Unduh Aplikasi

Bocah Korban Penganiayaan Orang Tua di Lhokseumawe: Takut Pulang Kalau Tidak Ada Uang

Bocah Korban Penganiayaan Orang Tua di Lhokseumawe: Takut Pulang Kalau Tidak Ada Uang
Orang tua bocah yang dianiaya karena tidak membawa pulang uang hasil mengemis. Foto: Ist

LHOKSEUMAWE – Maulindar Syaputra, bocah berusia sembilan tahun yang menjadi korban penganiayaan dan diikat dengan rantai kini tinggal bersama bundanya (cecek) di Gampong Keramat, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

“Iya, sekarang dia tinggal bersama Ceceknya (adik ibunya),” kata Yusuf, Kepala Dusun di Gampong Tempok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, kepada AJNN, Kamis (19/9).

Sambungnya, pihak Kepolisian juga sudah mendatangi rumah yang menjadi tempat keluarga tersebut. Dan saat memasuki rumahnya terlihat rantai dan tali bergelantungan, yang awalnya dipikir hanya tali ayunan.

Baca: Nasib Keluarga Bocah Korban Penganiaayan Orang Tuanya di Lhokseumawe

“Dan ternyata tali tersebut dipakai untuk mengikat tangan bocah berusia 9 tahun itu. Disitu juga kadang dia dipukul,” ungkap Kadus.

Kadus juga menyebutkan, anak tersebut selama berkerja sebagai pengemis sudah tidak sekolah lagi, bahkan sampai tengah malam kadang tidur di trotoar karena tidak berani pulang jika tidak membawa uang hasil mengemis.

“Kalau tidak ada uang ya dia tidak pulang ke rumah,” ujarnya.

Komentar

Loading...