Unduh Aplikasi

Covid19: Dari Pandemi ke Endemi?

Covid19: Dari Pandemi ke Endemi?
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Setelah berjalan selama hampir satu tahun, Covid-19 terus saja berkembang, dan ilmuwan sampai hari ini belum melihat, apalagi mampu memprediksi bagaimana skenario akhir mesin pembunuh ini akan berhenti. Impian akan kekebalan kelompok-herd immunity, via vaksin juga masih belum menjanjikan untuk jangka panjang, apalagi membiarkan berjalannya proses kekebalan kelompok secara alami yang akan memakan korban besar dan tak terbayangkan.
 
Ketika ada pernyataan bahwa manusia berpeluang besar untuk hidup berdampingan dengan Covid-19, barangkali pernyataan itu berpotensi untuk menjadi kenyataan. Ini artinya potensi untuk memberantas Covid-19 seperti menghilangkan penyakit cacar tidak akan pernah tercapai, sekalipun akan ada vaksin yang ampuh. Sejarah penyakit menular menunjukkan, kecuali cacar, semua penyakit lain praktis tidak ada yang bisa dimusnahkan kehadirannya pada manusia, sehebat apapun vaksinnya. Ini artinya Covid-19 berpotensi bergabung dalam keluarga besar penyakit menular berkatepe lokal, sama dengan influenza, malaria, demam berdarah, hepatitis, dll, yang mempunyai status endemik.
 
Penyakit dikatakan endemik jika terjadi secara lokal, berkelanjutan, baik musiman maupun terus menerus, tidak hilang, namun juga tidak bertambah. Proses yang membuat Covid-19 endemik akan terjadi jika pada satu lokalitas tertentu terjadi kekebalan kelompok-herd immunity, baik melalui vaksinansi maupun infeksi secara alami. Dalam kejadiannya, penyebarannya mengalami pelambatan untuk kemudian  jumlah kasusnya menurun. Ketika status endemik tercapai, penyebaran infeksi biasanya akan stabil, dan  konstan sehingga  penularan populasi terjadi setiap saat, mungkin pada tingkat yang relatif rendah, dan tidak jarang  dapat diprediksi dengan sederhana  dan mudah.
 
Di kalangan  praktisi kesehatan masyarakat, terutama para epidemolog, suatu keadaan endemik dinyatakan dengan ukuran angka reproduksi. Jika  angkanya (R) =1, itu artinya setiap individu yang terinfeksi menularkan ke satu orang lainnya. Status epidemi yang cakupannya lebih luas, angka R menjadi lebih besar dari 1, dan ketika pengendalian dilakukan, maka angka itu dapat menjadi lebih kecil dari satu.
 
Sebuah pembahasan yang dilakukan oleh peneliti dari  Sekolah Kesehatan Publik Mailman, Universitas Columbia, New York AS, tentang potensi Covid-19 menjadi endemik menarik untuk disimak. Uraian di majalah Science, oleh Jeffrey Shaman dan Marta Galanti (2020)  mengekspolarasi tentang peluang itu, dengan merujuk kepada tiga hal penting. Mereka memberi perhatian kepada tiga persoalan pokok yang membuka pintu lewar terhadap potensi Covid-19 menjadi endemik.
 
Penjelasan sederhana kedua peneliti itu dimulai dengan potensi reinfeksi wabah ini dikaitkan dengan immunitas tubuh  penyintas, terutama via vaksinasi. Sejumlah kajian serulogi memang mengindikasikan, tubuh yang pernah terifeksi virus Covid-19, tetap saja mampu membangun  antibodi untuk menahan serangan lanjutan. Namun satu hal  yang masih menjadi pertayaan adalah seberapa lama ataupun seberapa kuat immunitas itu akan bertahan untuk mencegah terulangnya infeksi itu. Dari kejadian terhadap jenis virus lain terbukti bahwa kelemahan immunitas setelah vaksinasi, dan mutasi virus, dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menahan kembalinya wabah itu menginfeksi tubuh yang sama, baik melalui vaksin ataupun kejadian alami. Ini artinya penularan sebelumnya hanya memberikan sedikit kekebalan dan juga mungkin mampu meredakan sedikit keparahan penyakit.
 
