Unduh Aplikasi

BKSDA Lepasliarkan Monyet dan Kucing Hutan di Kawasan CRU Sampoiniet Aceh Jaya

BKSDA Lepasliarkan Monyet dan Kucing Hutan di Kawasan CRU Sampoiniet Aceh Jaya
Petugas BKSDA Aceh sedang melakukan pelepasan satwa di kawasan hutan konservasi CRU Sampoiniet Aceh Jaya. Foto: Ist

ACEH JAYA - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan tiga satwa jenis monyet dan seekor kucing hutan di kawasan konservasi hutan CRU Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Jumat (4/10) Sore. 

"Kami melepasliarkan dua ekor serudung  (Hylobates lar), satu ekor siamang (Hylobates syndactilus), seekor kucing hutan yang sebelumnya masing-masing sudah rehabilitasi," kata petugas BKSDA Aceh, Taing Lubis.

Satwa-satwa tersebut, lanjutnya dilepasliarkan dalam rangka memperingati Hari Satwa se-Dunia. Sebelumnya satwa-satwa itu telah direhabilitasi. Bahkan satu satwa hampir satu tahun direhabilitasi, satu lagi ada dua bulan dan satu lagi ada dua minggu.

"Saat perawatan kemarin, sempat juga sakit dan sudah kami berikan macam-macam obat-obatan serta doping hingga kondisi sudah sehat sehingga kami melepasliarkan pada hari ini," ujarnya. 

Sementara itu, tambah Taing, hutan di Sampoiniet telah menjadi salah satu lokasi konservasi. Untuk lokasi ini dipilih karena memiliki koloni jenis satwa tersebut yang diharapkan mampu beradaptasi dengan mudah dalam lingkungannya dan pelepasliaran dapat dengan mudah dipantau oleh petugas Resort KSDA dan mitra.

"Sebelum menemukan kehabitat tentunya sementara waktu hewan itu akan berada di kawasan yang dilepaskan karena itu proses adaptasi," sambungnya.

Sebelumnya, pada tahun 2018, pihaknya juga sudah pernah melepasliarkan empat satwa jenis monyet tidak berekor yang semuanya berjenis kelamin jantan, yaitu dua ekor Ungko Lar (Hylobates lar) dan dua Siamang (Symphalangus Syndactylus) di kawasan hutan konservasi CRU Sampoiniet ini.

"Dari laporan petugas saat melakukan patroli, saat ini masih mendengar suara yang menandakan hewan itu masih ada," ungkapnya. 

Selain itu, ia berharap kepada masyarakat agar tidak memelihara apa pun jenis satwa yang dilindungi karna undang-undang tidak memperbolehkan hal tersebut. 

Sambungnya, dalam UUD Nomor 5 tahun 1990 Pasal 40 ayat 2, Sanksi pidana bagi orang yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Komentar

Loading...