Unduh Aplikasi

Bergek, Kebab, Putri Aceh, dan Covid-19

Bergek, Kebab, Putri Aceh, dan Covid-19
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Mungkinkah kata kebab, Donald Trump, Adi Bergek, K,Pop , blue Jeans,  putri Parawisata  Aceh, dan Covid-19 ditulis dalam satu alenia dengan tambahan satu kata lain, tanpa terasa janggal sama sekali?
 
Ya, kata itu adalah globalisasi, satu kata yang sarat makna. Kata yang membuat mantan pemilik kontes Miss Universe, Donald Trump terkait dengan putri Aceh Afra Widi, dan kebab Turki yang berasal dari Timur Tengah, terhubung dengan masyarakat kota Banda Aceh pasca Tsunami 2005.
 
Kata itu juga membuat Bergek terkait dengan arus musik global Korea, K-Pop, karena kedua genre musik itu tergolong dalam famili musik pop global yang sama. Musik itu juga saling berkongsi nenek dari musik pop Inggris tahun 50an, bahkan berindatu ke musik Blues AS tahun20-an.
 
Globalisasi juga membuat anak muda di kecamatan Permata, Bener Meriah dan kecamatan Gunung Mas Aceh Barat memungkinkan memakai jeans yang tidak pernah ada di Aceh. Sesungguhnya, apa pasal celana itu datang ke Aceh, karena dibuat untuk pekerja tambang emas abad ke 19 di California AS? Celana itu sekalipun kotor dan lusuh, tetap saja kelihatan modis, karena dibuat dari katun kuat dan bandel.
 
Dari berbagai ilustrasi itu, ditemukan ada sebuah arus yang membawa berbagai produk budaya dari satu tempat ke tempat yang lain dari berbagai penjuru dunia, dan itu adalah globalisasi.  Yang dimaksud adalah interaksi antar wilayah bumi yang membawa barang, ide, jasa, dan hampir semua yang berurusan dengan peradaban manusia. Kata lain yang menjadi instrumen arus itu adalah keterkaitan, ketersambungan, yang di dalam bahasa pembangunan disebut dengan konektivitas.
 
Ada kata canggih, namanya penetrasi, atau kata awamnya, penularan antara berbagai budaya yang kemudian dicocokkan dengan suasana lokal setempat. Itu yang membuat mie yang berasal dari Cina atau pasta Italia menjadi mie Aceh. Itu pula yang membuat Mooryati Soedibyo menyontek Miss Universe Trump untuk membuat kontes Puteri Indonesia. Dan karena itu pula ada kontes putri Aceh yang dilokalkan dengan pakaian Islami. Isi dalamnya tetap saja sama dengan Miss Universe, kecantikan, kecerdasan, dan penampilan.
 
Globalisasi lebih dari itu, bahkan akar dari segala akar globalisasi adalah ekonomi, yakni perdagangan dan keuangan. Dapatkah kita bayangkan jika tak ada perdagangan melalui konektivitas Samudra India, pedagang Yaman dan Gujarat akan sampai ke Aceh, dan membuat Aceh menjadi Islam seperti hari ini? Jika tak ada globalisasi, jangan-jangan orang Aceh akan sama dengan orang Myanmar dan Thailand yang menjadi pemeluk agama Budha. Bukankah rekam jejak arkelologi kita menyatakan demikian?
 
Perjalanan manusia dari satu tempat ke tempat lain adalah muasal dari globalisasi. Semenjak manusia ada di muka bumi, yang menurut bukti-bukti arkeologi sekitar 50.000-70.000 tahun yang lalu, perjalanan manusialah yang membuat globalisasi itu terjadi. Awalnya perjalanan darat, kemudian perjalanan laut, atau gabungan keduanya yang membuat globalisasi semakin cepat berjalan.
 
Perjalanan udara kemudian membuat globalisasi bertambah cepat karena ada telepon dan telegraph. Tidak cukup dengan itu, konektivitas antar benua kemudian menjadi lebih intensif karena revolusi komunikasi via internet. Bahkan globalisasi telah memungkin informasi menadi komoditi yang bernilai ekonomi. Lebih dari itu ideologi  mulai dari komunis, kapitalis, dan ragam radikal dapat berpindah melalui konektivitas dunia maya.
 
