Unduh Aplikasi

Bersikaplah sebagai Wakil Rakyat

Bersikaplah sebagai Wakil Rakyat
ilustrasi
KONVERSI Bank Aceh dari bank konvensional menjadi bank syariah akan berdampak bagi industri perbankan di seluruh nusantara. Langkah ini berdampak ganda. Sebagai pemegang 50 persen pangsa industri perbankan di Aceh, langkah ini akan menjadikan Bank Aceh sebagai bank syariat terbesar di Indonesia.

Rentabilitas Bank Aceh, tahun lalu, juga terbilang baik. Ini jelas menjadi modal besar bagi Bank Aceh untuk melangkah maju dan berdiri sejajar dengan perbankan nasional yang selama ini menguasai petak perbankan konvensional. Dengan manajemen yang baik, termasuk kesiapan manajemen Bank Aceh untuk berganti baju, keberadaan Bank Aceh Syariat akan menjadi lebih efisien ketimbang selama ini.

Data dari perusahaan itu menyebutkan, sepanjang 2015, Bank Aceh melampaui sejumlah target. Aset bank plat merah ini naik menjadi Rp 18,7 triliun, pembiayaan Rp 11 triliun, dan dana pihak ketiga mencapai Rp 14 triliun. Tahun lalu, bank ini mencatatkan laba sebesar Rp 560 miliar.

Di sisi lain, manajemen bank berhasil menekan rasio pembiayaan bermasalah menjadi hanya 2,3 persen. Dengan performa moncer tersebut, proses konversi diyakin akan semakin mulus. Apalagi disokong dengan pengelolaan dana haji sekitar Rp 150 miliar. Langkah ini tak sulit, karena Pemerintah Aceh, sebagai pemegang saham mayoritas, mengingini hal yang sama.

Banyak pihak meyakini bisnis Bank Aceh Syariat semakin berkembang pascakonversi. Apalagi, masyarakat Aceh sejak lama mendamba sistem perbankan yang melepas mereka dari jerat riba. 6 Agustus mendatang Aceh akan tercatat sebagai pioner dalam dunia perbankan modern, saat Bank Aceh Syariat diluncurkan.

Anehnya, rencana ini mendapat ganjalan dari Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Lembaga yang mewakili keinginan rakyat Aceh malah berupaya menghalang-halangi proses konvensi. Mereka menganggap perubahan sistem pengelolaan Bank Aceh yang baru akan dicap sebagai keberhasilan Zaini Abdullah sebagai Gubernur Aceh.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2017, hal ini dianggap sebagai ancaman terhadap langkah calon mereka yang juga akan bertarung dengan Abu Doto--sapaan
Zaini Abdullah. Saat ini, rencana konversi Bank Aceh dari perbankan konvensional menjadi perbankan syariah masih terganjal keberadaan Qanun Nomor 9 Tahun 2014.

Alangkah bijaksana andai DPR Aceh mau mengesampingkan “pikiran buruk” itu terciptanya sistem perbankan yang benar-benar bersih dari praktik riba. Menunda-nunda proses konversi hanya semakin menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap legislatif yang memang minim prestasi. Karena sepanjang menjabat, politikus di lembaga ini lebih sering menimbulkan polemik yang membuat gusar masyarakat ketimbang memberikan kabar gembira kepada rakyat yang mereka wakili.
Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...