Unduh Aplikasi

Beli Rasa Bukan Merek

Beli Rasa Bukan Merek
Ilustrasi: pergikuliner

BERKEMBANGNYA virus corona berdampak pada sisi ekonomi. Salah satunya adalah harga lobster. Saat ini, di Lhokseumawe, harga lobster turun menjadi Rp 200 ribu per kilogram dari sebelumnya dijual Rp 370 ribu.

Kondisi ini memang tidak terelakkan. Apalagi selama ini, lobster lebih banyak diekspor ke luar negeri ketimbang dinikmati di negeri sendiri. Harga yang tinggi membuat hewan laut ini tidak terlalu dilirik di dalam negeri.

Sudah menjadi kebiasaan, bahwa yang baik-baik “harus” dikirim ke luar, sementara di dalam negeri cukup makan seadanya saja. Tidak hanya lobster. Durian yang bagus dibawa keluar, sementara di dalam kita hanya makan sisa-sisa. 

Di sisi lain, penyebaran virus corona ini harusnya membuka mata pemahaman kita. Bahwa tidak seharusnya kita bergantung pada negara lain dalam menentukan nasib kita sendiri.

Kita bisa belajar dari kemampuan kita melawan hegemoni pemikiran bahwa kopi arabika gayo adalah barang mahal. Beberapa tahun lalu, tak banyak warung kopi yang menyediakan kopi jenis ini karena dianggap sebagai barang mahal.

Namun ternyata, dengan dorongan dari pengusaha lokal, kopi arabika mulai dapat diterima dan menjadi ciri khas. Di warung-warung kopi, kopi arabika gayo menjadi menjadi menu penting yang tak bisa dilewatkan. Kopi gayo kini menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bahkan waralaba besar asal Amerika Serikat tak berani masuk ke Aceh karena menyadari bahwa produk mereka akan kalah bersaing, terutama dari sisi harga, untuk bisa membuka gerai di Aceh. Dari sisi nama, mungkin mereka besar. Tapi masyarakat Aceh memahami bahwa mereka tak perlu merek, mereka perlu rasa dan kualitas.

Hal sama juga harusnya bisa diupayakan terhadap komoditas lobster. Sektor swasta dan pemerintah harusnya mampu mendorong agar lobster dari Aceh dimaksimalkan untuk mengisi ceruk pasar yang cukup besar di Aceh. Mungkin jika harga lobster diturunkan, konsumsi lobster di Aceh akan meningkat. Dan pada akhirnya, ini akan mendongkrak persentase penjualan lobster di Aceh tanpa harus bergantung pada ekspor. 

Kita harus menyadari bahwa negara ini adalah pasar yang besar. Karena itu, pemerintah harus membangun upaya agar daya beli masyarakat tidak jatuh agar mereka mampu membeli barang-barang yang dihasilkan dari sekitar mereka. Terutama lewat kebijakan yang pro rakyat. Termasuk mendorong sektor-sektor pertanian dan industri kreatif tumbuh dan berkembang.

Kita jangan mau terus menerus dicap sebagai bangsa miskin. Bangsa yang tak layak menikmati hasil kekayaan alam dengan harga murah. Karena sesungguhnya, ilusi itu diciptakan agar kita tak pernah bisa menikmati produk berkualitas hasil kekayaan alam sendiri. 

Komentar

Loading...