Unduh Aplikasi

Bersedekah dengan Bela Negara

Bersedekah dengan Bela Negara
Ilustrasi

PEMERINTAH Indonesia menetapkan hari ini sebagai peringatan Bela Negara. Dan sejak rezim Presiden Joko Widodo dimulai, kata-kata bela negara mulai kembali didengung-dengungkan. Setelah sebelumnya menjadi bagian penting dalam “sistem” yang dibangun oleh rezim Soeharto.

Sesaat setelah reformasi 1998 bergulir, yang ditandai dengan kejatuhan rezim Soeharto, kata-kata “bela negara” ini bukan hal yang mutlak. Sama seperti semua hal yang dipaksakan pada masa Orde Baru, kata-kata bela negara seperti kehilangan definisi kaku yang coba ditanamkan oleh rezim tersebut dan mencoba menemukan kembali akar maknanya.

Semangat bela negara adalah sesuatu yang semestinya dimiliki oleh warga negara. Namun semangat ini tak cukup hanya dimunculkan hanya pada perayaan-perayaan hari besar negara, seperti Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, atau seperti hari ini yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Bela Negara.

Tidak juga cukup hanya dengan menyaksikan Tim Nasional Sepak Bola bertanding melawan negara lain. Bela negara takkan bermakna apapun jika kita, sebagai warga negara, tidak berdaulat atas diri sendiri.

Dengan memiliki kemerdekaan atas diri sendiri, maka akan muncul keinginan untuk memerdekakan orang lain. Bagaimana mungkin seseorang yang terikat kaki dan tangannya dapat membantu orang lain yang bernasib sama.

Keterikatan kita atas banyak identitas yang melekat hanya akan membuat kita semakin tidak berdaya untuk memerdekakan diri dan bangsa ini dari cengkeraman para penjajah yang tak tampak, tapi nyata.

Hanya dengan kemerdekaan terhadap diri sendiri bangsa ini akan menemukan kembali jati dirinya; berdaulat atas diri. Dengan demikian, keinginan untuk membela negara akan muncul. Bela negara itu adalah sedekah seorang warga. Bukan atas dasar paksaan. Tapi atas dasar kecintaan.

Komentar

Loading...