Cobaan Yang Membawa Kasihadi kepada Zaini Abdullah

Cobaan Yang Membawa Kasihadi kepada Zaini Abdullah
Zaini Abdullah bersama Kasihadi. Foto: Asrul

ACEH TAMIANG - Zaini Abdullah, calon Gubernur Aceh, menatap satu per satu masyarakat yang datang menghadiri kampanye dialogis di Aceh Tamiang, kemarin. Sesaat kemudian, dia bertanya kepada seluruh masyarakat tentang akses dan layanan kesehatan kepada masyarakat selama dirinya menjabat sebagai Gubernur Aceh.

Dari barisan paling depan, Kasihadi dan istrinya berdiri. Mereka serentak mengangkat tangan. Kasihadi adalah seorang ayah berusia 38 tahun. Warga Aceh dari suku Jawa-Batak. Dia tinggal di kampung Sidodadi, Aceh Tamiang.

Melalui pengeras suara yang diberikan kepadanya, Kasihadi menceritakan kisah yang mengubah jalan hidupnya. Tak ada suara apapun yang terdengar saat Kasihadi bercerita. Seluruh mata memandang kepada dua sosok yang berdiri di hadapan mereka.

"Pada tahun 2013, anak saya divonis mengidap penyakit kanker dan harus segera diamputasi tangan kanannya,” ujar Kasihadi memulai cerita. "Waktu itu belum ada BPJS kesehatan Pak Gubernur. Jadi saya dengan modal kartu JKRA memberanikan diri membawa putra saya berobat ke rumah sakit. Dokter menyarankan untuk segera mengamputasi tangan kanan anak saya.”

Mendengarkan vonis dokter, Kasihadi gundah. Keluarga ini tak memiliki simpanan untuk membeli obat-obatan, apalagi membiayai pengobatan yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah. Akhirnya atas saran seorang kerabat, Kasihadi nekat membawa anaknya ke Banda Aceh. Di sini, dia berniat mencari bantuan biaya.

Yang ada dalam pikiran Kasihadi adalah mendatangi Meuligoe Gubernur Aceh untuk menjumpai Zaini. Namun, kata dia, sambutan yang mereka terima benar-benar di luar dugaan. Apalagi, "Kami diterima oleh Pak Gubernur di pendopo. Kami dilayani selayaknya tamu penting. Padahal kami hanya rakyat kecil. Kami sangat terharu saat itu,” ungkap Kasihadi yang berulang kali menyeka air mata yang membasahi kedua pipi.

Setelah pertemuan itu, Kasihadi hanya butuh dua hari untuk menyelesaikan seluruh berkas pengobatan putranya. Zaini menandatangani seluruh dokumen yang dibutuhkannya. Kasihadi benar-benar tak menyangka upayanya ke Banda Aceh benar-benar dimudahkan oleh Allah. "Allah menolong saya melalui jalan yang sebelumnya saya pikir mustahil bisa terjadi.”

Sang anak yang kini berusia 17 tahun itupun akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik di Medan, Sumatera Utara. Kabar baik lainnya, segala biaya pengobatan ditanggung oleh Pemerintah Aceh. Dengan penanganan yang tepat, putra Kasihadi tak perlu diamputasi.

Kabar kedatangan Zaini dan rombongan ke Aceh Tamiang sampai di telinga Kasihadi. "Saya ingin sekali memeluk Pak Gubernur dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada bapak. Sekarang anak saya, alhamdulillah, sehat Pak. Dan itu berkat pertolongan Allah melalui tangan bapak,” ujarnya sambil terisak.

Zaini yang mendengarkan seluruh cerita itu pun tak kuasa menahan tangis. Dia melepas kacamata dan menyeka air mata. Kasihadi dan istri akhirnya dipersilakan naik ke atas pentas dan memeluk Abu Doto--sapaan Zaini--sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Suasana dalam kampanye itu dipenuhi rasa haru.

Kasihadi bertekad memenangkan Zaini. Dia merasa, bantuan yang diterimanya itu harus juga dirasakan oleh warga Aceh lainnya. Bagi Kasihadi, ini adalah jalan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin saat diberikan kepercayaan untuk mengayomi masyarakatnya.

Bagi Zaini, Aceh Tamiang adalah daerah yang spesial. Di sini, Zaini mengabdi sebagai dokter di salah satu puskesmas sebelum akhirnya “hijrah” ke Swedia dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh bersama Tengku Hasan Tiro.

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini

Umum
USK Jalin Kerja Sama dengan KPK

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala menjalin kesepakatan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya...