Unduh Aplikasi

Bertahan Melawan Parasit Jaringan Lunak

Bertahan Melawan Parasit Jaringan Lunak
Ajerina Marla. Foto: Khalis
NAMANYA Ajerina Marla. Usia 3,5 tahun. Siang itu, saat dijumpai di kamar 3 Serune 1, Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh, dia hanya mengenakan singlet putih, tertidur, berselimutkan kain hijau tipis. Sebuah kipas angin kecil dinyalakan di ujung tempat tidur. Menghembuskan angin yang tak lebih kencang dari deru mesinnya.

“Badannya panas dan paha juga lecet karena pempers,” kata Laila Wati, ibu Ajerina. Ajerina tengah menanti proses kemoterapi ketujuh, setelah dia divonis menderita kanker rabdomiosarkoma. Ini adalah jenis kanker yang menyerang jaringan lunak.

Sabtu pekan lalu, Ajerina baru saja menjalani operasi di bagian paha kanannya untuk mengangkat benjolan yang terus tumbuh di tubuhnya. Ini bukan operasi terakhir. Dokter mengatakan Ajerina harus menjalani serangkaian operasi dan kemoterapi untuk memastikan parasit itu hilang dari tubuhnya.

Mereka berasal dari Desa Tingkem Banyer, Kecamatan Bukit, Bener Meriah. Tumor ganas yang diderita Ajerina diketahui sejak Agustus 2012, sebuah benjolan sebesar biji kemiri di bagian pantat Ajerina. Enam bulan kemudian benjolan serupa tumbuh di tempat lain dan terus bertambah.

“Kami segera membawa ke rumah sakit. Tapi karena masih terlalu kecil, dokter bilang jangan diobati dulu,” tambah Marhamin, Ayah Ajerina. “Saran dokter, Ajerina diobati jika berat badannya mencapai 10 kilogram.”

Di usia sembilan bulan, Ajerina menjalani operasi pertama di Rumah Sakit Umum Datu Beru, Takengon, Aceh Tengah. Saat itu, tumornya semakin membesar. Sempat disangka sembuh usai operasi, tumor ganas itu kembali tumbuh. Ajerina terpaksa dibawa ke salah satu rumah sakit di Medan, Sumatera Utara.

Di usia 13 bulan, dokter menyarankan Ajerina untuk menjalani proses kemoterapi. Tak tahu apa itu kemoterapi. Lantaran mendengar cerita yang menakutkan dari kerabat dan tetangga tentang kemoterapi, Marhamin enggan mengizinkan anaknya menjalani proses kemoterapi tersebut.

Mereka memutuskan membawa sang buah hatinya untuk berobat tradisional saja. “Kami sempat pakai obat herbal dan ke dukun,” ungkap Marhamin yang besprofesi sebagai guru sekolah menengah pertama itu.

Dua tahun berlalu. Ajerina tak kunjung sembuh. Penyakit mematikan itu semakin berkembang di tubuh ringkihnya. Laila dan Marhamin mengubur rasa takut tentang proses kemoterapi yang harus dijalankan anaknya. Mereka membawa anaknya ke Zainoel Abidin. Saat dibawa ke Banda Aceh, kondisinya sangat mengenaskan.

Usai kemoterapi pertama, kesehatan Ajerina turun drastis. Dia berulang kali menerima transfusi darah. Hal ini terus berlanjut. Sampai suatu ketika, orang tua Ajerina menyadari kondisi anaknya mulai membaik, jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.

Selama menjalani pengobatan di RS Zainoel Abidin, Banda Aceh, Ajerina tidak selalu dirawat inap. Petugas medis memperbolehkan mereka keluar dari rumah sakit. Ketika tidak dirawat inap, Ajerina dan keluarganya menumpang di rumah singgah milik Children Cencer Care Community (C-Four) Banda Aceh. Lembaga yang memberikan perhatian penuh kepada penderita kanker di Aceh.

Komentar

Loading...