Unduh Aplikasi

Berinvestasi pada Alam

Berinvestasi pada Alam
ilustrasi: aceh indiphoto.

TAHUN 2017 berlalu. Namun sepertinya, hari-hari di 2018 hanya akan berbeda di dalam lembaran kalender. Sejumlah permasalahan yang merundung Aceh di tahun lalu masih akan terus dirasakan oleh masyarakat dan pemerintahan di seluruh Aceh, baik di provinsi hingga di kabupaten/kota.

Persoalan pertama yang paling memberatkan adalah soal bencana alam; banjir dan tanah longsor. Bencana ini muncul karena kerusakan alam yang semakin masif. Luas tutupan hutan di Aceh semakin hari semakin berkurang. Tidak hanya di kawasan pinggiran hutan, namun juga di daerah tengah.

Pencurian kayu terus menerus dilakukan dengan berbagai cara. Sejumlah pengusaha nakal memanfaatkan izin yang mereka kantongi untuk mengambil kayu hutan sebelum menanaminya dengan sawit atau menambang emas dan mineral lainnya. Hal ini diperburuk dengan sikap pemerintah daerah yang mendewa-dewakan investasi.

Investasi dianggap sebagai hal utama ketimbang menjaga kelestarian alam. Padahal, tindakan itu hanya mendatangkan mudarat. Jutaan masyarakat mengalami kerugian materi dan moral. Mereka dimiskinkan oleh bencana yang dibuat oleh kebijakan yang salah.

Pemerintah juga terus menerus menghabiskan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Padahal triliunan uang daerah dapat dialihkan untuk program kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat. Namun sayang, iming-iming dan fee dari para pengusaha lebih mengiurkan para pejabat yang korup.

Tahun lalu hendaknya menjadi iktibar bagi Pemerintah Aceh dan pemerintah daerah untuk berpikir panjang sebelum menerima tawaran investasi. Sejarah mencatat bahwa masyarakat Aceh hidup berdampingan dengan alam, dari generasi ke generasi, dan mengambil manfaat besar dari simbiosis mutualisme ini. Jangan biarkan waktu demi waktu berlalu tanpa mampu menjadikan kita manusia yang lebih baik; mari berinvestasi kepada alam.

Komentar

Loading...