Unduh Aplikasi

Belajar Tsunami Seumur Hidup

Belajar Tsunami Seumur Hidup
Ilustrasi: Shutterstock

PERNYATAAN Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto tentang tsunami di pesisir Samudera Hindia harusnya jadi perhatian bersama. Setelah dua bencana ganda, gempa bumi dan tsunami, 16 tahun lalu, sangat mungkin tsunami lebih kecil terjadi di Serambi Mekkah itu. 

Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, seperti Yaman, Oman, Sri Lanka, Thailand, dan Indonesia. Di Thailand, di kedalaman satu meter, tanah tersusun dari beberapa lapis endapan dan yang teratas merupakan sisa endapan tsunami 2004.   

Di Aceh, dari hasil penggalian di Teluk Pucung, yang berada di sisi selatan Pulau Simeulue, memperlihatkan lapisan tanah putih dan hitam kecoklatan berselang-seling. Di bagian atas terdapat lapisan berwarna putih yang merupakan endapan dari tsunami 2004 yang terjadi pada 26 Desember. 

Namun ternyata di daerah itu terekam peristiwa tsunami setelahnya, yakni pada 28 Maret 2005, setelah gempa magnitudo 8,7 yang episentrumnya ada di antara Pulau Nias dan Simeulue. Ada pula lapisan putih putus-putus terlihat di lapisan lebih bawah setelah peristiwa 2004 merupakan sisa endapan tsunami yang terjadi pada 4 Januari 1907, setelah gempa dengan magnitudo 7,5 hingga 8 terjadi di dekat Simeulue. 

Sedangkan dari hasil penggalian di Gua Ek Leutik, Aceh Besar, ditemukan lapisan tanah berselang-seling berwarna hitam kecoklatan dan putih di kedalaman 50 sentimeter. Berdasarkan Ilmu Geologi lapisan tersebut berumur sekitar 500 tahun, sehingga setidaknya dapat diketahui dalam jangka waktu itu ada sekitar empat tsunami terjadi di sana. 

Sementara dalam riset yang dilakuakn Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Koordinator Klaster Riset Disaster Education and Management (TDMRC), ditemukan fakta dari endapan lumpur tsunami bahwa fenomena alam itu tidak terjadi 100 tahun sekali. Penelitian itu mengungkapkan di Aceh pernah terjadi satu kejadian tsunami dengan tsunami lain yang hanya berjarak 10 tahun.

Karena itu, penting bagi seluruh elemen di Aceh untuk terus belajar dan menularkan pengetahuan tentang tsunami ini ke seluruh lapisan. Seperti cara endatu di Simeulu mengajarkan tentang smong. Pemerintah Aceh dan pemerintah daerah di Aceh juga perlu mengkaji fasilitas-fasilitas publik yang bisa dijadikan sebagai tempat evakuasi, seperti sekolah, ruko, atau masjid.

Ini adalah langkah logis yang harus diambil. Terutama di daerah-daerah pesisir. Karena selama ini, setelah tsunami, tidak mudah untuk merelokasi warga dari tanah mereka. Agar fenomena alam itu tidak menjadi bencana, maka perlu disiapkan lokasi-lokasi evakuasi di kawasan pesisir sehingga tidak ada korban jiwa saat fenomena itu datang. 

Edukasi ini adalah hal penting. Kita harus menghargai jiwa para syuhada yang meninggal dunia karena bencana itu, 16 tahun lalu. Jika kita tidak bisa mengambil iktibar, bukan tak mungkin kita atau orang-orang terdekat akan mengalami nasib yang sama. 

Komentar

Loading...