Unduh Aplikasi

Bocah Bocor Empedu di Lhokseumawe Butuh Uluran Tangan Dermawan

Bocah Bocor Empedu di Lhokseumawe Butuh Uluran Tangan Dermawan
Fatih Akbar di pangkuan ibunya

LHOKSEUMAWE - Fatih Akbar, balita berusia 2,5 tahun hanya mampu duduk dipangkuan ibundanya dengan nafas tersengal-sengal akibat hati dan pankreasnya membengkak, dia menderita bocor empedu.

Akbar merupakan anak dari Cut Indayani (42) warga Desa Uteung Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh cuci baju di rumah tetangganya.

“Semenjak kecil kami menggil dengan sebutan nama Akbar, Akbar sejak usia tiga bulan kerap mengeluarkan darah segar dari hidung dan anus selama berhari-hari lamanya," kata Cut Idayani saat ditemui AJNN, Selasa (23/1) sore.

Cut Indayani, yang juga honorer di salah satu yayasan di Kota Lhokseumawe itu menyebutkan, anak kedua dari dua bersaudara itu sudah dibawa berobat ke sejumlah rumah sakit di Lhokseumawe, namun bocah tersebut tak kunjung sembuh.

“Dari hasil pemeriksaan dokter beberapa waktu lalu, anak saya divonis tidak punya empedu, tapi kemarin setelah lihat hasil cek up kembali ternyata empedu Akbar sudah kotor dan bocor,” jelas Cut.

Dengan wajah sendu, Cut mengaku bila anaknya tersebut saat ini hanya bisa tergulai dengan kondisi perut membuncit, kedua kaki yang mengecil, mata kekuningan dan menangis setiap kali menahan rasa sakit dan gatal di sekujur tubuhnya.

“Akbar terus menangis menahan rasa sakit yang dideritanya, meski terkadang saya kesal dan harus bersabar dengan keadaan ini, dimana ayah Akbar pergi tidak entah kemana tanpa menafkahi ataupun peduli atas apa yang kami rasakan saat ini,” peluhnya.

Cut menuturkan, terkadang anaknya tersebut kerap dikucilkan oleh teman-temanya dilingkungan tempat tinggalnya. Akbar memiliki seorang kakak berusia tujuh tahun bernama Fakhul Jannah, sang kakak begitu menyayangi adik dan ibunya.

“Walau baru berumur tujuh tahun Jannah, sudah mandiri dan bisa menggantikan pekerjaan sang ibu untuk mengurus rumah dan adiknya. Sepulang mengajar saya menjadi buruh cuci di rumah tetangga,” imbuhnya.

Cut bersama dua anaknya tinggal di rumah berukuran 5 x 10 beratap seng usang tanpa ada sambungan listrik milik adiknya.

“Sebenarnya ingin pasang listrik untuk penerang, tapi tidak dikasih izin karena kami menumpang di sini,” ucapnya.

Disisi lain Cut mengaku sangat terenyuh dengan ucapan sang suami sebelum pergi meninggalkannya bersama dua anak.

“Buang saja anak sakit itu ke laut bila tidak sanggup diobati, itu ucapan terakhir yang terucap dari bapaknya,” tutur Cut, dengan linangan air mata.

Komentar

Loading...