Unduh Aplikasi

Biden-Harris dan Prospek Kerjasama Internasional Pengendalian Covid19

Biden-Harris dan Prospek Kerjasama Internasional Pengendalian Covid19
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid 

KETIKA presiden negara besar terpilih, apalagi sekelas presiden AS, hampir semua negara lain biasanya segera memberikan ucapan selamat sembari menyatakan siap bekerjasama. Persoalannya menjadi lain ketika lawan presiden yang tidak terpilih mengklaim ada kecurangan dalam pemilihan, dan mengancam dan bahkan telah mendaftarkan perselisihan ke pengadilan terkait.  Karena itu adalah urusan domestik sebuah negara, biasanya para pemimpin negara lain menahan diri sebentar untuk tidak mengucapkan selamat, menunggu asas legalitas selesai, dan pemenang resmi diumumkan.
 
Idealnya kejadian menahan diri karena menyangkut etika urusan dapur rumah orang lain, para pemimpin negara lain akan diam, namun itu tidak berlaku untuk incumbent, presiden Trump. Pada tanggal 7 November, jam 19.30 CNN melaporkan Biden telah mengumpulkan 270 suara elektoral sebagai syarat untuk menjadi presiden AS. Angka itu barulah angka proyeksi, bukan angka resmi yang diakui oleh konstitusi.
 
Pada hari yang sama kubu Trump juga mengklaim Trump telah menang pada jam 18.15 waktu Israel, selisih delapan jam dari AS. Hanya dalam tempo dua jam setelah itu, 24 pemimpin dunia segera memberikan ucapan selamat kepada Biden. Mulai dari Zimbabwe, diikuti oleh Irlandia, Canada, Jerman, Yunani, Motonegro, Maladewa, dan Namibia. Kawan dekat Trump di Inggris, Boris Johnson, takut tertinggal,  dengan berat hati, dan terpaksa ikut mengucapkan selamat, pada jam 19.34. Segera setelah itu Uni Eropah, Austria, Perancis, Italia, Swedia, Norwegia, Polandia dan sejumlah negara lain segera bergabung.
 
Ada dua kesan yang terbaca dari ucapan selamat yang diberikan oleh para pemimpin dunia kepada masyarakat global tentang keabsahan keterpilihan Joe Biden sebagai presiden AS yang baru. Pertama, mereka tahu benar mesin pemilihan presiden AS yang  bersih dan adil, praktis tidak ada cacat. Kedua, mereka tahu kepribadian Trump yang sangat “nyeleneh”, sering “tidak beradab” dan pembohong. Untuk itu ucapan selamat yang diberikan bukan dalam bentuk ucapan selamat pribadi, tetapi dikirim via twitter, dan itu adalah pengumuman dan pesan terbuka kepada rakyat AS dan masyarakat global mereka mengakui kemenangan Biden. Jangan-jangan dukungan itu juga diberikan karena takut jika sampai ke Mahkamah Agung, lembaga itu akan memenangkan Trump. Walaupun hal itu sangat kecil kemungkinannya, dengan Trump sebagai presiden ia dapat saja mencari cara karena komposisi hakim pro partai Republik, apalagi dengan dua hakim baru yang juga pro Republik yang ditunjuk oleh Trump.
 
Reaksi pemimpin dunia terhadap kemenangan Biden yang begitu hangat dan bahkan “memihak“ sesungguhnya dapat di mengerti. Kepemimpinan Trump selama 4 tahun terakhir telah membuat berbagai persoalan global baru, dan bahkan semakin memperdalam persoalan lama yang belum terselesaikan. Lihat saja “kegilaannya” menafikan pemanasan global dan penarikan AS dari kesepakatan Paris tentang komiten untuk reduksi emisi global. AS yang dahulunya dikenal sebagai pelopor, pada masa Trump resmi menarik diri dari perjanjian itu. Tidak hanya itu, ia bahkan tidak mengakui bukti ilmiah pemanasan global, membuat pernyataan lucu-lucu, tanpa menyadari bahwa fenomena ini adalah ancaman terhadap kelangsungan kehidupan manusia di masa mandatang.
 
