Unduh Aplikasi

Bisnis Besar Berbalut Kemanusiaan

Bisnis Besar Berbalut Kemanusiaan
Imigran Rohingnya yang terdampar di Lhokseumawe. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE - Mengapung di lautan lepas, di guyuri hujan hingga menahan teriknya matahari selama berbulan-bulan. Ribuan Imigran Myanmar etnis Rohingya berupaya kabur dari Cox’s Bazar di Bangladesh dengan dibantu oleh sejumlah lapisan penyeludup manusia.

Rela merogoh kocek hingga Rp30 juta per orang, agar bisa menaiki kapal yang disediakan oleh penyeludup untuk bisa menuju ke negara tujuan (Malaysia). Dengan harga tinggi itu, mereka dijanjikan akan tiba dalam jangka waktu yang singkat ke negeri jiran tersebut.

Cara mereka keluar dari Cox’s Bazar, dibantu oleh lima lapisan penyeludup, pertama kali dikoordinir oleh Budhis yang bertugas mengeluarkan dari camp pengungsian di Bangladesh, lalu dari sana mereka menggunakan kendaraan berupa bajai untuk menuju ke laut, fasilitas itu diberikan oleh orang Bangladesh (Preman).

Sesampainya di laut, mereka dibantu oleh Budhis Myanmar menaiki kapal kecil dan menuju ke kapal yang lebih besar, dan setibanya di kapal besar mereka terus berlayar hingga sampai di perbatasan.

Di perbatasan terjadi tawar menawar harga antar Rohingya yang menumpangi kapal tersebut dengan penyeludup. Penyeludup menghubungi keluarga penumpang kapal itu di Malaysia dan melakukan tawar menawar harga (ongkos).

Penyeludup meminta kepada keluarga mereka (Rohingya) agar membayar lebih besar dari kesepakatan sebelumnya, jka keluarganya bersedia membayar besar, maka Rohingya itu akan dikirim langsung ke perairan Malaysia dengan menggunakan kapal kecil, dan sesampainya di sana mereka akan ditunggu oleh etnis Rohinya yang ada di Malaysia untuk menjemput mereka di pendaratan.

Jika keluarga tidak sanggup membayar mahal sesuai dengan tawaran penyeludup, Imigran Rohingya yang ada di kapal besar itu akan disiksa, dengan jaminan mereka tetap hidup. Namun, mereka setelah empat hingga enam bulan terkatung-katung di kapal besar, baru dipindahkan ke kapal kecil, akan tetapi mereka tidak diarahkan ke negara Malaysia, namun dialihkan ke perairan Indonesia.

Karena itu, yang tiba dan terdampar di perairan Indonesia khususnya Aceh, merupakan Imigran Rohinya yang keluarga tidak sanggup membayar mahal kepada penyeludup, sehingga mereka ditolak bukan ke negara tujuan, namun dibiarkan terkatung-katung ke perairan Indonesia dan mencari cara untuk mendarat sendiri.

Wanita Imigran Rohingya itu, sebagian ada yang menikah melalui telepon seluler, bahkan sebagian ada yang dipaksa oleh orangtuanya. Disana, gadis Rohingya sesuai adat tidak boleh menolak permintaan dari orangtuanya.

Amatan AJNN di tempat penampungan sementara BLK, Lhokseumawe, Imigran Rohingya yang ditampung tersebut bebas menggunakan telepon genggam, tanpa ada larangan dari petugas yang menangani mereka.

Informasi yang dihimpun, Imigran Rohingya tersebut dibolehkan memakai telepon genggam agar mudah berkomunikasi dan memberi kabar kepada UNHCR serta keluarganya yang ada di negara lain (Malaysia).

“Untuk satu orang, mereka membayar hingga Rp30 juta, agar bisa sampai ke negara tujuannya,” kata anggota Yayasan Geutanyoe, Iskandar.

Menurut Iskandar, hal itu merupakan bisnis besar yang mengandung balutan kemanusiaan, sekali memberangkatkan Imigran Rohingya, dalam satu kapal pelaku penyeludup bisa memperoleh uang hingga Rp40 miliar.

“Kenapa mereka mau, karena Imigran Rohingya tersebut merasa teraniaya berada di Bangladesh, sehingga memutuskan untuk membayar agar bisa pergi negara lain, dan negara yang kerap dituju adalah Malaysia,” ujarnya.

