Unduh Aplikasi

Bersama Menyambut Perbankan Syariah

Bersama Menyambut Perbankan Syariah
Ilustrasi: STIE.

PEMERINTAH Aceh tak seharusnya ragu untuk menjalankan aturan dalam Qanun Lembaga Keuangan Syariah. Aturan ini adalah terobosan penting dalam kehidupan bernegara yang, lagi-lagi, dipelopori oleh Aceh. 

Di awal-awal rencana pelaksanaannya, setelah diusulkan oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah, muncul banyak pendapat terkait pelaksanaan qanun ini. Terutama setelah Bank Aceh berubah menjadi Bank Aceh Syariah yang dan meninggalkan sepenuhnya sistem perbankan konvensional. 

Hal ini juga memicu daerah lain untuk mempraktikkan hal sama. Nusa Tenggara Barat, misalnya, berencana mengadopsi sistem ini untuk diterapkan di bank daerah mereka. Mereka sepenuhnya terinspirasi oleh Aceh. 

Tentu saja butuh keberanian besar untuk melakukan ini. Dan Zaini Abdullah telah memulainya. Dan kini, sejumlah perbankan nasional telah melakukan sejumlah persiapan untuk menyambut pelaksanaan qanun. Dan umumnya, perbankan nasional, baik milik pemerintah ataupun swasta, menyatakan kesiapan untuk mengikuti aturan itu.

Namun kini, di tengah keinginan bersama untuk melaksanakan aturan itu, muncul suara protes dari kalangan pengusaha yang ingin agar aturan ini ditunda pelaksanaannya. Ada juga individu yang, hanya karena kerepotan untuk mengalihkan rekening, memilih memprotes pelaksanaan aturan itu. 

Sebenarnya perbankan syariah di Aceh, seperti Bank Syariah Mandiri (BMS), memiliki produk tabungan bisnis. Lewat tabungan ini, nasabah dapat melakukan transfer uang kemanapun, baik dalam maupun luar negeri tanpa biaya (gratis) dengan menggunakan Real Time Gross Settlement (RTGS) atau Sistem Kliring Nasional (SKN). 

Khusus untuk transaksi uang ke luar negeri, biaya transaksi tidak bergantung pada jenis bank yang melakukan. Misalkan seseorang bertransaksi antara bank syariah di Indonesia dengan bank syariah di luar negeri atau antara bank konvensional di Indonesia dengan bank konvensional di luar negeri. Jumlah biaya transaksi uang ke luar negeri itu ditentukan oleh biaya bank koresponden di luar negeri, jumlah nominal transfer, dan nilai kurs (perbedaan antara nilai Rupiah dengan nilai mata uang asing). 

Tentu saja alasan segelintir orang untuk menunda pelaksanaan perlu didengarkan. Mereka harus juga diberikan pemahaman untuk ikut bersama-sama melaksanakan aturan ini. Dukungan para pengusaha di Aceh tentu akan sangat membantu perbankan syariah di Aceh tumbuh dan berkembang. 

Para pengusaha juga tak perlu khawatir. Karena perbankan syariat ini juga diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia. Perkara untung rugi, tentu relatif. Yang jelas, semangat menjalankan aturan ini harus ditumbuhkan bersama. Kalaupun ada kekurangan, mari diperbaiki bersama.

HUT Pijay

Komentar

Loading...