. Setiap pulangg ke rumah, anak itu akan mengadu kepada J.

"Tapi dia tidak menjelaslan ngejek dalam arti kata seperti apa," kisahnya.

Jadi, kata J, setelah kejadian itu anaknya menjadi orang yang selalu waspada dan menjadi penakut. Bahkan, jika disuruh ambil sesuatu ke dapur dirinya tidak berani.

J benar-benar merasa terpukul dengan kejadian yang menimpa anaknya. Apalagi Pengadilan Negeri Kota Banda Aceh dalam memutuskan kasus tersebut tidak mampu memberikan efek jera terhadap pelaku.

"Seharusnya hukum lebih ditegakkan, jangan hanya sebatas semboyan mengutuk kekerasan seksual, ini ketika pelakunya adalah anak di bawah umur pihak penegak hukum tidak memberikan efek jera terhadap pelaku, kemudian beralasan untuk dibina atau diberi pendidikan," kata Ayah anak itu saat dijumpai AJNN di sebuah warung kopi di Banda Aceh (13/10).

Menurutnya, hukuman terhadap pelaku yang masih di bawah umur tidak pernah adil.

Bahkan UU Perlindungan anak menurutnya harus dirubah, karena sesuai perkembangan zaman, anak sekarang tidak sama dengan anak zaman dulu.

Zaman sekarang teknologi berkembang pesat dan kendalinya dilepas begitu saja oleh pemerintah, sehingga anak umur 15 tahun sekarang sudah tahu semuanya tentang dunia seks.

"Oleh karena itu pekerja sosial jangan terlalu berpihak kepada si pelaku ketika si pelaku ini masih digolongkan anak-anak, walau bagaimanapun efek jera itu harus ada,"  katanya.

Menurut J, dalam menangani kasus kekerasan seks yang pelakunya adalah anak di bawah umur, pemerintah selama ini tidak pernah melihat kepada si keluarga korban sebagai pihak yang dirugikan.

J juga kecewa terhadap pekerja sosial yang hanya diam saat hakim memberi fonis biasa terhadap pelaku yang masih di bawah umur.

"Lebih baik kita hakimi sediri, dari pada pengadilan yang putuskan ujung-ujungya akan lebih mementingkan hak-hak anak, tidak lagi melihat korban. Artinya pengadilan tidak memberi efek jera terhadap pelaku," kata J kecewa.

Menurut J, hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kekerasan seks terhadap anaknya tidak sampai 2 per 3 dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut empat tahun tiga bulan.

Hakim dalam putusannya hanya memfonis pelaku satu tahun tiga bulan dengan alasan pelaku yang masih di bawah umur akan dibina.

Namun, menurut J, pemerintah tidak melakukan pengawasan sebagaimana seharusnya terhadap pelaku. "Ternyata setelah putusan itu pelaku kemudian berkeliaran, pihak berwenang tidak lagi mengawasi."

Itulah yang membuat J kecewa menyikapi putusan hakim. Bahkan kata J sampai sekarang surat Mahkamah Agung belum juga turun.

"Okelah putusan begini karena pelakunya masih anak-anak, tapi surat MA itu kenapa terlambat sekali?" katanya lagi.

Sementara itu, Ibu korban juga mengatakan banyak peruhaban perilaku anaknya pasca mengalami kekerasan seks dari anak tentangganya itu.

Kini anaknya mulai sering mengeluarkan kata-kata kotor dan sering mengamuk untuk hal-hal yang sepele.

"Banting pintu marah padalal cuman minta uang dua ribu," katanya.

Bahkan, dalam kesehariannya, jika korban kebetulan berjumpa dengan pelaku, ia akan lari masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di kamar.

Ibu korban juga mengaku sangat kecewa ketika mendegar keputusan hakim. Ia berharap apa yang dialaminya tidak sampai dirasakan orang lain.

"Habis diberi keputusan itu pelaku lepas, batin saya cukup sakit rasanya, hukum di Aceh itu tidak cukup memberikan keadilan, saya yakin, rasa luka itu juga akan dirasakan orang tua korban lainya, apalagi jika yang korban anak perempuan," ujar ibu korban.

| HENDRA KA

Komentar

Loading...