Unduh Aplikasi

Covid-19,Trump, Perilaku Pemimpin, dan Kita

Covid-19,Trump, Perilaku Pemimpin, dan Kita
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Human Hamid

Beberapa kejadian pada waktu yang lalu, terutama kejadian dalam minggu terakhir, menunjukkan bahwa para pemimpin dunia yang tingkat pengawalan dan keamanannya ekstra ketat dan  luar  biasa, tetap saja menjadi sasaran empuk Covid-14. Semua orang tahu, ketika seorang presiden AS, misalnya akan mengadakan perjalanan ke sebuah negara, dua bulan sebelumnya sebuah tim awal yang jumlahnya mungkin ratusan telah dikirim untuk mengevaluasi keadaan.
 
Itu saja belum selesai, dan akan dilanjutkan  dengan tim lanjutan untuk memberikan pertimbangan, dan terakhir saat kunjungan, sang Presiden juga akan membawa mobil kepresidenannya sendiri yang mendapat pengamawan dari petugas sekuriti canggih dan CIA. Tidak heran ketika Presiden AS berkunjung ke negara manapun, ratusan, bahkan mungkin ribuan personil akan dikerahkan untuk memastikan keamanan Presiden.
 
Kali ini, seluruh pengamanan ekstra ketat terhebat didunia ini kalah. Musuhnya? Covid-19 yang tidak mengenal ampun dengan siapapun. Siapa saja mahluk hidup yang termasuk dalam golongan homo sapiens adalah target sang virus, harus diselesaikan, hidup atau mati.
 
Paling kurang ada dua lagi pemimpin dunia dari negara besar yang bernasib sama dengan Donald Trump, yakni Boris Johnson Perdana Menteri Inggris, dan Jose Bolsanero, Presiden Brazili. Menariknya ketiga mereka adalah orang yang dari awal meremehkan Covid-19 dan ketiga-tiganya tertular dengan wabah itu, walaupun kemudian mereka selamat. Tetapi perilaku dan sikap yang seperti itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal untuk rakyat dan negara mereka masing-masing.
 
Sikap dan perilaku pemimpin  pada akhirnya memang sangat menentukan penanganan setiap persoalan negara,  apalagi untuk kasus sebesar Covid-19 ini. Sikap menganggap remeh dan meremehkan pandemi, merekomendasikan hal-hal tertentu tentang pandemi yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, dan cenderung menyalahkan pihak lain ketika ada masalah, pada akhirnya  menjadi “racun” yang merusak kinerja birokrasi, menjadi “obat kuat” penjilat pembantu, dan penasehat pemimpin, dan akhirnya menjadi daya rusak besar untuk negara dan rakyatnya.
 
Sikap dan perilaku pemimpin juga menjadi inspirasi dan alasan publik untuk tidak mau peduli dengan berbagai himbauan dan anjuran dalam menghadapi Covid-19. Untuk negara sehebat AS dan Inggris misalnya, sikap Donald Trump dan Boris Johnson juga sangat berpengaruh terhadap sikap dan kinerja jajaran pemerintahan negara bagian-AS, dan otoritas lokal- Inggris. Hal yang sama juga terjadi di Brazil, sehingga masyarakat menjadi terpecah antara yang pro pengendalian Covid-19 dan anti pengendalian Covid-19.
 
Sikap meremehkan Trump pada akhirnya harus dibayar mahal dengan “symbol” harga diri AS, dan kematian rakyatnya yang hanya 4 persen dari penduduk bumi, tetapi menyumbang 20 persen terhadap total kematian Covid-19 global. Kejadian tertularnya Trump dan sebagian besar staf Gedung Putih, bahkan bagian paling aktif sehari-hari  “West Wing”  telah menjadi sarang lebak biak Covid-19.
 
Dalam catatan sejarah, semenjak Gedung Putih ada, sudah terjadi  10 kali penetrasi atau kejadian membahayakan  Gedung Putih,  yang selalu berurusan dengan senjata. Penyerangan oleh Inggris pada perang kemerdekaan pada saat presiden James Madison atau percobaan pembunuhan Presiden Reagan pada tahun 1984 adalah dua contoh yang menonjol. Penggunaan senjata lainnya berurusan dengan orang sakit jiwa, aksi demonstrasi, atau rencana pembunuhan yang tidak jelas motifnya.
 
