Unduh Aplikasi

Bupati Aceh Barat Polisikan Teungku Janggot Terkait Kericuhan di Pendopo  

Bupati Aceh Barat Polisikan Teungku Janggot Terkait Kericuhan di Pendopo  
Kuasa hukum Bupati Aceh Barat, Abdullah Saleh (Memakai peci hitam) saat konferensi pers Selasa, (12/1) di Meuligoe Hotel Meulaboh. Foto: AJNN/Darmansyah Muda.

ACEH BARAT- Bupati Aceh Barat, Ramli MS melaporkan Zahidin alias Teungku Janggot (41), warga Desa Darul Ikhsan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan ke Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat.

Laporan yang disampaikan langsung oleh Ramli MS terhadap Zahidin tersebut, disampaikan oleh kuasa hukum Ramli, Abdullah Saleh dalam konferensi pers Selasa, (12/1) yang berlangsung di Meuligoe Hotel Meulaboh.

Menurut Abdullah Saleh, Bupati Aceh Barat tersebut melaporkan Teungku Janggot dalam perkara dugaan pengancaman dengan kekerasan serta dugaan pencemaran nama baik terhadap Ramli, atas insiden kerusuhan Pendopo yang terjadi pada 18 Februari 2019 lalu.

"Terkait kasus pendopo Bupati Aceh Barat. Ada pengaduan di Polda Aceh yang sudah ditangani, dan ada juga pengaduan yang disampaikan Ramli sendiri dalam kasus tindak kekerasan dan pengancaman di Polres Aceh Barat, yang saat ini sedang ditangani saat ini dalam tahap penyelidikan, dan besok informasi yang saya dapat akan gelar perkara," kata Abdullah Saleh, dalam keterangan persnya.

Baca: Diduga Pukul Warga, Bupati Aceh Barat Dipolisikan

Dikatakan Abdullah Saleh, dalam gelar perkara yang akan berlangsung besok di Polres Aceh Barat, untuk menentukan apakah dihentikan atau akan masuk pada tahap penyidikan dan penetapan tersangka kasus tersebut. Abdullah Saleh sendiri selaku kuasa hukum Ramli sedang menunggu konfirmasi.

Dia menjelaskan, dalam perkara yang dilaporkan Bupati Aceh Barat, Ramli ada dua kasus sekaligus itu dengan nomor LP/81/VII/2020/SPKT
Tanggal 17 Juli 2020.

Saleh menyebutkan, ancaman kekerasan tersebut terjadi saat peristiwa adu mulut dengan nada tinggi yang menurutnya ada unsur kekerasan, terkait tagihan utang Akrim yang dilakukan Teungku Jangggot kepada Ramli.

Saat itu menurut Abdullah Saleh,Ramli sebelumnya menolak dengan mengatakan "Nah coba lihat di surat itu, mana ada saya disitu". Setelah itu Teungku Janggot menurutnya sedikit gugup. 

"Coba baca Jal, lalu setelah dibaca oleh si Jal tidak ada nama Ramli MS. Baru dia bilang dan pukul meja 'Beutat hana nan droen, tapi droen harus tanggong jaweub (meski tidak ada nama anda tapi anda tetap harus tanggung jawab). Nah itukan sudah memaksa dia," kata Abdullah Saleh, mengulang rekaman video tersebut.

Selain itu, terkait dengan kasus pendopo tersebut, kata dia, masuk juga dalam kasus dugaan pencemaran nama baik, atas tuduhan Ramli memiliki hutang terhadap Akrim yang masuk dalam satu delik aduan tersebut.

Dalam konfrensi pers yang dihadiri oleh mantan anggota Forum Tiga Wilayah (Fortil) yakni Safrizal alias Wakjal, Darmansyah alias Mancah serta Al-Anis, Saleh menyebutkan dalam perkara kasus dugaan pemukulan oleh Ramli terhadap Teungku Janggot yang saat ini telah ditetapkan tersangkanya yakni Si Yan alias Om. 

Saleh menyebutkan telah menyerahkan perkara tersebut dalam proses hukum, dan tidak lagi ada perdamaian.

Kata Saleh, upaya untuk damai saat itu telah ditempuh pihaknya namun keluarga Teungku Janggot menolak sehingga saat ini Bupati Ramli, dan dia sebagai kuasa hukum telah menyerahkan langsung sesuai prosedur hukum.

Saleh juga menjelaskan, perkara tersebut saat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik Polda Aceh, sempat memutar video kejadian dengan perlahan atau slow motion, guna memastikan ada atau tidaknya pemukulan.

Dari detail video itu, kata dia, tidak ada pemukulan seperti yang diadukan Teungku Janggot terhadap Ramli yang menyebutkan ia mendapat kekerasan dari Ramli.

"Waktu pemeriksaan terhadap Ramli, video itu memang diputar secara perlahan pergerakan semua dalam video ini ya, kelihatan di situ bahwa sebelum terjadi keributan itu Teungku Janggot posisi tangannya pun sudah kepal dia, saat dialog sudah tegang dia. Pak Ramli ini pun bilang jadi "kiban cit (jadi gimana juga)" karena keras suara pak Ramli lalu dia biang "bek kreuh su(jangan keras suara)" sambil mukul meja," ucap dia.

