Unduh Aplikasi

INTERMESO

Belajar Demokrasi ke Indonesia

Belajar Demokrasi ke Indonesia
Ilustrasi: Adobe Stock.

ERDOGAN punya cara sendiri menanggapi kritik Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait sikapnya terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender. Washington mengutuk retorika anti-LGBT Erdogan. Sedangkan Brussels pidato kebencian Erdogan tidak dapat diterima. 

Presiden Turki itu menanggapi kritik dengan santai. Kepada AS, Erdogan mempertanyakan kembali kemampuan negara itu mengurusi urusan “rumah tangga” sendiri setelah kerusuhan di Capitol usai pemilu.

Sedangkan kepada Emmanuel Macron, Erdogan menyebut Presiden Prancis itu tidak bisa menyelesaikan protes jaket kuning yang terjadi sejak akhir 2018. Erdogan berkata Turki, "tak punya masalah seperti itu."

Di negara-negara yang mengklaim sebagai sebagai simbol demokrasi, insiden-insiden dalam beberapa tahun terakhir ini memang menunjukkan demokrasi itu tidak seperti yang diagung-agungkan. Banyak kejadian-kejadian yang menunjukkan sisi lemah demokrasi. Untuk itu, Erdogan dapat menyarankan agar mereka belajar demokrasi di Indonesia. 

Karena di sini, demokrasi itu terlihat mudah. Tak perlu berdarah-darah. Di sini, semua orang sepertinya paham bahwa dalam kehidupan bernegara, tidak perlu ideologi. Yang ada hanya satu, kepentingan bersama untuk menguasai mesin-mesin kekuasaan. 

Karena dari kekuasaanlah semua menjadi lebih mudah. Demokrasi di negara ini berarti “berjuanglah sekuat tenaga, tapi kalau kalah, jangan malu untuk bergabung dengan pemenang.” Ideologi? Tak perlu dipertanyakan. Karena sejauh apapun perbedaan--kanan, kiri, tengah--saat berbicara tentang kekuasaan, semua menjadi dekat. 

Tak ada sakit hati meski saat berkampanye hujatan dan cacian dari dua kelompok berseberangan cukup menyakitkan pendengaran. Kadrun, kampret, cebong, buzzer, bersatu dan berdiri dalam barisan yang sama menyuarakan: kerja, kerja, kerja.

Dalam urusan pemerataan kekuasaan, AS dan Uni Eropa juga perlu membaca lebih banyak tentang keberhasilan demokrasi di Indonesia. Demokrasi di negara ini memberikan hak kepada seseorang di luar partai politik untuk masuk dan mengambil alih kepengurusan yang sah. Demokrasi di Indonesia mengajarkan bahwa semua sangat fleksibel, sangat demokratis.  

AS dan Uni Eropa juga harus menyadari keunggulan demokrasi di Indonesia. Karena di negara ini, demokrasi melebur banyak hal. Demokrasi di Indonesia mengajarkan bahwa kehidupan bernegara tak perlu ada batas, terutama batasan antara pemerintah dan negara. 

Saking tingginya level demokrasi Indonesia, semua aparatur di negara ini mulai tak lagi melihat sekat batasan kewenangan mereka, apakah berperan sebagai abdi negara, yang seharusnya berpegangan pada undang-undang, atau abdi pemerintah. Bahkan di negara ini, seorang dengan kekuasaan sebesar presiden masih berstatus sebagai petugas partai. 

Komentar

Loading...