Keselamatan keluarga Imigran Myanmar etnis Rohingya juga akan terancam ketika mereka membuka peristiwa sebenarnya yang terjadi di kapal. Sehingga ketika diintrogasi mereka (Rohingya) tidak mau terbuka, bahkan memilih untuk menutup diri.
“Ketika Imigran Rohingya ini terdampar di Aceh, maka aktor dari penyeludup akan mencari cara, bagaimana cara supaya bisa sampai ke Malaysia, supaya uang yang sudah dijanjikan sebelum keberangkatan, bisa diambil sepenuhnya,” jelas Iskandar.

Ketika ratusan Imigran Rohingya tidak bisa mencapai langsung ke tujuan, dan tiba di tempat transit (Aceh) misalnya, maka pelaku penyeludup ini akan siaga dan mengatur strategi baru oleh aktor intelektual.

“Mereka akan berpikir dan mencari cara, ketika Rohingya transit di Aceh, bagaimana bisa tiba di Malaysia agar bisa mengambil penuh uang yang dijanjikan,” jelas Iskandar.

Menurut Iskandar, soal ada keterlibatan nelayan Aceh disini tidaklah mungkin. Pasalnya adat Laot di Aceh, ketika melihat ada musibah di depan yang harus dibantu, maka wajib diselamatkan dan menolong, meskipun mereka (nelayan) belum mendapatkan hasil (ikan).

Cara penyeludup beraksi, berawal dari kenalan di media sosial, dan kemudian Imigran Rohingya ini meminta tolong agar bisa keluar dari Kamp pengungsian di Bangladesh.

“Di sana (Bangladesh) mereka teraniaya, dan jika kita ingin membongkar sindikat, maka harus kejar jaringannya,” tutur Iskandar.

Sementara, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto, mengatakan, jumlah pengungsi Rohinya yang melarikan diri dari Balai Latihan Kerja (BLK) Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, sebanyak 12 orang.

Baca: Mengungkap Misteri Dibalik Kaburnya Imigran Rohingya dari BLK Lhokseumawe

“Dari kelompok pertama 99 jiwa, melarikan diri delapan orang tersisa 91 jiwa. Sementara dari kelompok ke dua 296 jiwa, melarikan diri empat orang dan meninggal dunia empat orang, tersisa 288 jiwa,” katanya.

Jumlah total Imigran asal Myanmar yang ditampung di BLK Lhokseumawe saat ini sebanyak 383 jiwa, angka tersebut bertambah setelah kedatangan empat orang dari Malaysia yang mengaku hendak menjenguk istri dan saudaranya di tempat penampungan sementara itu.

“Kami masih melakukan penyelidikan apakah itu keluarganya atau merupakan suatu modus tindak pidana perdagangan manusia,” ujar Kapolres.

Setelah itu, kata Kapolres, ada satu perempuan Rohingya yang datang dari Medan dan membawa tiga wanita Rohingya menggunakan kendaraan bermotor angkutan labi-labi.

Menurutnya, TNI-Polri hanya bisa membantu untuk melakukan pengamanan, dari Imigrasi seharusnya tetap melakukan pengawasan, karena tidak menutup kemungkinan jika dibiarkan menggunakan telepon genggam, harus terus dilakukan upaya pengawasan atau pembatasan, karena sudah ada indikasi dari Rohingya untuk dilakukan tindak pidana perdagangan manusia oleh sindikat.

“Kami tetap memantau di dalam lingkungan BLK, selain itu juga perlu koordinasi kembali dengan IOM, UNHCR dan satuan tugas (Satgas) yang ada, jika Rohingya dibolehkan keluar dari tempat penampungan, takutnya tidak ada yang mengawasi ketika tidak kembali ke BLK,” jelasnya.

Menurut Kapolres, jangan sampai kebebasan mereka keluar BLK dimanfaatkan sebagai modus operandi agen yang ingin memanfaatkan situasi. UNHCR dan IOM juga harus sama-sama bekerja, jangan hanya mengandalkan aparat keamanan saja.

