Unduh Aplikasi

Biden Bentuk Satgas Baru untuk Tangani Covid-19 di AS

Biden Bentuk Satgas Baru untuk Tangani Covid-19 di AS
Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden. (AP/Matt Slocum)

Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden, menyatakan telah membentuk satuan tugas penanganan Covid-19 yang baru.

Dia menunjuk Rick Bright, mantan pejabat tinggi vaksin di pemerintahan Trump sebagai anggota satuan tugas Covid-19 yang menasihatinya selama transisi.

Biden menunjuk tiga pendamping dari panel yaitu seorang ahli bedah umum Vivek Murthy, mantan komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan David Kessler,  dan Profesor Kesehatan Masyarakat di Universitas Yale, Marcella Nunez-Smith.

Sementara anggota lainnya mencakup Ketua Departemen Etika Medis dan Kebijakan Kesehatan di University of Pennsylvania, Zeke Emanuel. Dia adalah saudara Rahm Emanuel, penasihat pemerintahan Obama.

Anggota satgas lainnya adalah Wakil Presiden In-Q-Tel Luciana Borio, Profesor Bedah di Rumah Sakit Wanita dan Brigham Atul Gawande, Asisten Profesor Klinis di Sekolah Kedokteran Grossman, New York University, Celine Gounder, Wakil Presiden Eksekutif Robert Wood Johnson Foundation, Julie Morita, Direkur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di University of Minnesota, Michael Osterholm, Direktur Eksekutif dan Presiden Dewan Kesehatan Global, Loyce Pace, dan dua profesor di Fakultas Kedokteran di University of California, San Fransisco.

Selain itu, Biden mendesak warga AS agar mengenakan masker untuk memperlambat penyebaran virus corona.

Biden bersumpah untuk mengalahkan pandemi dan menjadikan penanganan Covid-19 sebagai prioritas utama ketika dia menggantikan Donald Trump pada 20 Januari mendatang. Dia menyatakan bahwa "masker bukanlah pernyataan politik".

"Tidak peduli siapa yang Anda pilih, di mana Anda berpihak sebelum pemilu. Tidak peduli apa partai Anda, sudut pandang Anda. Kita bisa menyelamatkan puluhan ribu nyawa jika semua orang memakai masker untuk beberapa bulan ke depan," kata Biden dalam sambutan singkat di Delaware setelah bertemu dengan anggota dewan penasihat Covid-19 yang baru dibentuk.

"(Ini) bukan tentang kehidupan Demokrat atau Republik, (tapi) kehidupan Amerika," tambahnya.

Dilansir The Straits Times, besarnya tugas Biden dalam menangani pandemi terlihat jelas saat AS melampaui 10 juta kasus Covid-19 pada Minggu pekan lalu.

Dalam sambutannya, Biden mengatakan statistik menunjukkan bahwa AS "menghadapi musim dingin yang sangat gelap" di masa depan.

"Tingkat infeksi meningkat. Rawat inap meningkat. Kematian meningkat," kata Biden.

Sementara itu, pada Senin (9/11) perusahaan farmasi Pfizer telah mengumumkan bahwa analisis awal dari uji coba vaksin virus corona menunjukkan vaksin eksperimental mereka sangat efektif mencegah Covid-19, sehingga ini dianggap sebagai perkembangan yang menjanjikan.

Dalam sebuah pernyataan, Biden menyebut perkembangan itu sebagai "berita bagus" tapi dia juga memperingatkan warga AS perlu bergantung pada tindakan pencegahan dasar untuk "kembali normal secepat mungkin".

Dia mengatakan warga AS tidak akan selamanya memakai masker, tapi mereka tetap harus memakainya hingga vaksin tersedia.

"Jelas bahwa vaksin ini, meskipun disetujui, tidak akan tersedia secara luas selama berbulan-bulan mendatang. Tantangan di hadapan kita saat ini masih besar dan terus berkembang," kata Biden.

Komentar Biden tentang masker sangatlah kontras dengan Trump, di mana ia menghabiskan delapan bulan terakhir dengan mengabaikan atau meremehkan penggunaan masker.

Trump sering berkata secara keliru bahwa ada ketidaksepakatan mendalam tentang efektivitas masker dalam mencegah pandemi.

Selain itu, Trump secara terbuka juga berselisih dengan pakar penasihat virus corona, termasuk perihal pemakaian masker.

Komentar

Loading...