Unduh Aplikasi

BNN ungkap jaringan narkoba internasional

BNN ungkap jaringan narkoba internasional
Republika, Republika
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap jaringan pengedar narkoba internasional yang beroperasi di Sumut dan Aceh. Dari pengungkapan kasus itu, BNN mengamankan barang bukti enam kilogram sabu-sabu.

Kepala BNN Komjen Pol Anang Iskandar di lokasi penggerebekan Komplek Citra Namorambe Asri, Blok C No. 58, Dusun Asah I, Desa Sudirejo, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (23/10) pagi mengatakan, pengungkapan itu berdasarkan informasi masyarakat dan pengintaian tiga bulan.

"Para pelaku dari Malaysia dan Indonesia melakukan transaksi di tengah laut," katanya didampingi Kepala Humas BNN Kombes Pol Sumirat Dwiyanto.

Menurut Anang, setelah transaksi narkoba, kapal Malaysia balik ke negaranya, sedangkan kapal Indonesia mendarat di pelabuhan kecil Tanjung Balai, Sumut. Sabu-sabu itu kemudian diterima kurir, A selanjutnya diserahkan kepada J.

Disebutkan, sabu-sabu seharusnya diberikan kepada W, warga Tanjung Balai yang berdomisili di Komplek Citra Namorambe Asri, tetapi dia mengirim J untuk mengambil barang, dan menunggunya di Tebing Tinggi.

Setelah barang diterima J, dia berangkat menuju Tebing Tinggi menyerahkannya kepada W. Dari Tebing Tinggi, W membawa sabu-sabu itu ke Medan, kemudian menemui T di salah satu hotel di Medan.

"Sebanyak satu kilogram sabu-sabu selanjutnya diserahkan W kepada Z, kemudian keduanya ke stasiun bus di Jalan Gajah Mada untuk dibawa ke Aceh.

Dari penangkapan itu, dilakukan pengembangan ke kediaman W di Komplek Citra Namorambe Asri, dan ditemukan lagi lima kilogram sabu-sabu di dalam mobil Toyota Innova milik pria bertubuh gemuk ini. "Sabu-sabu itu dikemas dalam plastik di dalam tas sandang hitam," katanya.

Kemudian BNN kembali melakukan pengembangan, dan Rabu (22/10) menangkap T di Medan serta dua tersangka lainnya dari Tanjung Balai, Asahan. Menurut Anang, W berperan sebagai penerima dana, sedangkan T sebagai pengendali jaringan.

"Jaringan T ini sudah berulangkali bertransaksi narkoba di tengah laut. Dalam sebulan, sedikitnya empat kali bertransaksi," kata Anang menyebutkan, pihaknya masih melakukan pengembangan untuk mengungkap tersangka lain, yaitu pemilik kapal dan orang yang melakukan transaksi di tengah laut.

Humas BNN Sumantri Dwiyanto menambahkan, dalam transaksi di tengah laut, para pelaku mempunyai kode tertentu. "Mereka menggunakan senter atau lampu sorot kapal sebagai kode sandi," katanya seraya menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan Malaysia untuk mengungkap pelaku yang berkewarganegaraan Malaysia.

Disinggung keterlibatan instansi, seperti Bea Cukai untuk meloloskan narkoba itu, Sumirat mengatakan, tidak ada. "Pelaku memasukkan narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan kecil di Tanjung Balai sehingga tidak terpantau. Karenanya peran serta masyarakat sangat diharapkan," kata Sumirat.

Dia juga menyebutkan kelima tersangka langsung dibawa ke Jakarta untuk proses pemeriksaan.

Sebelum menjelaskan pengungkapan kasus itu, BNN menggelar rekonstruksi penggeledahan di kediaman W di Komplek Citra Namorambe Asri, Blok C No. 58. Ratusan warga memadati rumah bertingkat dua bercat abu-abu. Warga di sana tak menyangka tetangga barunya itu bandar narkoba.

"Keluarga itu baru 10 hari menempati rumahnya setelah direnovasi selama dua bulan," kata warga.

Kepala Desa Sudirejo, Kecamatan Namorambe, Suroso, mengakui W dan keluarganya baru 10 hari menempati rumah baru itu. "Tapi dia belum melaporkan perpindahannya," katanya.

Dari keterangan warga komplek, W termasuk supel dan suka membantu kegiatan warga. Untuk menutupi kegiatan ilegalnya, W mengaku berbisnis mobil rental.


ANALISA

Komentar

Loading...