Unduh Aplikasi

BPBA: Penurunan Tanah di Aceh Besar Bukan Fenomena Likuifaksi

BPBA: Penurunan Tanah di Aceh Besar Bukan Fenomena Likuifaksi
Retakan tanah di Desa Lam Kleng, Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Foto: AJNN/Indra Wijaya

BANDA ACEH - Kepala Badan Penaggulangan Bencana Aceh (BPBA) Ilyas menyebut fenomena penurunan tanah sepanjang 30 meter di Desa Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar beberapa waktu lalu, bukan likuifaksi seperti yang terjadi di Palu.

Saat di lokasi kejadian, ia melihat tanah yang retak tersebut berdekatan dengan pinggiran sungai.

"Selain itu banyak juga terjadi aktivitas di pinggiran sungai yang membuat tekstur tanah disana mengalami kerusakan," kata Ilyas kepada wartawan, Senin (18/1).

Sebab, kata Ilyas, berdasarkan pengalaman kejadian likuifaksi di Kota Palu beberapa tahun lalu, kejadian tersebut tidak berada di pinggiran sungai.

"Kalau di Palu tidak ada sungai, di dekat terjadinya likuifaksi," ucapnya.

Sambungnya, BPBA saat ini akan terus berkoordinasi dengan tim ahli, BPBD Aceh Besar dan sudah menurunkan tim ke lokasi kejadian.

"Sebab kalau kita lihat hari ini, setiap harinya terjadi pergeseran 30 sampai 40 centimeter tiap harinya," jelasnya.

Hal itu disebabkan karena tekstur tanah yang berada di permukaan terjadi rembesan air ke dalam pecahan tanah.

"Jadi dia terus tergerus. Dan itu tidak bisa kita pertahankan. Kalaupun ditimbun, nanti lama-lama dia akan turun juga," ungkapnya.

Kata Ilyas, masyarakat yang rumahnya berada di atas permukaan tanah yang retak itu harus pindah. Ia menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Besar harus segera mengevakuasi penduduk yang berada di sekitar lokasi kejadian.

"Total semua menurut pantauan kami di bantaran itu ada 12 rumah. Yang terkena imbas langsung itu ada tiga rumah," pungkasnya.

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...