Unduh Aplikasi

Berwisata ke PLTU Nagan Raya

Berwisata ke PLTU Nagan Raya
Ilustrasi: ITV Hub

KECURIGAAN anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Fuadri, terhadap sikap pemerintah yang melindungi 37 tenaga kerja asal Cina wajar-wajar saja. Apalagi, sejak awal, banyak ketidakwajaran dalam urusan tenaga kerja asing ini.

Para pekerja asing itu masuk ke Aceh, dari Jakarta, menggunakan visa wisata. Padahal mereka ke Aceh bukan untuk bekerja. Seharusnya, jika petugas negara benar-benar bekerja untuk melindungi negara ini dari pelanggaran oleh orang asing, ke-37 seharusnya ditolak masuk ke Indonesia karena saat ini, hampir tak ada tempat yang aman dari penyebaran covid-19 untuk dikunjungi wisatawan.

Tak usah berpikir untuk melindungi warga negara Indonesia, dan mari beranggapan bahwa ke-37 adalah orang-orang yang bebas dari virus corona, kalau pemerintah negara ini ingin melindungi warga negara Cina itu dari penyebaran covid-19, seharusnya mereka tidak dibiarkan masuk ke Indonesia, apalagi ke Aceh, karena saat ini terjadi lonjakan kurva kasus penyebaran corona. Kasihan ke-37 warga Cina itu.

Dari pilihan daerah tujuan ke-37 warga negara Cina itu, Aceh adalah daerah yang tidak lazim. Pertama, karena Aceh bukan daerah tujuan wisata yang menarik warga negara Cina. Mereka pasti memilih Bali atau daerah-daerah di Jawa Barat. Aceh tidak memiliki nilai penting bagi warga negara Cina dibandingkan dengan daerah lain.

Jika pilihan ke-37 wisatawan asal Cina itu ke Banda Aceh juga masih bisa dimaklumi. Namun dari Jakarta, mereka memilih langsung ke Nagan Raya. Tentu ada niat spesial mereka memilih Bandara Cut Nyak Dhien sebagai tempat akhir penerbangan. Dan itu tak sulit ditebak.

Seharusnya petugas negara bisa mengendus dari awal. Dan jika Jakarta atau bandara transit lainnya tidak memedulikan, ke-37 warga negara Cina yang menyamar sebagai wisatawan itu seharusnya tak boleh keluar dari Bandara Cut Nyak Dhien karena jelas mereka bukan wisatawan. Dan berbohong tentang tujuan kedatangan ke sebuah negara adalah sebuah kejahatan. Mereka seharusnya tak pernah keluar dari bandara itu.

Dan kini, otoritas ketenagakerjaan mengaku tidak mengetahui posisi para pekerja setelah sebelumnya mereka dinyatakan keluar dari Nagan Raya menuju Banda Aceh. Karena itu, Fuadri dan DPR Aceh harusnya meminta pertanggungjawaban dari seluruh pihak. Terutama Dinas Tenaga Kerja dan Imigrasi. Kalau DPR Aceh juga tidak bertindak, jangan-jangan mereka juga jadi dari kelompok yang mencoba menyelundupkan para pekerja di PLTU 3 dan 4 Nagan Raya.

Komentar

Loading...