Kecepatan internet yang semakin hari semakin bertambah  telah banyak membuat hal yang tak mungkin, dan tak terbayangkan sebelumnya oleh manusia kini menjadi mungkin dan menjadi realitas. Kini dunia telah menjelma menjadi sebuah “gampong”. Pertemuan diam-diam Putra Mahkota Saudi Mohamad bin Salman dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, 2 hari di yang lalu di Riyad, dalam tempo kurang dari enam jam telah diketahui Aman Dolah, politisi kampung yang suka menonton TV di Rikit Gaib, Gayo Lues.  
 
Kemenangan Biden yang membuat harga saham di bursa New York, dan potensi naiknya harga komoditi perkebunan segera terasa di Subuslusalam dan Nagan Raya. Kini, banyak hal telah terkait dengan banyak hal, lewat udara, digital, laut, dan udara kesemua perjuru bumi. Dunia telah berobah cepat menjadi Gampong Besar. Globalisasi dengan konektivitas yang semakin intensif telah membuat semuanya satu, masyarakat global, dan sebentar lagi menjadi warga Global.
 
Sekalipun istilah globalisasi dipopulerkan oleh sosiolog kondang Immanuael Walerstein (1989)  pada tahun 80an dengan konsep sistem dunia, fenomena itu sesungguhnya telah dicatat dengan baik pertama kalianya oleh sejarawan Perancis Ferdinand Braudel (2013) yang hidup 120 tahun yang lalu.  Braudel menyebutkan manusia telah mulai berinteraksi  semenjak tahun 1300. Saat itu   Romawi sudah mencapai titik puncak akhir, terutama dengan penguasaan perdagangan di sekitar laut Mediterania yang menjadi jalur penghubung ke Asia, Afrika, dan Eropah.
 
Sekalipun pendapat tentang kapan mulainya globalisasi beragam, Wallerstein abad ke 15 dan abad 16. Diskusi tentang mulai kemudian menjadi beragam, tetapi suatu hal yang tidak dinafikan abad ke 18 adalah titik yang sangat penting karena, globaisasi telah mendapat jodoh yang hebat,  apa yang disebut dengan kapitalisme moderen. Ini adalah jenis kapitalisme yang berbeda dari sebelumnya yang hanya berkutat pada agraria dan kapitalisme perdagangan mencari laba.
 
Memang evolusi globlisasi sama sekali tidak dapat dilepaskan dari kapitalisme dengan varian yang berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Jika pada awalnya yang terjadi adalah eksploitasi surplus melalui tanah pertanian, pada kapitalisme merkantilis yang diburu adalah selisih nilai beli dan nilai jual barang dari berbagai tempat di muka bumi, yang dibawa dengan alat angkut, darat dan laut. Globalisasi menjadi  berkembang tak tertahankan ketika negara berkolaburasi dengan kapitalis dan menjajah Asia, Afrika, dan Amerika yang berkembang tak tertahankan. VOC dan East Indian Company di India adalah dua mesin besar globalisasi  Eropah yang bekerja ratusan tahun bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris.
 
Cerita globalisasi menjadi tak sempurna ketika ada komponen penting pengganggu manusia yang terus menerus bersama mengembara semnajak globalisasi ada. Makhluk itu, adalah makhluk halus yang bernama bakteri atau virus yang ketika berkembang lokal disebut endemi, berkembang agak sedikit besar disebut epidemi, dan menulari banyak wilayah bumi disebut dengan pandemi.
 
Dalam sejarahnya perjalanan manusia yang seringkali berurusan dengan perdagangan, peperangan, atau perjalanan biasa, semenjak zaman baheula adalah sarana tercepat penyebaran pandemi antar benua. Wabah Athena adalah contoh klasik bagaimana musafir Ethiopia membawa cacar ke Yunani yang terjadi 500 tahun sebelum Masehi.  Wabah Antonine adalah pandemi tehebat pada abad ke 2 yang dibawa oleh tentara Romawi dari kawasan Tigris di Irak.
 
