Unduh Aplikasi

Bogor FC dan Aceh United Belum Bisa Memakai Nama Baru

Bogor FC dan Aceh United Belum Bisa Memakai Nama Baru
Foto: Kumparan

JAKARTA - Kabar merger klub kembali terdengar. Bukan di Liga 1, melainkan di Liga 2.

Menjelang bergulirnya Liga 2 pada 22 Juni 2019, dua klub sudah berganti wajah, yaitu Bogor FC dan Aceh United. Bogor FC berganti rupa menjadi Sulut United sedangkan Aceh United berubah menjadi Babel United.

Merger dilakukan lantaran kedua klub mengalami kesulitan. Tahun ini, Bogor FC ditinggal seluruh pemain, pelatih, hingga CEO-nya. Klub berjuluk 'Laskar Kujang' itu juga tak diterima oleh masyarakat Bogor.

Beragam skenario dirancang, mulai dari membawa klub keluar dari Bogor hingga mencari investor anyar. Cara pertama terbilang sulit. Upaya kedua pun menjadi jalan tengah untuk membuat Bogor FC tetap hidup.

Tak dinyana, mereka justru mendapatkan dua-duanya. Setelah mendapatkan investor, Bogor FC pun diboyong keluar kota. Bogor FC lantas bersalin rupa menjadi Sulut United dan bermarkas di Stadion Klabat, Manado.

Perubahan itu bukan tanpa masalah. Selain nama Sulut United yang belum bisa digunakan, Stadion Klabat juga tak lolos verifikasi.

“Pembahasan soal Bogor FC sedikit lama. Mereka bertekad pindah ke Stadion Klabat. Namun, hasil verifikasi menyebut kalau masih harus ada pembenahan. Mereka pun masih meragukan bisa atau tidak (selesai pembenahan). Setelah nanti Liga 2 bergulir, mereka meminta bermain tandang dulu," ujar Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Dirk Soplanit. PT LIB sendiri merupakan pengelola liga.

"Nah, ini pasti bisa mengubah jadwal. Jadi, kami harus meminta kepastian mereka supaya cepat diambil keputusan. Status mereka ‘kan dari tim Wilayah Barat berubah ke Timur. Kalau kondisinya begini, mereka bisa balik lagi ke Barat,” kata Dirk.

Sementara soal perubahan nama, Bogor FC baru bisa memakai label baru setelah disahkan di Kongres PSSI 2020. Begitu pula dengan nasib Aceh United.

Seperti diketahui, Aceh United harus merger dengan PS Timah Babel lantaran kesulitan finansial. Usai merger, mereka sepakat untuk memakai nama Babel United.

Namun, nasib Aceh United lebih mendingan ketimbang Bogor FC. Kandang anyar 'Laskar Iskandar Muda', Stadion Depati Amir di Bangka Belitung, tak mendapatkan tanda-tanda gagal verifikasi dari PT LIB. Artinya, mereka tinggal melalui transisi perubahan rupa saja.

“Statusnya, Bogor FC dan Aceh United hanya berpindah tempat dulu. Nama masih tetap. Ke depan kalau mau begitu (ganti nama) ada prosesnya. Pindah kandang ‘kan untuk meringankan beban mereka juga. Ditambah lagi kedatangan investor ‘kan. Nah, kalau nama ini belum bisa berubah dulu,” ucap Dirk.

“Ini menyangkut keanggotaan di PSSI. Tidak bisa mengubah begitu saja. Mengesahkan nama klub, badan hukum barunya, pengurusnya siapa saja, itu harus melalui Kongres PSSI. Statusnya bukan klub yang bertanding, tapi soal status anggota. Apalagi kalau dia voter,” kata Dirk.

Pernyataan Dirk itu diamini Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria. Tisha lebih detail menyebut bahwa mengganti nama boleh, tapi hanya terkait urusan marketing saja.

“Perubahan nama atau logo misalnya, belum boleh diubah. Mereka harus menjalankan transisi yang nantinya diserahkan di Kongres PSSI 2020. Bahkan, perpindahan badan hukum saja tidak mengubah status keanggotaan. Jadi, anggota semacam Persikabo atau Perseru tetap masih ada sebagai anggota PSSI walaupun sudah dimerger dengan PS Tira dan Badak Lampung. Artinya, dia tidak hilang begitu dimerger. Lalu, tidak masalah juga kalau mengubah nama dan logo terkait pemasaran. Di luar negeri pun begitu. Tahun ini juga masih bisa memindahkan kandang,” ujar Tisha.

Klub-klub semisal Persikabo, Perseru, Bogor FC, dan Aceh United masih terdaftar berikut dengan kandang lamanya. Dengan kata lain, merger tak membuat keempatnya serta-merta hilang meski terbilang sudah ‘tidak aktif’. Kondisi itu memungkinkan status keanggotaan mereka di PSSI dicabut, tapi hanya melalui Kongres PSSI.

Menurut Tisha, ini merupakan tahun terakhir klub-klub yang bermerger bisa memindahkan kandang. Pasalnya, tahun depan aturan itu tak berlaku. Ia menambahkan bahwa musim 2019 menjadi periode terakhir PSSI dalam ‘menertibkan’ persoalan merger klub.

“Tahun 2020 keluar regulasi keanggotaan terkait pendaftaran klub anggota, kandang, nama, dan logo. Kandang tidak bisa dipindahkan. Apabila ada merger atau jual-beli, itu hanya entitas badan hukumnya saja, bukan klubnya. Seyogianya, klub masih ada dan melekat keanggotaannya di PSSI,” ujarnya.

Komentar

Loading...