Buka Usaha Perabot, Pemuda asal Lhokseumawe Raup Omzet Ratusan Juta Per Bulan

Buka Usaha Perabot, Pemuda asal Lhokseumawe Raup Omzet Ratusan Juta Per Bulan
Pekerja menyelesaikan pengerjaan perabot di Lhokseumawe. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – “Karena cita-cita saya ingin jadi pengusaha” itulah kalimat yang keluar dari mulut Muhammad Faisal, pemuda berusia 22 tahun sembari memasang baut di perabot rak piring yang sedang dirakitnya.

Tepat di Jalan Pasee, Kota Lhokseumawe, anak ke dua dari lima bersaudara itu, membuka toko untuk membuat dan menjual perabot dari aluminium dan kaca. Usaha yang baru dibesarkan lima bulan lalu itu merupakan miliknya sendiri.

Dengan kancah, terlihat empat pemuda membuat rak hias dan rak piring serta twalet, diiringi dengan suara gerenda dan lantunan lagu.

Tidak memakai seragam layaknya perkerja kantoran, namun mereka memilih membuat kaos berseragam yang bertuliskan “pengusaha muda”.

“Motivasi saya membuka toko perabot ini karena dari dulu sudah bercita-cita ingin jadi pengusaha muda,” kata pemuda brewokan itu kepada AJNN, Sabtu (25/1).

Setelah lulus di Jurusan Perabot di SMKN 4 Lhokseumawe, putra dari pasangan Dahlan Ismail dan Nurhabibah itu, memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Padahal ia sempat mendapat tawaran beasiswa.

“Saya tidak suka kuliah, karena lebih suka membuka usaha sendiri, sehingga bisa memberikan peluang lapangan kerja untuk orang lain,” ujar pria yang masih lajang tersebut.

Di toko perabot yang dirintisnya sudah menampung enam orang pekerja. Dalam tiga hari, mereka mampu menyelesaikan sebanyak dua hingga tiga perabot.

“Di sini kami membuat perabot berupa rak hias, rak piring, twalet dan lainnya tergantung dari pesanan pembeli. Bahan bakunya bersumber dari aluminium dan kaca,” ucapnya.

Untuk harga, kata Faisal, paling murah Rp2,2 juta dan paling mahal Rp7 juta, tergantung kualitas dan ukuran barang yang di pesan. Sementara sejauh ini, karya tangannya itu masih dijual di dalam daerah seperti, Bireuen, Aceh Utara, dan sejumlah daerah lainnya.

“Barangnya ada yang pesan dan ada yang beli ke toko. Kalau yang pesan biasanya seperti, keperluan untuk kantor, bank, dan saat ada proyek lainnya. Sementara untuk bahan baku kita ambil dari Medan,” tuturnya.

Lanjut Faisal, dalam satu bulan dirinya mampu mendapat omzet Rp20 juta dan maksimal sampai Rp100 juta lebih. Sementara resiko terbesar saat mengerjakan perabot itu ada kaca, karena dikhawatirkan akan menimpa dan jatuh ke atas para pekerja.

“Pesan saya kepada seluruh generasi muda lainnya, jika ingin mandiri, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Karena yang mewujudkan mimpi seseorang itu diri sendiri dan bukan orang lain,” imbuhnya.

 

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini