Unduh Aplikasi

Berbagi Angpau di Akhir Tahun

Berbagi Angpau di Akhir Tahun
Ilustrasi: vestwell.

BANTUAN Pemerintah Aceh terhadap 100 organisasi di Aceh, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2020, mungkin bukan cara yang tepat untuk membantu masyarakat. Apalagi kegiatan itu dilakukan mengatasnamakan penanganan Covid-19. 

Di Aceh, masih banyak kelompok masyarakat yang paling menderita akibat Covid-19. Di Tanah Tinggi Gayo, misalnya, para petani kopi semakin tercekik karena harga jual kopi turun drastis, dampak ketiadaan ekspor. 

Kopi Gayo adalah komoditas andalan Aceh. Di saat normal, triliunan rupiah devisa didapat dari penjualan kopi ke sejumlah negara di Eropa, Asia dan Amerika Serikat. 

Selama pandemi, ekspor anjlok. Saat ini, para petani kopi hanya mampu menjual kopi dengan harga sangat murah. Pendapatan mereka sangat minim. Saking frustasinya, muncul suara agar para petani kopi beralih ke tanaman lain. Masa depan kopi, dalam beberapa tahun ke depan, dianggap masih buram. 

Seharusnya Pemerintah Aceh mengalihkan perhatian ke daerah ini. Apalagi, jika dibandingkan, para penerima hibah bantuan sosial itu bukan prioritas dalam upaya menanggulangi dampak Covid-19. Terutama di bidang ekonomi. 

100 lembaga penerima bantuan hibah tersebut boleh mendapatkan bantuan setelah kelompok masyarakat lain, yang perekonomiannya mengalami kesulitan, tuntas dibantu. Namun Pemerintah Aceh mengabaikan hal ini. 

Kerusakan dari sisi moral yang diakibatkan bantuan ini pun lebih dahsyat lagi. Bantuan Rp 100 juta kepada organisasi itu akan menghilangkan sisi kritis mereka terhadap kinerja Pemerintah Aceh. Belum lagi, urusan pertanggungjawaban dana. Patut diduga, bentuk pertanggungjawabannya adalah abal-abal. 

Hal ini harus jadi bahan evaluasi. Di saat yang sama, Dinas Pemuda dan Olahraga, harus membuka secara mengumumkan kriteria penerima bantuan dan model pertanggungjawaban keuangan dari anggaran itu. 

Komentar

Loading...