Unduh Aplikasi

Cerita Humairah, Gadis Asal Lhokseumawe Mampu Hafal 30 Juz Alquran di Usia 18 Tahun

Cerita Humairah, Gadis Asal Lhokseumawe Mampu Hafal 30 Juz Alquran di Usia 18 Tahun
Humairah Muhtadi. Foto: For AJNN

LHOKSEUMAWE - “Sebaik baik diantara kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya(HR Bukhari)”, hadis itu keluar dari mulut remaja berusia 18 tahun asal Kota Lhokseumawe.
 
Dialah, Humairah Muhtadi, putri dari pasangan Deni Muhtadi Andepa dan Fauziah Harun ini, sudah mampu menghafal 30 juz Alquran di usianya yang masih tergolong muda.
 
Mahasiswi semester pertama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, ini memiliki cita-cita yang sangat mulia, yakni menjadi penerus dalam mendidik generasi generasi penghafal Al-Quran dan menjadi seseorang yang terus bisa mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya.
 
“Saya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ke dua orangtua,” kata gadis manis yang memiliki  hobi membaca buku dan murojaah itu kepada AJNN, Senin (19/10).
 
Lahir di Lhokseumawe, 17 Januari 2002, Humairah panggilan-akrab-Humairah Muhtadi, sudah mampu meraih berbagai prestasi, yakni, juara 1 Tahfizh 10 Juz di MTQ Banda Aceh 2017, juara 1 Tahfizh 10 Juz putri di One Day with Muslimah IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Se-Provinsi Aceh.
 
Kemudian, juara 1 Tahfizh 10 Juz Putri di FAQI(Festival Anak Qurani), juara 1 Tahfizh 10 Juz Putri di MUQAS(MUQ Pagar Air) tahun 2018, juara 1 Tahfizh 5 Juz putri di MUQAS tahun 2017
juara 3 Tahfizh 3 Juz tingkat SMA/MA se Aceh di Saleum MAN Model.
 
“Alhamdulillah, ini suatu nikmat yang tidak dapat dihanturkan dengan kata-kata, karena keseharian kita yang terus ditemani dengan Alquran,” ujar Humairah saat ditanyai bagaimana perasaan menjadi hafizah 30 juz di usia muda.
 
Tidak mudah jalan untuk menjadi seorang hafizah, Humairah mampu menghafal 30 juz tersebut dalam jangka waktu tiga tahun dengan berbagai kendala yang dilewati. Humairah mengaku, kendala yang paling utama yakni mental (Psikologis ) yang sangat berpengaruh.

“Ketika kita menghafal Alquran, dimana jin dan syaitan juga ikut mempengaruhi, menggoda, sehingga kita malas dan ragu dalam menghafal Alquran, keyakinan rusak, apakah mampu menghafal, mengamalkan, dan pantas menjadi penghafal Alquran,” ungkapnya.
 
Salah satu cara terbaik untuk melatihnya, kata Humairah, dengan cara meniatkan bahwasannya semua itu milik Allah SWT, sang Maha Khaliq telah memberikan kekuatan sehingga mampu menghafal, mengamalkan dan mengajarkannya.
 
Mudah lupa sudah pasti, kata Humairah, itu adalah hal yang seringkali terjadi kepada penghafal Alquran. Apalagi bagi mereka yang baru-baru memulainya akan merasakan susahnya mengingat Alquran yang telah dihafal.
 
“Bahkan dapat diibaratkan seperti ikan, ketika kita menghafal bagian depan, maka akan lupa bagian belakang dan terus sebaliknya. Hal yang harus diperhatikan adalah semua ini milik Allah SWT, kita hanya bisa berusaha, tapi semua ini hanya milik Allah SWT,” aku Humairah.
 
Dari segi managemen waktu, Humairah mengaku harus mampu membagi waktu untuk mengulang hafalan, baik itu yang baru maupun yang lama. Maka disana dibutuhkan managemen waktu yang baik.
 
