Unduh Aplikasi

Beda Hutan Kota, Beda Warung Kopi

Beda Hutan Kota, Beda Warung Kopi
Ilustrasi: tribunnews

WAJAR jika Syamsul Bahri, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Langsa berang. Kabar tentang rencana pemerintah kota membuka kembali tempat wisata Taman Hutan (hutan lindung) untuk umum, di tengah wabah virus corona, memang bukan sesuatu yang normal.

Kemarahan ini diluapkan Syamsul di laman facebooknya. Dia menyebut rencana tersebut gila. 

Dia juga menyebut sudah banyak uang negara yang habis untuk penanganan covid-19 di Langsa. Namun hanya untuk mencari keuntungan PAD yang sedikit, membuka Taman Hutan akan mengundang bahaya lebih besar.

Namun rencana ini sebenarnya tidaklah terlalu muluk-muluk. Apalagi setelah menyaksikan geliat masyarakat di pusat-pusat perbelanjaan dalam sepekan terakhir.

Hampir tak ada pasar yang sepi. Bahkan antrean penerima bantuan dari pemerintah di bank dan kantor pun tak kalah ramai. Tak ada penjagaan jarak (phisikal distancing). Semua menumpuk dalam satu titik.

Berkaca pada protokol kesehatan, hal ini sebenarnya terlarang. Karena setiap warga, di masa pandemi covid-19, diharusnya menjaga jarak aman. Hal ini untuk menghindari penyebaran kuman lewat cairan saat bersin atau batuk.

Di kota Langsa, dan kota-kota lain di Aceh, warung-warung kopi juga beroperasi normal. Tak ada kedisiplinan seperti yang diharuskan untuk mencegah penularan corona.

Tentu saja kita tak berharap ada warga yang terjangkit corona. Pembukan hutan lindung sebagai destinasi wisata juga sepertinya tak terlalu bermasalah. Toh selama ini, saat semua warung kopi dan pusat perbelanjaan beroperasi, tak ada yang teriak mengingatkan untuk tetap berpegang pada protokol kesehatan.

Komentar

Loading...