Unduh Aplikasi

Belum Lunasi Belanja Obat-obatan, RSUDCND Meulaboh Disomasi Rekanan

Belum Lunasi Belanja Obat-obatan, RSUDCND Meulaboh Disomasi Rekanan
RSUDCND Meulaboh. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda.

ACEH BARAT - PT Dos Niroha melayangkan somasi kepada Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhine (RSUDCND) Meulaboh. Pasalnya rumah sakit milik Pemerintah Aceh Barat itu belum melunasi biaya pengadaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) berupa obat-obatan sejak tahun 2020 lalu dengan total Rp534 juta lebih.

Kuasa Hukum PT Dos Niroha, Hendra Hermawan mengaku somasi itu merupakan somasi kedua setelah somasi pertama dikirimkan sekitar satu bulan lalu. Karena somasi pertama tidak ada respon, pihaknya terpaksa melayangkan somasi kedua. Sementara somasi kedua dilayangkan 21 Mei 2021 lalu.

“Benar kita melakukan somasi kedua, itu setelah somasi yang pertama pihak (Rumah Sakit) Cut Nyak Dhien tidak ada respon. Untuk somasi pertama itu jedanya lumayan lama sih setelah yang pertama adalah sebulan dan kita tembuskan kemana-mana itulah, saya harap adalah itikad baik dari pak Gunawan selaku Direktur Plt-nya kan,” kata Hendra Hermawan, yang merupakan kuasa hukum dari kantor HSAP Advocat dan Partner, Rabu (9/6). 

Kata Hendra, pihaknya sengaja memberikan waktu lebih lama pada somasi pertama. Alasanya kalau kliennya itu masih punya itikad baik untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun, karena tidak ada respon, pihaknya kembali melayangkan somasi kedua yang tembusannya ke bupati, sekretaris daerah, dinas kesehatan, dan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Aceh.

Setelah somasi kedua, kata Herman, pihak rumah sakit melalui kuasa hukumnya membalas surat tersebut. Dimana manajemen mengharapkan PT Dos Niroha bersabar atas tunggakan hutang rumah sakit tersebut.

“Jadi dia melalui kuasa hukumnya Agus Herliza SH And Partners menanggapi surat somasi pertama dan somasi ke dua kita, pada pokoknya menerangkan untuk kita tetap bersabar, tapi tak ada kepastian. Dari surat tersebut katanya sudah melakukan dua kali pembayaran, setelah kita kroscek rupanya ada satu kali,” ungkap Hendra.

Ia mengungkapkan dari surat yang disampaikan pihak rumah sakit yang menyebutkan dua kali pembayaran tersebut untuk pembayaran cicilan sebanyak dua kali yakni pada tanggal 4 Mei. Namun, setelah dilakukan penelusuran oleh kliennya melalui print out rekening koran, yang masuk hanya satu kali pada tanggal 11 Mei dengan nilai Rp 28 juta.

“Untuk yang satunya itu hanya ada surat perintah SP2D itu, yang SP2D ini tidak ada bukti slip bank, berarti kitakan tidak bisa terima itu sebagai bukti pembayaran. SP2D itu terbit 4 Mei, kita kroscek dari klien kita ternyata nggak ada, jadi ini jadi tanda tanya berarti ini tidak ada validasi ke bank dong, kemana larinya gitu kan. Sementara di rekening klien kita udah dicek dari rekening koran beberapa kali itu tidak ada saldo masuk,” ungkapnya.

Untuk somasi kedua, Hendra mengaku pihaknya memberi waktu paling tidak satu bulan dari surat somasi dilayangkan, pihaknya juga akan membawa ke ranah hukum jika hak kliennya itu tidak dipenuhi.

“Jika nantinya memenuhi unsur pidananya besar kemungkinan kita pidanakan, kalau pun tidak terpenuhi ya sudah kita jalur perdata," tegasnya.

Hendra juga menyebut akibat tunggakan sejak tahun 2019, klienya tidak bisa lagi memenuhi permintaan pihak rumah sakit untuk tambahan pasokan obat-obatan sebelum adanya pelunasan, apalagi selama pandemi Covid-19, keuangan perusahaan juga menipis.

Sementara itu, Kepala Seksi Humas RSUDCND Meulaboh, Susi Maulhusna belum bersedia memberi keterangan saat ditanyakan terkait dengan somasi yang dilayangkan PT Dos.

“Itu nanti ya saya tanya dulu karena saya belum dapat informasi, sekaligus saya juga sampaikan dulu sama direktu,” kata Susi Maulhusna.

Secara terpisah, Sektaris Daerah (Sekda) Kabupaten Aceh Barat, Marhaban mengaku tidak tahu adanya somasi itu.

“Belum saya belum tahu, belum dapat suratnya untuk somasi itu. Sepengetahuan kami menyangkut utang piutang itulah dicicilkan. Saya tidak lihat angkanya berapa, tapi yang disampaikan oleh direktur memang telah disampaikan atau telah dicicilkan,” kata Sekda Marhaban.

HUT Pijay

Komentar

Loading...