Unduh Aplikasi

Covid-19 : Pemimpin dan Pemerintahan “Tidak Biasa” (I)

Covid-19 : Pemimpin dan Pemerintahan “Tidak Biasa” (I)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Ketika sebuah negara atau daerah dilanda bencana atau krisis seperti pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, maka yang menjadi pokok perhatian adalah bagaimana pemimpin meramu perhatian terhadap dua tugas yang sama pentingnya, merespons terhadap krisis, dan memimpin dalam kedaan krisis.
 
Kemampuan menakhodai kedua tugas berat secara proporsional akan menentukan apakah  pemimpin itu sejati atau bukan. Cerita tentang pemimpin sejati adalah cerita tentang seorang kapten kapal yang bertanggung jawab terhadap keselamatan seluruh anak kapal dan penumpang dalam hantaman badai dan ombak samudera. Ini adalah cerita tentang kapal yang tak mungkin kembali ke pelabuhan untuk mengambil kompas atau alat navigasi, karena badai memang sudah di depan mata, dan sudah menerjang kapal dan segala isinya.
 
Tidak hanya itu, sang kapten juga bertanggung jawab untuk membawa ke pelabuhan tujuan tanpa terkatung-katung di laut raya. Tidak salah kalau kemudian dalam literatur kepemimpinan disebutkan bahwa pemimpin yang keluar dari krisis dengan kemenangan adalah pemimpin yang sebenar-benar pemimpin. Bencana atau krisis akan menjadikan seorang pemimpin akan “lahir” kembali dengan tambahan “sejati” atau “akhir” dengan tambahan “tangisi”.
 
Tambahan kata “sejati” karena betolak belakang dengan memimpin dalam keadaan biasa yang sinonim dengan memimpin dengan buku petunjuk dengan penyesuaian disana sini. Sebaliknya memimpin dalam kondisi krisis adalah memimpin dengan  ikhlas keluar dari zona nyaman, mau dan mampu berinovasi, mengedepankan empati, dan yang paling penting punya nyali untuk mengambil resiko.
 
Tambahan kata “tangisi” adalah bersikap seperti psikologi pasif, diam, menunggu, dengan motto “badai pasti berlalu”. Kata “tangisi “adalah kata kasihan, baik kepada pemimpin itu sendiri yang telah menyia-nyakan amanah, dan juga  kepada orang banyak yang telah mejadi korban, dalam hal Covid-19 adalah korban nyawa. Persoalan skala kegagalan dan kerusakan dalam penanganan pandemi tersedia setiap saat. Hanya dengan membandingkan ketersedian anggaran, jumlah populasi, ketersedian SDM dan luas georafis serta wilayah akan akan ada komparasi, yang kemudian dikaitkan dengan langkah intervensi yang dilakukan.
 
Seperti berbagai bencana atau krisis lainnya, Covid-19 selalu mempunyai sebuah siklus awal, menengah, dan akhir. Keunikan dari pandemi seperti Covid-19 ini, ia tidak sama dengan gempa bumi, banjir, bahkan perang sekalipun. Jika gempa tidak bisa diduga dengan pasti kapan terjadi, setidaknya secara empirik, selalu ada batas antara awal, menengah dan akhir. Banjir dan perang secara umum adalah hal-hal yang bisa diperkirakan, bahkan banjir bandang sekalipun.
 
Pandemi seperti Covid-19 ini adalah sebuah bencana biologi yang mempunyai ciri tersendiri yang berbeda dari kejadian calon pandemi sebelumnya. Walaupun sejarah pernah menunjukkan ada sejumlah calon pandemi seperti SARS, MERS, ataupun Ebola yang kemudian bisa dikenali, cepat direspons dan dikendalikan, pengalaman itu sepertinya tidak berlaku untuk Covid-19. Apalagi ketegangan antara Cina dan AS akhir-akhir ini telah membuat kerjasama internasional uituk mengatasi Covid-19 tidak berjalan secara totalitas, sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya.
 
Pandemi kali ini jelas masa awal, jelas masa pertengahan, namun seringakali masa akhirnya tidak sempurna. Yang sedang terjadi adalah bukannya sebuah siklus yang terpotong, melainkan sebuah siklus yang memutar. Istilah gelombang kedua yang pada awalnya dikaitkan dengan perpindahan wilayah penyebaran pandemi, kini telah mempunyai makna baru.
 
Istilah gelombang kedua kini diartikan sebagai “serangan” pandemi dalam bentuk  pengulangan yang sama terhadap wilayah yang sama. Ini yang sedang terjadi di Inggris, juga terjadi di Spanyol, dan bahkan juga sedang mengancam Cina. Pengulangan yang sama juga sedang terjadi di sebagain negara bagian AS yang berhasil melewati masa yang paling parah seperti New York dan Michigan, tetapi, karena pemerintah negara bagian itu sangat ketat dan hati-hati, gelombang kedua bisa dijinakkan.
 