Namun kali ini- kali ke 11, AS menghadapi perang tidak biasa- asimetris non conventional war-, dan AS kalah, walaupun Presidennya kemungkinan besar hidup. Ini adalah sesuatu yang sangat memalukan  AS, jika saja ini perang biologi antar raksasa dunia, misalnya AS lawan Cina. Bayangkan saja seperempat Gedung Putih, dikuasai oleh Covid-19 selama 2 minggu dan sebagian besar stafnya terpapar Covid-19.
 
Kegilaan Trump semakin menjadi-jadi, ketika kepatuhan kepada ilmu pengetahuan tentang virus dan strateginya dirobah narasinya menjadi narasi ideologi. Masker, jaga jarak, test,  pada awalnya bahkan tracing diasosiasikan dengan kebodohan dan ketakutan yang berlebihan. Tidak jarang Trump melecehkan sejumah gubernur negara bagian dari partai Demokrat yang berpegang pada protokol berbasis ilmu pengatahuan, dan memuji para gubernur dari partai Republik yang berpandangan sama dengannya, dan bahkan mempelopori sikap-sikap anti ilmu pengetahuan. Akibatnya, kamp conservatief sama dengan anti protokol Covid-19, kamp demokrat pro protokol Covid-19.
 
Sikap ini juga diimani oleh Bolsonero di Brazil dan sampai tingkat tertentu oleh Boris Jonhson di Inggris. Sikap-sikap yang seperti itu akhirnya menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Jonhson menjadi ragu-ragu terhadap kebijakan yang diambilnya, sedangkan Covid-19 berkejaran dengan waktu, dan akhirnya Inggris menjadi salah satu contoh terburuk negara maju di dunia bersama AS dalam pengendalian pandemi.
 
Seluruh kelakuan Trump diulangi oleh Bolsonero di Brazil, dengan konteks yang berbeda. Ledak biak pandemi di Brazil kemudian menjadi horor yang menakutkan, sempat menjadi nomor dua di dunia setelah AS, namun digantikan oleh India. Di Brazil, karena fasilitas perawatan, terutama rumah sakit yang terlanjur penuh, ketika pandemi mencapai puncak, membuat banyak orang meninggal di tempat yang tidak selayaknya sebagai pasien Covid-19, di rumah, dan di jalanan. Seluruh fondasi kesehatan publik yang pernah dibuat oleh presiden Lula da Silva, 15 tahun yang lalu menjadi tak berarti ketika Brazil mempunyai pemimpin yang salah.
 
Satu hal yang paling tragis adalah ketiga negara mereka ini saat ini mendapat julukan terburuk penanganan pandemi pada tingkat global dan sekaligus mencatat angka kematian yang tinggi di dunia. Padahal, dalam sejarahnya, negera-negara tersebut, sebelumnya dianggap sebagai pelopor dan bahkan menjadi contoh dunia dalam pengendalian penyakit menular dan bidang kesehatan publik lainnya.
 
Menurut WorldoMeter (2020) sampai dengan hari Selasa 6 oktober 2020, total jumlah penularan Covid-19 global dari total 216 negara adalah 36.028.976 kasus, dengan jumlah tertinggi tiga besar berturut-turut , AS  7.719.403, India, 6.754.179, dan Brazil, 4.970.953. Menariknya Cina, tempat dimana Covid-19 berbiak awal, justeru berada urutan 47 secara global tengan jumlah kasus 84.489.
 
Alasan Cina menjadi nomor 47, -Indonesia no 22 global, sebenarnya sangat sederhana namun berat. Cina telah melakukan test 160.000.000. Tidak hanya itu, Cina telah melakukan tindakan cepat, berani , keras, namun berdasarkan basis ilmu pengetahuan yang sangat ketat. President Xin Ji Ping yang serius dan sangat cepat bertindak yang dikuti oleh bawahannya menjadikan Cina sangat cepat dan tepat dalam mengatasi pandemi. Hari ini jumlah   kematian di Cina, tempat dimana virus itu berasal hanya 4.683, dibandingkan  dengan AS 215.822, Brazil 147.571, dan Inggris 42.445 kematian.
 