Tidak hanya itu, Trump juga meninggalkan persahabatan, komitmen, dan kerjasama  dengan banyak sekutunya baik di Eropah, Asia, dan berbagai tempat lain di dunia. Ia membatalkan rencana perdagangan  bebas kawasan pasifik, melecehkan dan memeras negara anggota NATO untuk berkontribusi lebih banyak, membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran, dan berdamai dengan Korea Utara yang tak jelas ujung pangkalnya.
 
Suatu hal yang sangat fundamental terhadap semua tindakan Trump adalah sebuah “kelakuan baru” yang tidak pernah dilakukan AS semenjak Pasca perang Dunia ke II yakni menarik diri, meninggalkan, dan bahkan terkesan mebaikot institusi multilateral dalam semua aspek, untuk menghadapi berbagain tantangan dan persoalan mayarakat global. Kasus keluarnya AS dari WHO, karena kemarahan Trump kepada WHO yang menuduh WHO diatur oleh Cina dalam hal Covid-19 adalah bukti nyata betapa Tump membuat sebuah keputusan yang sangat salah, ketika masyarakat global berhadapan dengan tantangan pandemi yang luar biasa itu.
 
Alih-alih memprakarsai, bahkan memimpin upaya elimanasi dan pengendalian Covid-19 secara global, Trump justeru mengumumkan AS menarik diri dari WTO. Ini adalah sesuatu yang tidak biasa, bahkan berlawanan dengan kebiasaan sebelumnya ketika AS menjadi pemimpin masyarakat internasional untuk mencegah endemi atau epidemi mematikan menjadi pandemi seperti Covid-19. Sejumlah yang pernah terjadi dan menjadi kepedulian masyarakat internasional sebangsa MERS, SARS, dan HIV yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, diselesaikan dengan kepemimpinan AS.
 
Masyarakat internasional kini menantikan apa yang akan diperbuat Biden terhadap salah langkah dan salah urus Covid-19 yang telah dibuat oleh presiden Trump. Menggunakan kata “if” atau “had”, maksudnya jika saja Trump dan pemerinahannya lebih waspada terhadap potensi pandemi yang memang sudah lama diperingatkan oleh pakar epidemiologi dan lingkungan, kemungkinan besar penderitaan dan kerugian AS dan bahkan masyarakat global tidak akan pernah terjadi seperti hari ini. Apalagi persoalan bencana pandemi seperti Covid-19 ini sangat memerlukan kekompakan dan kerjasama global, karena sifat penyakitnya yang cepat menular dan mematikan.
 
Kalaulah ada istilah “kepemimpinan global AS” yang kedengarannya sombong dan angkuh, mungkin saja  dapat memancing ketidaksetujuan dan sinis sebagian kalangan untuk masalah lain, tetapi untuk masalah seperti pandemi ini, semua pihak setuju jika AS menjadi komandan besar dunia. Kenapa tidak, karena betapapun sulitnya ekonomi domestik AS, mereka tak segan mencurahkan dananya sendiri dan “memaksa” negara lain juga untuk urunan, bersatu dalam perang global menyelamatkan ummat manusia. Mereka juga gudang ilmuwan dari berbagai bidang terkait yang telah menunjukkan keampuhannya dari pengalaman beberapa waktu yang lalu.
 
Kini masyarakat inetrnasional menjadi lega, karena dalam wawancara pertama dan saran pers Biden-Haris telah disebutkan bahwa hari pertama mereka dilantik, AS akan segera kembali memperbarui keanggotaan nya di lembaga multilateral kesehatan global, WHO. Tidak hanya itu, Biden-Harris juga berjanji akan memimpin masyarakat internasional via WHO dengan kucuran dana dan pakar untuk mengendalikan Covid-19.
 