Baca: Saksi Kunci: Yang Pukul Tgk Janggot Memang Bupati Aceh Barat

Dalam video itu, kata dia, setelah memukul meja Teungku Janggot lebih dahulu berdiri dari posisi sebelumnya duduk berhadapan dengan Ramli. Dan dalam posisi itu, kata Saleh, Teungku Janggot mengarahkan tangan kirinya ke arah Ramli dan kemudian Ramli ikut bangun dan menangkis tangan kiri Teungku Jenggot untuk melidungi diri.

Saleh menjelaskan, pihaknya sangat bersyukur dengan adanya video tersebut. Dari video itu pihaknya bisa melihat kronologis sebenarnya yang berkaitan dengan video tersebut.

Saleh menuding bahwa dalam perkara ini, keterangan pers yang dilakukan pengacara Teungku Janggot serta saksi, terlalu sering memberikan keterangan yang mengarah pada pembentukan opini secara sepihak.

Sementara itu Safrizal yang saat itu ikut bersama dengan Teungku Janggot menagih hutang kepada Ramli MS, menyebutkan bahwa saat peristiwa dugaan pemukulan terhadap Teungku Jenggot dilakukan oleh Ramli, dirinya tidak melihat peristiwa itu.

"Saat ribut-ribut, saya usai membacakan surat saat itu tidak melihat Bupati Ramli memukul Teungku Janggot, karena saya dalam posisi membalikkan badan hendak pergi, dan melihat si Yan alis Om memegang kursi hendak melemparkan ke arah Teungku Janggot," kata Safrizal yang hadir dalam memberikan keterangan sebagai saksi dalam konfrensi pers tersebut.

Karena dasar itu, kata dia, ia saat itu mencabut keterangan pertama yang disampaikan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebelumnya yang disampaikan dihadapan penyidik, Direskrim, Polda Aceh.

Pencabutan BAP itu, kata dia, langsung ditemani Abdullah Saleh karena ia meminta agar ditemani Abdullah Saleh, akhirnya memberikan keterangan sesuai yang ia saksikan pada peristiwa tersebut.

Tidak hanya Safrizal, rekannya Mancah yang ikut hadir juga menyebutkan tidak melihat secara lansung peristiwa itu sebab saat kejadian ia berada didalam mobil yang diparkir di bahu jalan berdekatan dengan pos penjagaan Pendopo Bupati.

Mancah mengaku baru mengetahui adanya peristiwa keributan di saat melihat Teungku Janggot dan beberapa rekan mereka keluar dari Pendopo dengan posisi saat itu Teungku Janggot dipegang oleh salah seorang dari rekan mereka dibawa keluar dari Pendopo

Mancah mengaku dalam peristiwa tersebut, ia menyebut saat keluar dari Pendopo tidak ada luka memar di wajah Teungku Janggot, hingga peristiwa tersebut dilaporkan ke Polisi.

"Jadi saat itu ketika, laporkan ke Polisi sebenarnya Teungku Janggot tidak ada apa-apa. Tapi disetting seolah-olah lemas saat nanti di Polres. Tapi saat melaporkan di ruangan SPKT malah Teungku Janggot berdiri biasa saja, tapi ada salah satu yang membisik agar Teungku Jenggot pura-pura lemas dan tidur, saat itulah Teungku Jenggot baru teringat dan melemaskan diri seperti habis teraniaya," kata Mancah.

Saat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh, ungkapnya pihak rumah sakit tidak bisa mengeluarkan visum wajah lantaran tidak ada luka apapun.

"Terus setelah itu, Akrim saat itu memerintahkan saya untuk membawa Teungku Jenggot ke rumah sakit ujung Fatihah, Nagan Raya. Karena ia takut Teungku Janggot didatangi wartawan, dan ketahuan settingan ini," ungkap Mancah.

Lalu, ucapnya, atas permintaan Akrim lalu Teungku Janggot dibawa ke Rumah Sakit Sultan Iskandar Muda (SIM) Nagan Raya. Ditengah perjalanan, didalam mobil yang saat itu ada beberapa orang sebut Mancah, mereka kembali merekayasa dengan memukul-mukul wajah Teungku Janggot dengan tujuan agar saat visum et vertum dilakukan di RSUD SIM Nagan Raya keluar hasil visum wajah.

Tetapi meski telah dilakukan hal demikian, kata dia, dokter disana juga tidak bersedia mengeluarkan hasil visum wajah, kecuali visum bagian perut kiri dibawah rusuk.

"Sebenarnya, diperut kiri bagian bawah rusuk juga tidak luka memar hanya goresan sedikit sebenarnya kondisi Teungku Janggot saat itu tidak para, itu yang ada selang oksigen itu hanya pasang tapi itu pengatur oksigen tidak kami hidupkan. Kami pasang saat itu untuk ambil dokumen saja," sebut Mancah.

Sebagai orang yang menemani Teungku Janggot selama di rawat di RSU SIM Nagan Raya selama tiga hari, kata dia, infus yang dipasang juga tidak difungsikan karena Teungku Janggot tidak lemas, dan termasuk obat, kata dia, juga tidak pernah diminum, lantaran Teungku Jenggot sebenarnya tidak sakit.

"Karena saat itu visum juga tidak bisa dikeluarkan, Akrim suruh saya agar bisa mengupayakan visum keluar. Dan saya coba telepon direkturnya yakni dokter Doni, dan dokter Doni bilang coba hubungi dokter Bembeng kalau tidak salah namanya," ujar Mancah. 

"Saya telepon dokter Bembeng minta dikeluarkan hasil visum muka, meski dengan keterangan sedikit tapi tetap tidak bisa. Jadi sampai saat ini nggak ada keterangan visum di muka," tambahnya.

Komentar

Loading...