Unduh Aplikasi

Bazar Manusia di Cox’s Bazar

Bazar Manusia di Cox’s Bazar
Ilustrasi: OSCE

DUA jempol pantas diacungkan kepada Kepolisian Daerah Aceh. Langkah Direktorat Reserse Kriminal Umum mengungkap dugaan penyelundupan imigran asal Cox’s Bazar, berkedok manusia perahu, adalah sebuah terobosan penting yang menjadi modal penanganan para pengungsi itu di masa yang akan datang. 

Kemarin polisi menangkap empat orang yang diduga kuat menjadi “agen perjalanan” para imigran. Belum diketahui daerah tujuan para pengungsi ini, namun yang jelas mereka akan mencari kehidupan baru, jauh dari Myanmar. 

Juli lalu, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar Iza Fadri memperkirakan gelombang pengungsi manusia perahu yang masuk ke Indonesia, khususnya ke Aceh, masih akan terjadi. Dan mereka tak lagi datang dari Provinsi Rakhine, Myanmar. 

Mereka adalah imigran yang menghuni kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh. Myanmar mengategorikan warga Rohingya ke dalam dua golongan. Pertama adalah Rohingya yang datang bersama pasukan Inggris saat kerajaan itu menjajah Myanmar. Golongan pertama ini membaur lama dengan masyarakat Myanmar. Mereka juga fasih berbahasa Myanmar.

Golongan kedua adalah para pengungsi musiman yang masuk memanfaatkan celah di perbatasan Bangladesh dan Myanmar. Panjangnya mencapai 196 mil atau sekitar 312 kilometer. Mereka , kata Iza, tidak bisa berbahasa Myanmar. Golongan kedua inilah yang menempati kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Pada sekitar tahun 70-an, pemerintah Myanmar mengusir sekitar 200 ribu pendatang ke Bangladesh. Hal sama juga berulang pada 90-an. Dan terakhir adalah di era 2000-an. Karena kehidupan mereka di Cox’s Bazar tak pasti, mereka lantas menghubungi kerabat mereka untuk keluar dari kamp itu menggunakan jasa para calo. 

Bisnis ini memang menggiurkan. Dalam sekali pengiriman, uang yang mungkin didapat para sindikat penyelundup ini mencapai Rp 40 miliar. Orang-orang Bangladesh sendiri yang menjadi salah satu bagian dari sindikat ini. Mereka tersebar di Malaysia, yang menjadi daerah tujuan para pengungsi, dan tidak menutup kemungkinan mereka memilih menetap di Indonesia. 

Dengan memanfaatkan celah pencatatan kependudukan, keberadaan warga Bangladesh di Aceh atau Sumatera Utara, mereka dapat dengan mudah membaur. Baik di Aceh ataupun di daerah lain, seperti Sumatera Utara. 

Karena itu, Pemerintah Aceh harus mendorong agar Pemerintah Pusat serta Badan Dunia untuk Pengungsian (UNHCR) dan Organisasi Imigran Internasional (IOM) terlibat aktif mendorong agar Bangladesh memperhatikan benar hal ini. Terutama dua organisasi tersebut. Mereka harus menekan agar Bangladesh memberikan solusi. 

Pemerintah Indonesia juga hendaknya mengajak negara-negara di Asia Tenggara, terutama Malaysia, yang menjadi tujuan para pengungsi, untuk membantu Bangladesh menangani permasalahan di Cox’s Bazar. Jangan sampai, etnis Rohingya ini malah jadi objek penjualan manusia, atau bahkan penjualan organ tubuh manusia. Kita sebagai manusia harus tetap memperlakukan mereka sebagai manusia.

Komentar

Loading...