“Indikasi dibalik kabur 12 orang, upaya penyelidikan sudah dilakukan di bawah pimpinan Direskrimum Polda Aceh, mencoba menyatukan dan melakukan penyelidikan, supaya bisa segera melengkapi siapa tahu ada indikasi perdagangan manusia terhadap rohingya itu,” cetusnya.

“Yang patut dipertanyakan dalam hal ini, Rohingya kelompok kedua, terindikasi di GPS langsung menuju ke Syamtalira Bayu, ada indikasi apa, apakah warga terlalu welcome atau memang modus operandi dulu. Karena Indonesia bukan negara tujuan mereka,” tambah Kapolres.

Ia berharap agar dalam waktu dekat tim bisa menangkap pelakunya, dan bisa diungkapkan sebenarnya ada modus atau terkait jaringan apa sebenarnya dalam kasus Rohingya itu.

Modus selama ini dilihat ada dua kapal kayu, dalam kondisi kapal tidak servis atau mesin tidak ada dan juga rusak, apakah itu memang murni dari sana atau ada sindikat berusaha menjemput, memang sudah disiapkan kapal pengganti agar bisa memasuki perairan Aceh.

“Indikasi mereka transit di Indonesia agar bisa ke Malaysia itu ada, karena kapal yang ditumpangi sama. Kemungkinan sangat besar, dengan adanya alat komunikasi, mereka menginformasikan disini aman, kalau ada sindikat kami tidak tahu pengawasannya (sindikat) bagaimana,” imbuhnya.

Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe, melalui Sekretaris, Agam Khalilullah menyebutkan, sejak mereka melakukan pemulihan trauma terhadap Migran Myamar. Pihaknya melihat mereka (Rohingya) tidak mau terbuka dan tidak percaya dengan orang lain, tentunya itu punya faktor penyebabnya.

“Psikologis mereka terganggu dan tidak seceria orang-orang biasanya. Mereka juga menceritakan kisah ketika dibantai, bahkan ada satu dari mereka mengaku tidak sanggup lagi menerima pembantaian tersebut,” ungkap Agam.

Menurut Agam, Imigran Rohingya menceritakan karena kejadian tersebut cukup tragis, dan mereka juga mengaku mendapat kekerasan di kapal. Indikasi terjadi itu ada, dengan tanda-tanda seperti tangan mereka luka dan bekas sayatan.

Ketua Satuan Tugas Penanganan Rohingya, Ridwan Jalil mengatakan, kewenangan Satuan Tugas hanya meliputi empat poin aja, yakni persiapan tempat penampungan, rapat koordinasi dengan pihak NGO bila dibutuhkan, mengelola logistik dari masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan terakhir memberikan laporan ke kepala daerah, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Imigrasi agar melakukan razia telepon genggam, tujuannya untuk memutuskan hubungan komunikasi, namun demikian jika ada Rohingya yang ingin berkomunikasi dengan keluarganya akan dilakukan pendampingan oleh UNHCR," jelasnya.

Ia juga menyebutkan, soal sindikat perdagangan manusia, pihaknya tidak mengetahui pasti terkait hal tersebut, namun kalau dilihat dari Imigran Rohingya yang melarikan diri diduga pasti ada sindikat yang terlibat.

"Untuk informasi jangka panjang belum saya terima dari UNHCR, kami berharap secepatnya mereka dikembalikan baik itu ke penampungan di Medan atau negara ke tiga," tuturnya.

Untuk operasional, Ridwan mengaku pihaknya mengaku kwalahan, karena tidak ada anggaran, sebab anggaran pendapatan belanja kota (APBK) tidak dibolehkan untuk penanganan Imigran Rohingya, ini menjadi persoalan mutlak untuk Pemko Lhokseumawe.

“Kendala yang dialami saat ini yaitu kapasitas tempat penampungan sementara melebihi, kami perlu penambahan shelter dan Mandi Cuci Kakus (MCK), sumur bor dan sarana prasarana lainnya,” ujarnya.

"Tempat penampungan ini hanya muat untuk 100 orang saja, namun kapasitas saat ini sudah over," tambahnya.

Saat ini, pelaku yang diduga penyeludup dan perdagangan manusia yang sebelumnya sempat diamankan oleh petugas, dikabarkan akan diboyong dan kasusnya ditangani oleh Polisi Daerah (Polda) Aceh.

Komentar

Loading...