Tidak berhenti di WHO, AS juga kembali mereaktivasi USAID, lembaga bantuan AS untuk pembangunan di berbagai negara, dengan perhatian khusus kepada pengendalian Covid-19. Ini juga menunjukkan bahwa disamping “sedekah” kolektif untuk mayarakat global via WHO, AS juga membuat sejumlah program khusus untuk berbagai negara secara terpisah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara-utamanya negara berkembang miskin, atau menengah bawah, dalam pengendalian Covid-19.
 
Intinya, AS dibawah Biden akan kembali ke “khittah”nya sebagai pemimpin dunia, terutama ketika masyarakat global berada dalam ancaman besar seperti pandemi ini. Langkah ini tidak akan berhenti pada tataran WHO saja, karena akan banyak lagi kelembagaan atau kerjasama multilateral yang akan dikerjakan oleh pemerintah baru AS itu. Biden berkomitmen lebih dari itu untuk kembali aktif dan menyelesaikan persoalan iklim global, persoalan perdagangan international lewat WTO, persoalan perjanjian nuklir dengan Iran, komiten penguatan NATO, dan penyelesaian berbagai perkara sulit perdagangan dengan Cina.
 
Kalau saja setelah dia dilantik, sebagian besar komitmen itu  mulai direalisasikan, tahun depan masyarakt global kemungkinan besar boleh berharap banyak krisis pandemi dan dampak yang dihasilkan, secara perlahan akan teratasi. Peluang dunia untuk bangkit kembali dari keterpurukan mungkin akan terbuka lebar. Karena apapun ceritanya, separah apapun persoalan domestik yang dihadapi AS, ketika dunia berada dalam kesulitan, negara inilah yang selalu tampil kedepan dan menyelesaikannya. Bahwa sesekali salah langkah, itu adalah konsekuensi dari sebuah peran besar yang telah berjalan terlalu lama.
 
Ucapan selamat via twitter dari berbagai pemimpin negara terhadap kemenangan Biden, walaupun masih belum resmi dan sedang dipersoalkan ke pengadilan di AS memang kelihatannya “tidak sopan”. Bukan tidak mungkin sejumlah pemimpin dunia “bersepakat” bahwa bukankah sudah saatnya pula dunia memberikan contoh melayani orang tidak sopan dengan cara yang tidak sopan pula. Bukanlah pekerjaan dan ucapan Trump selama masa kepemimpinannya mengejek dan mengecam pemimpin lain, dengan cara-cara yang sangat tidak sopan? Oleh karena itu menggunakan ungkapan bahasa Inggris biasa “he deserves it“- dia wajar menerima hinaan itu.
 
Cara lain melihat para pemimpin dunia memberikan perhatian kepada Biden, karena mereka tahu bahwa pilpres AS itu fair, dan kemenangan Biden itu benar dan pasti. Ucapan selamat sekaligus pengakuan itu hanya untuk membangkitan ego AS sebagai pemimpin dunia yang banyak diimani oleh politisi AS sebagai DNA eksitensi AS. Menggunakan istilah Aceh, para pemimpin dunia itu tahu cara memberi “hak me’ung” AS via Biden-Haris. Dan reaksi pemerintah terpilih jelas, kembali menjadi pemimpin dunia untuk memerangi Covid-19, dan berbagai masalah global lainnya.
 
Tetapi AS juga tidak pernah silap, setiap sen yang keluar dari AS, tetap saja ada keuntungan yang diperoleh. Lihat saja akibat ketidakpedulian Trump terhadap Covid-19 dengan keluar dan menghentikan dana kepada WHO. Tindakan menarik diri dari kerjasana internasional memerangi Covid-19 ditambah dengan kebijakan mengurus pandemi secara domestik yang tidak bijak, telah mebuat korban kematian Covid-19 lebih dari 230.000 dan resesi ekonomi terburuk AS sepanjang sejarah sejak Perang Dunia II. Kita lihat saja nanti bagaimana Biden-Harris mengurus AS setelah Januari 2021.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...