Unduh Aplikasi

Cukup Tarmizi Jadi Korban Terakhir

Cukup Tarmizi Jadi Korban Terakhir
lubang bekas tembakan di rumah Tarmizi Karim. Foto: Tommy

PARA penebar teror seperti tidak kehabisan akal untuk menciptakan ketakutan di tengah masyarakat. Belum tuntas polisi mengusut kasus penembakan tim sukses Irwandi Yusuf atau pelemparan granat ke rumah calon wakil bupati pada Pemilihan Kepala Daerah Bener Meriah 2017, T Islan, aksi teror kembali terjadi. 

Kali ini berlangsung di pusat pemerintahan Aceh, Banda Aceh. Sebuah tembakan diduga diarahkan ke rumah Tarmizi Karim, calon gubernur pada Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017. Menurut saksi mata, pelakunya adalah pengendara sepeda motor setelah dia mendengar suara tembakan.

Aksi teror yang semakin sering terjadi jelas tak baik bagi pelaksanaan pilkada. Karena semua pihak telah mendeklarasikan Pilkada Aceh 2017 yang damai. Janji itu diikrarkan oleh enam pasangan kandidat yang akan berlaga di dalamnya.

Mereka juga sepakat untuk menjaga sikap para pendukung. Jadi jelas, jika terjadi kekacauan, dan jika kekacauan itu atas perintah mereka yang berjanji, itu adalah tindakan yang sangat memalukan.

Aksi ini juga tergolong nekad dan tentu dilakukan oleh orang yang sangat memahami daerah itu. Maklum saja, Tarmizi tinggal rumahnya di Jalan Todak, Gampong Bandar Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kawasan ini tergolong aman karena berada tak jauh dari perumahan militer.

Penembakan ini juga menimbulkan banyak pertanyaan. Satu di antaranya adalah fungsi pengamanan yang dilakukan oleh kepolisian. Karena saat ini para kandidat mendapat pengawalan khusus kepolisian. Saat peristiwa itu terjadi, apakah rumah Tarmizi tidak dikawal? Apakah polisi tidak bekerja? Polisi tak seharusnya membiarkan kandidat merasa diri mereka dan keluarga terancam. Karena itu, pelaku teror harus diungkap dan ditangkap. Jangan biarkan teror ini terus berkembang dan berulang.

Bahkan bukan tak mungkin cara ditiru oleh kandidat lain. Bukan untuk menekan lawan politik, namun untuk menjadikan diri sebagai korban sebagai cara mendongkrak polularitas. Kalau perlu terlihat berdarah-darah. Jangan biarkan orang mencari simpati dengan cara yang tidak simpatik ini. Cukuplah Tarmizi yang menjadi korban terakhir.

Komentar

Loading...