Contoh nyata globalisasi sebagai wahana penyebaran pandemi klasik yang lain adalah jalur sutera yang dibangun oleh imperium Cina yang menghubungkan mulia dari Asia Tenggara melintasi Asia Barat, Asia Tengah sampai ke Eropah selama ratusan tahun. Sejarah  jalur sutera dalam catatanya adalah sejarah kemakmuran karena ada konektvitas darat yang ada pada masa itu. Uang, barang, dan orang adalah komponen yang terus menerus masuk dalam pusaran itu selama ratusan tahun.
 
Disebalik ikon kemakmuran dan  kemajuan, jalur sutera juga adalah jalur lintas cepat perpindahan dan penyebaran pandemi dari daerah asal, sering disebut Cina, layaknya Covid-19 hari ini. Paling kurang dua pandemi terhebat dalam sejarah global, Black Death dan Cacar yang membunuh ratusan juta jiwa manusia di Asia dan Eropah, yang kemudian terus berpindah ke AS yang memusnahkan penduduk pribumi Indian di seluruh AS.
 
Globalisasi yang dimotori oleh kapitalisme menimbulkan bebagai fenomena paradoks yang dialami oleh manusia selama  ratusan tahun, paling kurang selama lebih dari satu milenia seperti yang tercatat dalam sejarah. Globalisasi semakin lama, semakin mampu membuat bumi menjdi datar dan sempit. Arus uang, barang, jasa, dan ide semakin hari semakin berinteraksi, dipengaruhi dan mempengaruhi.
 
Semakin terasa dari sehari ke sehari ada ketergantungan dan saling ketergantungan antara satu wilayah dengan yang lain dan mesin besar globalisasi itu yang dahulunya mendapat mesin tempel kapitalisme, kini semakin cepat larinya, karena ada turbo baru, revolusi digital. Sayangnya kesuksesan kapitalisme yang telah begitu lama, kali ini terpuruk jatuh dengan penumpang gelap pandemi yang ikut menyebar bersamaan dengan arus deras aliran uang, barang,  orang dan jasa yang ada di dalamnya.
 
Lihat saja bagamana  kecanggihan Covid-19 yang “berinang” pada integrasi ekonomi global yang merupakan jantung dan nyawa dari globalisasi. Lihatlah bagaimana makhluk kecil berjalan dari salah satu rantai besar kapitalis, di Wuhan, Cina, lalu menyebar ke Eropah dan AS sebagai dua episentrum kekuatan ekonomi global. Lihat pula setelah itu  ketika yang diserang negara-negara dengan status kapitalis “puber” seperti Brazil, Mexico, India, dan Indonesia.
 
Memang sebelumnya pandemi itu sempat singgah di Taiwan, Jepang, Singapore dan Korea Selatan, namun pemerintah negara itu cepat merespons sehingga pandemi itu menjadi terkendalikan. Penumpang tak diundang dalam kerata globalisasi itu lekas diketahui dan dihalau secara cepat dan cermat oleh kekuatan kepemimpinan negara-negara, itu yang menyerupai kemampuan negara Cina memadamkan api Covid-19 setelah negeri itu mendapat kepungan awal yang mematikan, namun terkendali.
 
Tidak dapat dipungkiri, pandemi akan terus berdatangan, dimasa depan, dan globalisasi tetap saja menyediakan gerbong besar dan cepat untuk menyebarkan nya keseluruh dunia. Pandemi akan terus datang, baik dalam hal skala maupun frekwensi. Ada spekulasi, bahwa banyak negara akan kapok dengan serbuan pandemi, sehingga berpeluang untuk menarik diri dari globalisasi.
 
Dugaan itu tidak hanya salah, tetapi juga tidak mungkin. Dipermukaan namanya tetap saja globalisasi, akan tetapi mesin penggerak besarnya adalah kapitalis, baik kapitalis pasar bebas, maupun kapitalis negara. Yang akan terjadi bukanlah destruksi kapitalis, tetapi rekonstruksi dan reposisi kapitalis. Barangkali fokus kali ini adalah dengan membangun tata pemerintahan global yang  solid yang memberi pehatian lebih kepada pandemi, nuklir, dan pemanasan global. Kali ini Covid-19 adalah contoh nyata ancaman serius kehidupan masyarakat global yang telah dirasakan dampak dasyhatnya.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...