Unduh Aplikasi

Cara Hebat Habiskan Anggaran

Cara Hebat Habiskan Anggaran
Ilustrasi: befreetour.

BUPATI Aceh Tenggara Raidin Pinim tak perlu ragu untuk menghentikan rencana 385 aparatur desa dari 16 kecamatan di Aceh Tenggara pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jika tidak, dapat diduga Raidin mendapatkan keuntungan juga dari kepergian ratusan kepala desa itu. 

Tak perlu analisis mendalam untuk mengetahui bahwa kegiatan yang dibalut dengan nama "Pengembangan Wisata Desa" tersebut hanya sekadar menghabis-habiskan anggaran. Apalagi, biaya keberangkatan kepala desa itu dibebankan ke masing-masing desa, yakni sebesar Rp 30 juta.

Untuk memberangkatkan ratusan kepala desa itu, total uang desa di Aceh Tenggara yang dihabiskan mencapai Rp 11 miliar. Andai saja Raidin dan aparatnya benar-benar ingin mengembangkan desa wisata, uang itu lebih dari cukup untuk mendatangkan ahli dan praktisi pariwisata untuk mengembangkan potensi di setiap desa di Aceh Tenggara.

Untuk mengetahui cara mengembangkan desa wisata juga tak perlu jauh-jauh. Dari ujung dari saja dapat diketahui seabrek informasi yang dapat diadaptasi di masing-masing daerah. Tentu saja ini membutuhkan kreatifitas dari para pemangku kepentingan pariwisata. Karena tak semua hal di Lombok dapat diadaptasi di Aceh Tenggara. 

Para pejabat di Aceh Tenggara pun seharusnya memahami bahwa kesuksesan sektor pariwisata sangat ditentukan oleh infrastruktur yang memadai. Bahkan ini adalah syarat utama agar wisatawan mau kembali lagi dan mempromosikan lokasi itu kepada orang lain lewat media sosial. 

Dan ini adalah cara promosi paling murah dan efektif ketimbang menggelontorkan uang banyak untuk promosi yang jauh panggang dari api. Teknologi internet dan kampanye dari mulut ke mulut masih menjadi cara paling efektif untuk meyakinkan orang lain datang ke satu lokasi wisata. 

Dari semua desa yang dilibatkan, tentu tidak semua yang cocok untuk dikembangkan sebagai daerah wisata. Ada daerah-daerah yang seharusnya dibangun sebagai penopang pariwisata andalan di beberapa kecamatan di Aceh Tenggara. Untuk mempelajari hal itu, tak perlu jauh-jauh terbang ke NTB. 

Namun ternyata hal ini bukan pilihan. Iming-iming jalan-jalan dan uang jalan lebih menggiurkan. Bahkan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, studi banding masih dianggap sebagai sebuah kewajaran.

Mereka, para penggagas acara dan pesertanya, lupa bahwa yang mereka habiskan itu adalah uang yang dihimpun dari rakyat yang saat ini mengalami kesulitan. Cara ini menjadi metode paling mudah untuk menghabiskan anggaran. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...