Unduh Aplikasi

Buka-bukaan Dokumen Amdal

Buka-bukaan Dokumen Amdal
ilustrasi.

MELIHAT kerusakan lingkungan di Aceh saat ini, usulan agar analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dipublikasi secara luas adalah sebuah keharusan. Dan melihat potensi kerusakan yang terjadi di Aceh, dengan pembukaan perusahaan-perusahaan perkebunan atau pertambangan serta proyek-proyek lainnya yang berdampak langsung pada kepentingan publik, publikasi seluas-luasnya terhadap amdal menjadi semakin mendesak.

Aturan ini dilakukan berdasarkan sejumlah amanah undang-undang. Di awal rencana, kriteria yang akan diukur dari aturan ini adalah lingkungan sosial, bukan sekadar aspek fisik, seperti pencemaran atau air dan tanah atau penyebaran zat-zat yang membahayakan masyarakat yang menetap di sekitar lokasi proyek.

Namun ternyata, para pengusaha memiliki cara untuk mempersingkat proses pengajuan izin ini. Pada 1993 setiap usaha berdampak besar hanya memerlukan izin dari kementerian terkait, dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Belakangan peran ini dilimpahkan ke daerah dengan harapan masyarakat lebih mudah terlibat dalam urusan amdal.

Prinsip-prinsip kapitalisme ini jelas bertentangan dengan undang-undang dasar negara ini. Namun “tawaran” pengusaha lebih menggiurkan pemerintah ketimbang meletakkan kepentingan masyarakat untuk mengkritik atau membuat usulan setelah rencana amdal ini dipublikasikan secara luas. Rekan mereka di dewan perwakilan rakyat juga tenang-tenang saja dan menganggap ini bukan kepentingan rakyat yang terus menderita akibat perubahan lingkungan di sekitar mereka.

Atas nama investasi, harusnya tidak semua hal dihalalkan. Termasuk dengan mengorbankan pentingnya pembukaan dokumen amdal seluas-luasnya. Pemerintah dan perusahaan harus bersabar dan menghargai kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakat, tidak hanya di Aceh.

Dengan demikian, tidak ada gesekan yang berujung pada kerugian di dua pihak; perusahaan dan masyarakat. Ini adalah zaman negosiasi, bukan masa-masa kelam saat kekerasan sangat dekat dengan masyarakat yang menetap di sekitar lahan milik korporasi kaya.

Komentar

Loading...