Istilah flatten the curve, atau seperti disitilahkan Jokowi, “datarkan kurva” mempunyai dua profil yang terjadi. Yang satu mengikuti curva Gunung Seulawah yang naik tajam keatas, kemudian turun melandai dan kemudian mendatar dan bahkan kemudian turun kebawah. Ini yang terjadi di Cina, Singapore, Jerman, Korea Selatan. dan Jepang.
 
Profil yang kedua adalah kurva yang berjalan seperti bukit barisan secara berkelanjutan.  Ketika mencapai masa puncak pandemi yang baisanya akan turun melandai, yang terjadi adalah Covid-19 turun sejenak untuk kemudian naik lagi, turun lagi, naik lagi dan seterusnya. Contoh yang paling ekstrim untuk profil ini adalah Inggris yang menunjukkan kenaikan yang besar dalam beberapa hari ini, setelah terjadi penurunan sebelumnya.
 
AS dengan 50 negara bagian. Yang terjadi adalah siklus penyebaran dengan intensitas yang berbeda antar negara bagian, sehingga secara totalitas grafik yang nampak adalah grafik naik turun seperti bukit barisan dengan durasi waktu yang berkelanjutan. Brazil dan Mexico menunjukkan kecendrungan yang hampir sama dengan AS. India belum menunjukkan bentuk kurva bagaimana, karena kompleksitas luas wilayah dan kondisi sosial ekonominya yang sangat rumit dan beragam.
 
Dengan melihat kepada tantangan bencana yang begitu, sekalipun berlaku prinsip-prinsip umum manajemen dan kepemimpinan kebencanaan, maka kepemimpinan publik pandemi Covid-19 mempunyai sejumlah kualifikasi tertentu, karena sifat dari pandemi yang mengharuskan keterlibatan yang besar dan menentukan dari publik.
 
Persyaratan pertama pemimpin dalam masa pandemi adalah pemimpin yang komunikatif. Ia harus menunjukkan dirinya kepada publik bahwa ia mengetahui dan menguasai persoalan dengan baik, karena ini menyangkut dengan pesan, edukasi, anjuran, dan eksepektasi partisipasi aktif msyarakat. Isi dan cara penyampaian tentang Covid-19 yang dilakukan pemimpin akan sangat menentukan terhadap kepercayaan publik.
 
Dalam konteks pandemi, pemimpin yang efektif tidak hanya berurusan dengan mengerjakan pekerjaan dengan benar, tetapi juga menyampaikan narasi persoalan  dengan baik dan benar. Ini juga berarti bahwa komunikasi pandemi juga berurusan dengan apa yang disampaikan dan apa yang tidak disampaikan.
 
Penyampaian pesan dengan jujur, terbuka, dan konsisten dan terus menerus adalah sesuatu yang akan memperkecil ruang berita palsu, fake news dan berbagai gossip digital yang sangat mengganggu. Menyajikan informasi berbalut manis ,sugar coating atau yang didalam bahasa Acehnya “meulapek ngon meulisan” tidak hanya salah tetapi juga akan berbahaya.
 
Publik jangan diperlakukan sebagai anak-anak yang mesti dihindari penyampaian berita buruk, tetapi harus diberitakan dengan tepat dan benar. Tujuan akhir dari komunikasi pandemi publik tidak hanya berfungsi sebagai edukasi semata, akan tetapi jauh menghunjam untuk menjadikannya sebagai mitra sejajar yang akan berperang secara bersama-sama melawan sang virus.
 
Salah satu kelebihan Korea Selatan dalam menangani pandemi Covid-19 teletak pada komunikasi pemimpinnya dengan rakyat. (the Atlantic 2020; The Washington Post 2020) Kepiawaian dan kejujuran Presiden Korea Selatan, Moon Jaee-in dalam berkomunikasi telah membuat negara itu sangat berhasil. Keterbukaannya dalam berkomuniksi semenjak hari hari awal pandemi telah mampu membuat rakyat negera itu  berdiri kokoh dibelakang pemimpinnya dalam suasana pskilogi komando perang.  
 
Ia dengan sangat baik menerangkan tentang sejumlah fakta dari virus yang juga disertai dengan informasi  potensi wilayah ketidak pastian yang masih misterius yang masih terus digeluti ollen ilmuwan. Akibat kepiawannya menguasai persoalan, kejujuran,dan keterbukaan, ia  mendapat mandat kepercayan publik yang sangat tinggi dari rakyatnya.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...