“Menurut saya pondok atau asrama adalah tempat terbaik untuk menghafal, karena pondok dan asrama memiliki managemen waktu yang baik untuk menghafal,” tuturnya.
 
Dari segi skala perioritas, penghafal dituntut untuk mengutamakan, apa yang harus diprioritaskan, seperti hafalan, pendidikan, serta hiburann harus diseimbangkan, akan tetapi harus tetap diutamakan setiap harinya bersama Alquran, karena Alquran itu sudah menjadi bagian dari penghafal Al-quran itu sendiri.
 
“Begitu juga dengan godaan media sosial dan lingkungan, hal yang sangat luar biasa terjadi di era globalisasi ini adalah banyak dari penghafal Alquran setelah keluar dari lingkungannya, dari pondok, atau menemukan sesuatu yang baru, maka dia akan meninggalkan Alquran, karena faktor dari lingkungan kehidupannya,” jelas Humairah.

Oleh karena itu, kata Humairah, apabila sudah mendapatkan lingkungan, diharapkan agar tidak meninggalkannya Alquran, karena hal tersebut akan berakibat sangat fatal. Akan tetapi hakikat penghafal itu bukanlah mampu menghafalnya, tapi mampukah istiqomah dengan Alquran, mengamalkannya, mengajarkannya dan terus bersama kitab suci, itulah penghafal Alquran sebenarnya.
 
“Banyak kesan yang kita dapatkan ketika sedang menghafal Alquran, diantaranya adalah godaan, perjuangan, kesedihan, kebahagiaan dan segala rasa yagn telah bercampur aduk didalamnya,” ungkap gadis jelita ini.
 
Humairah juga berpesan kepada generasi muda mendatang, penghafal Alquran adalah seseorang yang berusaha untuk menjadi keluarganya Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat.
 
Artinya, mereka berusaha untuk selalu dekat dan ingat pada Allah SWT di manapun dan kapan pun, dengan cara menghafalkan kitab yang Allah turunkan yaitu Alquran. Alquran yang Allah SWT turunkan memang memiliki keutamaan yang sangat banyak.
 
Bagi penghafal Alquran, bukan hanya dirinya sendiri yang akan mendapatkan keutamaan tetapi keluarga, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya juga akan mendapatkan keutamaannya.
 
“Alquran adalah kitab suci yang tiada keraguan di dalamnya, bukankah Alquran merupakan salah satu kunci kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, semua yang ada di Alquran sekarang terbukti adanya. Lalu apa yang masih kita ragukan,” ungkap Humairah.
 
Sambungnya, tidakkah malu selama 24 Jam setiap harinya menghabiskan bersama manusia terus menerus, telepon genggam kini menjadi hal yang sangat biasa apabila dibuka di keramaian. Tapi bagaimana dengan Alquran.
 
“Tidak peduli seberapa hebat kita, semua itu milik Allah, dan akan kembali kepadanya dan akan dipertanyakan. Oleh karena itu kita sebagai umat muslim, seharusnya malu, dengan segala nikmat yang kita nikmati dari Allah SWT, tapi kita lupa akan kalam Allah, jangan kan menghafal, membaca pun tidak mau,” tuturnya.
 
Humairah berharap, semoga kedepan para generasi muda yakin mampu menghafal Alquran, karena Allah SWT lah pemilik segala nya. Alquran tidak akan pernah membuat manusia bodoh, tertinggal atau membuat miskin, terbukti sekarang tidak ada penghafal Alquran yang tinggal di bawah jembatan dan kelaparan. Jika ia telah menjaga kalam Allah, maka Allah lah yang akan menjaganya.
 
“Tidak ada hafalan yang sulit, yang sulit hanyalah tidak menghafal, tidak ada hafalan yang benar-benar lupa, yang ada hanya mengendap mengembalikan hafalan lebih mudah daripada menambah hafalan, tidak ada metode yang salah, yang salah salah metode itu tidak murojah, tidak ada hafalan yang sedikit, berapapun hafalannya sangat berharga,” imbuhnya.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...