Mungkin untuk menghindari bias dengan gaya otoriter Cina, agaknya perlu juga diimbangi dengan negara demokratis lainnya, namun punya pemimpin yang sangat serius, cerdas, mengikuti ilmu pengetahuan, dan komunikatif. Negeri itu adalah Korea Selatan yang dianggap sebagai salah satu contoh negera maju yang berhasil mengendalikan Covid 19. Korea Selatan mempunyai angka penularan 24.353 dan jumlah kematian 425 kasus.
 
Menggunakan indikator lain juga nampak tajam keterbelahan akibat Covid-19 dari masing masing negara kelompok kepemimpinan serius dan basis ilmu pengetahuan -Cina dan Korea Selatan versus kelompok kepemimpinan sebaliknya- AS, Inggris, dan Brazil. Kasus Covid-19 per satu juta penduduk berturut-turut adalah Cina 59,  Korea Selatan 475, AS 23.295. Inggris 7.798, dan Brazil 23.342. Kematian akibat Covid-19 per satu juta penduduk adalah Cina 3 orang,  Korea Selatan 8 orang,  AS, 651 orang, Inggris 524 orang, dan Brazil 693 orang.
 
Adalah naif untuk menyatakan kepemimpinan bukan masalah dalam krisis seperti  pandemi Covid-19. Kepemimpinan bisa menjadi masalah kalau kebetulan pemimpinnya bebal, tidak mengikuti ilmu pengetahuan, tidak mau atau tidak berani mengambil keputusan penting dan besar pada saat genting. Sebaliknya kepemimpinan bisa menjadi solusi ketika pemimpin percaya dan mengikuti pengatahuan, serius dan sungguh-sungguh dalam bekerja, cakap berkomunikasi dengan pemangku kepentingan, terutama rakyat, dan berani mengambil keputusan besar dan penting pada saat-saat krusial.
 
Terpaparnya pemimpin tiga negara besar itu dengan Covid, bukanlah disebabkan hanya karena mereka abai dan mengangap enteng pandemi. Kejadian itu lebih karena sebuah gejala besar dari bobroknya mesin pengendalian pandemi negara, ketidakbecusan rakyat banyak yang tidak mau kooperatif, dan berkembangnya budaya ambivalen elit pemerintahan dan sebagian pemangku kepentingan terhadap Covid-19. Yang paling menyedihkan itu semua menimpa tiga pemimpin negara besar, kaya secara ekonomi, kaya ilmuwan,  dan kaya dengan pengalaman kesehatan publik yang baik.
 
Sikap pemimpin yang seperti itu secara psikologi juga berbiak kepada bawahannya, kepada birokrasi yang mengurus pandemi, kepada sebagian politisi, dan kepada sebagian rakyat yang marah dengan keadaan, atau yang mencintai sang pemimpin. Ibarat Covid-19, sikap itu juga menjadi virus yang sistemik, menjalar dari atas ke bawah, tertanam dalam alam bawah sadar dan tindakan sehari-hari pemimpin lokal, politisi, dan birokrasi.
 
Virus Covid-19 akhirnya menemukan kanalnya untuk bersatu dengan virus “mental pemimpin” yang telah menyebar leluasa ke segala lapisan, dan akhirnya kedja virus ini bersatu mencari makhluk yang berlogo homo sapiens. Secara kebetulan Trump, Bolsanero, dan Johnson adalah pemilik sah virus mental yang salah. Kini, virus mental itu kembali ke tuan nya membawa kawan baru, virus Covid-19.
 
Pemimpin kita di Aceh, Gubernur, Bupati, Walikota, DPRA, dan DPRK, semua mereka ada dalam satu payung besar Pemerintah Daerah. Mereka semua, dalam kadar yang berbeda juga telah melepas virus ketidakpedulian yang serius kepada birokrasi, pemimpin partai politik, dan kepada masyarakat. Virus itu kini telah bergabung dengan Covid-19, dan mulai memakan korban, dari rakyat, sampai kepada tenaga kesehatan yang mengurus dan melayani koran pandemi.
 
Kita tidak tahu, apakah diantara mereka ada yang mulai merasa bersalah, mau bertanggung jawab, dan memulai pekerjaan pengendalian yang lebih serius.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...