Hal lain yang juga membuka peluang untuk Covid-19 menjadi endemik adalah proses co-infeksi dengan virus yang lain. Kedua peneliti itu menguraikan bahwa infeksi virus pertama akan mampu memberikan perlindungan jangka pendek untuk menahan infeksi virus yang kedua. Penelitian lain menunjukkan bahwa infeksi dua virus pernafasan secara simultan menyebabkan timbulnya keparahan yang hebat. Hasil uji laboratorium pada sel manusia menunjukkan infeksi yang terjadi bersamaan dengan influenza dapat menyebabkan replikasi biak Covid-19 antara 1.000 sampai 10.000 kali. Bahkan disebutkan virus influenza tertentu dapat mengubah struktur berbagai sel manusia dalam hitungan jam setelah infeksi terjadi.  Hal ini dapat memberi jalan mudah bagi Covid-19 untuk menggandakan dirinyi secera lebih cepat dan lebih mudah menyerang sel-sel tubuh.
 
Mutasi virus adalah hal yang dapat membuat vaksin tidak akan bertahan dalam jangka waktu lama. Ibarat mobil atau motor dengan serial baru yang terus berubah, sang virus juga memperbahurui dirinya, dan generasi baru akan mempunyai sifat biologi yang berbeda dari orang tua atau nenek moyangnya. Beberapa tempat di dunia sudah melaporkan tentang mutasi Covid-19, baik di Eropah, AS, dan Asia.
 
Di Indonesia , setidaknya Menristek sudah mengumumkan bahwa sudah terdeteksi mutasi Covid-19 di empat kawasan di Indonesia, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Tanggerang. Dari 24 genom utuh yang disampaikan , sembilan diantaranya  memiliki mutasi. Penelitian lanjutan masih terus dilanjutkan untuk melacak karakter dari virus mutasi itu.
 
Kejadian serupa juga terjadi di Malaysia di klaster Sivagangga, di Kedah dan Ulu Tiram di Johor. Mutasi  Covid-19 yang diumumkan oleh pemerintah Malaysia itu menyebutkan bahwa jenis baru mempunyai kekuatan penularan sepuluh kali lebih hebat dari virus generasi sebelumnya. Hal ini menimbulkan kekuatiran di kalangan ahli kesehatan publik, bahwa  vaksin yang sedang dikembangkan akan tidak berguna.
 
Sekalipun belum ada keputusan final tentang keampuhan vaksin, setidaknya temuan itu telah memberikan peta jalan tantangan yang akan dihadapi dalam menghadapi Covid19 di hari-hari mendatang. Covid-19 memang termasuk dalam keluarga besar penyakit pernafasan, dan ini artinya, jika nantinya mutasi yang terjadi, ini akan mengikuti seperti mutasi influenza, maka Covid-19 akan terus ada bersama manusia, persis seperti realitas influenza hari ini.
 
Apa implikasi kepada kita seandainya benar bahwa Covid-19 akan menjadi endemik dan menjadi bahagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Ibarat warga, Covid-19 akan menjadi mahluk yang punya “KTP” lokal dan tidak akan meninggalkan kita, dan akan terus bermutasi, sehingga pengendalian atau pencegahan yang tersedia hanya melalui praktek hidup sehat dengan protokol yang ketat, atau dengan melakukan vaksinasi tahunan, sama dengan vaksinasi influenza hari ini.
 
Salah satu keunikan dari penyakit ini, ia berbeda dari saudara jenis Corona lainnya, MERS dan SARS yang instan dan sangat mematikan. Covid-19 berbeda karena dengan masa inkubasi yang relatif lama, dan relatif lebih kurang daya bunuhnya, namun memberikan waktu dan ruang penularan yang lebih besar, dibandingkan dengan dua penyakit diatas.
 
Pada akhirnya, persiapan untuk menghadapi potensi penyakit Covid-19 mesti dilakukan dengan baik dari sekarang. Peningkatan literasi kesehatan publik adalah tantangan terbesar yang kita hadapi pada hari ini. Harus diakui, capaian pencegahan penyakit menular, mulai dari persiapan generasi yang akan datang-balita, untuk  berbagai vakinasi masih sangat terbatas.
 
Banyak pejabat publik di daerah, yang tidak mengerti ataupun tidak mau mengerti bahwa capaian tingkat kesehatan publik adalah indikator paling penting dalam melihat ukuran kemajuan dan pembangunan, bahkan  dalam konteks peradaban sekalipun. Setiap ada letupan sektor kesehatan publik, jarang sekali terdengar komentar atau respons pejabat publik yang menunjukkan peguasaan pengetahuan umum kesehatan yang memadai. Ini juga cermin, jangankan mengharapkan literasi kesehatan yang memadai dikalangan awam, di kalangan pengambil kebijakan dan keputusan kehidupan publik pun hal itu masih menjadi persoalan serius.
 
Padahal, dalam kondisi digitalisasi informasi, seperti yang terjadi saat ini, literasi kesehatan publik sebenarnya jauh lebih mudah dilakukan oleh pemerintah, dbandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...