Unduh Aplikasi

Sisi lain Pilpres

Cerita petani Abdya yang rindu sosok Habibie

Cerita petani Abdya yang rindu sosok Habibie
Warga Abdya, Warga Abdya sedang mengupas pinang
ACEH BARAT DAYA –  Pagi Senin 14 Juli 2014, Ralian (65) warga Alue Rambot Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya) sedang mengupas pinang. Dia terlihat sangat serius dengan pekerjaan itu. Anak pinang dicongkel dari buahnya yang sudah dibelah. Dari sanalah dia bergantung hidup.

Kehadiran AJNN disambut dengan ramah. Dia bercerita banyak  tentang kebun pinang hingga menyasar ke Pemilu. Ternyata pada pemilihan Presiden 9 Juli 2014 lalu dia termasuk golongan putih (Golput). Bukan tanpa alasan mengapa dia tak memilih.


Dengan usia yang sudah melewati setengah abad, tentu dia sudah mengikuti beberapa kali Pemilu, baik Pileg maupun Pilpres. Tapi apakah Pemilu sudah merubah jalan hidupnya? Tidak, tidak sama sekali. Perempuan ini masih berprofesi sebagai petani. Bahkan hasil panennya kini semakin tak bernilai, harga jual turun dibandingkan belasan tahun lalu.

"Saya ingin Habibie menjadi Presiden," kata nenek bercucu empat ini.

Habibie adalah Presiden Indonesia ketiga, dia diangkat menggantikan Soeharto yang lengser karena tuntutan reformasi.

Dia mengaku saat Habibie memimpin negeri ini harganya pinang bisa lebih mahal dari pada sekarang. Bila sekarang pinang kering harganya jual Rp 11 ribu - Rp 12 ribu per kg, namun dulu bisa lebih.

Sambil mengeluarkan biji pinang dari kulitnya, dia sempat bergumam bahwa sebagai petani kecil dia merindukan sosok yang seperti Habibie.

Saat AJNN mengatakan bagaimana Pilkada dan Pileg Aceh? Kata Radian semua sama saja. Tak ada perubahan yang bisa membuat kehidupan petani sejahtera.

“Sama saja kan, mau gubernur, presiden, bupati. Yang pasti bagi saya, setelah Habibie jak u luwa nanggroe, (Habibie pergi ke luar negeri) tak ada lagi pemimpin yang layak dipilih,”ucap perempuan yang tampak cerdas untuk ukuran petani di Alue Rambot ini.

Karena itu pada tanggal 9 Juli lalu dia lebih memilih duduk dirumah daripada ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dia tak menyebut istilah golput karena dia tidak paham itu. Dengan nada yakin dia mengatakan bahwa hari pencoblosan bukan yang istimewa baginya.

Ada nada lucu dari kalimat yang disampaikan olehnya, bila ada kesempatan, dia akan mencoblos semua gambar yang ada. Dia tahu itu akan rusak. Tapi tidak memilih satupun kemungkinan akan menjadi pilihannya. Agar tidak timbul sakit hati dikemudian hari.

Sementara pada April Pileg 2014 dia juga golput. Dalam rentang bulan Maret dan April dia mendampingi anaknya bersalin. Baginya keselamatan anak terkasih dan calon cucu tercinta menjadi pilihan utama, daripada sekedar mengurus Pileg yang tidak jelas itu.

Seleranya terhadap pesta demokrasi telah hilang sama sekali. Kesempatan berpartisipasipun kemungkinan besar akan diabaikan.

Setali tiga uang dengan Boydah,  Ibnu Hajar (45) juga memberikan tanggapan yang lebih kurang sama. Menurutnya dari Pemilu yang telah dia ikuti baik Pilkada dan Pileg serta Pilpres, tidak satu pun yang memberi manfaat bagi orang kecil seperti dirinya yang berprofesi sebagai petani.

Harga hasil kebun tetap murah dan tidak stabil. Sedangkan kelompok-kelompok yang dekat dengan pejabat terus-menerus menumpuk harta.

Bagi dirinya berangkat ke kebun lebih pasti hasilnya daripada membuang waktu mengunjungi TPS. Sebab bila ke kebun pasti saat pulang akan membawa hasil. Sedangkan pulang dari TPS, yang dibawa pulang adalah ujung jari manis yang telah kotor oleh noda tinta biru.

“Tajak u lampoh jeulaih hase. Watee tawoe na pu tapuwoe ke aneuk mit. Menyoe tajak bak TPS nyan, wate tawoe nyang na aneuk jaroe cet nyang meulabo ngon daweut, bouh pu peukara nyan? Hana mupu pih,” (pergi ke kebun hasilnya sudah jelas, waktu pulang ada hasil yang dibawa untuk anak. Tapi kalau ke TPS pada hari H, waktu pulang yang dibawa cuma jari manis yang ujungnya telah belepotan tinta biru. Tidak penting),” ucap Boydah dengan nada tak bersemangat sambil memperlihat jari tangan yang sudah terbalut dengan kain setelah di gores parang saat mengupas pinang.

Suara apatis dan tidak menyambut gembira kehadiran pesta demokrasi lima tahunan itu bukan saja milik Boydah dan Ralian. Beberapa responden lain yang sempat AJNN wawancarai lebih kurang berpendapat sama. Pemilu, Pilkada,  atau entah namanya apalagi tetap tidak memberikan dampak apa-apa bagi warga kelas bawah.


Penguasa tetap pro pada pemilik modal. Kepentingan rakyat terus diabaikan. Akhirnya, sebagai pemilik sah suara, mereka enggan untuk datang ke TPS. Bilapun hadir, mencoblos lebih dari satu gambar calon menjadi pilihan.

Janibah, mahasiswi Universitas Muhammadiyah  Banda Aceh saat dimintai pendapatnya, Senin (14/7) terkait tanggapan dingin masyarakat terhadap Pileg dan pilpres kemaren mengatakan bahwa ketidak percayaan masyarakat akibat akumulasi kekecewaan terhadap pemimpin. Bagi pemilih yang sudah beberapa kali mengikuti Pemilu, sejak Orde Baru sampai sekarang tak memberikan dampak apa-apa kepada mereka. Hanya janji-janji kosong yang terus menerus mereka dapatkan.

Bahkan kekecewaan semakin terakumulasi saat orang-orang lokal menguasai tampuk pimpinan, kue pembangunan tetap saja dirasakan oleh sekelompok orang saja. Sedangkan petani, nelayan dan masyarakat lainnya yang tidak punya hubungan langsung, hanya menjadi penonton betapa pembangunan dan kesejahteraan hanya milik kelompok tertentu saja. Tidak menyeluruh.

“Kita tidak terkejut dengan apatisnya masyarakat yang tidak punya calon ideologis. Sebab kekecewaan telah terakumulasi sejak Orde Baru sampai sekarang. Lokal maupun nasional tak berdampak apa-apa bagi rakyat. Yang sejahtera hanyalah kelompok-kelompok tertentu,” ujarnya.

Arsyidin, warga setempat yang tinggal di Negeri Jiran Seulangor Malaysia, Senin (14/7) mengatakan golput atau tidak memilih satupun bukanlah solusi untuk menyelesaikan persoalan ketidak adilan. Sebab dengan abstain-nya masyarakat, akan berdampak pada kemunduran berdemokrasi.

Melalui jejaring facebook, dia berharap agar yang telah memutuskan untuk golput untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Sebab golput akan memberi kemenangan kepada pihak yang mungkin tidak diharapkan menang serta akan memimpin Aceh yang jauh dari keinginan.

Untuk memilih calon pemimpin, Arsyidin yang akrab disapa Bang Yoeng ini punya tips. Jika memang sulit memilih, ambil secarik kertas, tulis beberapa partai yang anda kenal, kemudian, pilih salah satu yang paling dekat dengan anda, kalau tidak juga anda temukan, pilihlah yang lebih peduli Aceh. nah setelah anda temukan berilah suara tersebut untuk mereka. Satu suara dalam pemilu layaknya satu gedung yang telah anda bangun. Memilih Golput ibarat melupakan apa yang terjadi di Aceh.

Hasbi yang merupakan Anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Abdya juga memberikan pendapat tentang “posisi putih” dalam Pemilu. Baginya golput identik dengan golongan putih, ini sama saja dengan orang yang tidak mau berbuat.

Walau itu sebenarnya adalah hak seseorang dalam berdemokrasi, tapi mestinya rakyat dapat berperan aktif dalam demokrasi. Dia mengatakan bagaimana nantinya kita akan mengkritik Gubernur, Bupati misalkan, toh saat Pemilu kita tidak pernah memilih. Siapa tahu dengan tidak adanya golput, akan terpilih orang yang baik.

“Demokrasi memang memberi ruang bagi siapapun untuk memilih barpartisipasi atau tidak. Namun, mestinya rakyat mengambil peluang ini untuk berpartisipasi penuh. Bila memilih untuk tidak mencoblos, bagaimana kedepan kita mau mengkritik, toh kita tidak pernah ikut mencoblos,” terang Hasbi saat berbincang dengan AJNN, usai pencoblosan Pemilihan presiden (pilpres) (9/7), lalu.

Selain itu, telah banyak regulasi atau Undang-undang yang telah memberikan kesempatan bagi rakyat untuk berpartispasi penuh. Sebut saja UU Pemilu Legislatif, UU Pemilu Presiden, UU 32 tahun 2004 jo UU no 12 thn 2008.

Hasbi juga menambahkan, tujuan dari Pileg adalah merupakan sarana demokratisasi di tingkat lokal yang dapat menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kesuksesan sebuah pemilihan umum setidaknya ditentukan oleh tiga hal penting yaitu, proses penyelenggaraannya, aturan-aturan  hukumnya, dan penegakan hukumnya.

Calon yang terpilih, akan kuat legitimasinya karena dipilih langsung oleh rakyat, sehingga diharapkan dapat tercipta stabilitas politik dalam pemerintahan daerah.

Lelaki kelahiran Gampong Mesjid kecamatan Tangan-Tangan  itu mengatakan golput tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab walau ada yang tidak ikut memilih, hasil Pemilukada tetap sah dimata hukum. Apalagi syarat dan ketentuan yang diperintahkan oleh Undang-undang telah terpenuhi.

RAHMAT
Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...