Unduh Aplikasi

Bank Keliling Mulai Dilarang di Pidie Jaya

Bank Keliling Mulai Dilarang di Pidie Jaya
Spanduk larangan Banke di Gampong Tu Panteraja.Foto: AJNN/Muksalmina).

PIDIE JAYA - Bank Keliling (Banke) yang berkedok koperasi mulai dilarang di Kabupaten Pidie Jaya. Larangan tersebut terlihat pada spanduk di salah satu gampong di Kecamatan Panteraja yang berada dipinggir jalan nasional Banda Aceh -Medan, yakni Gampong Tu Panteraja.

Di spanduk tersebut tertulis "Perhatian. Dilarang keras Bank Keliling (Banke), koperasi dan retenir masuk ke wilayah kami".

Bahkan, spanduk dengan gambar 'danger' di kiri kanan itu juga menyertakan kalimat ancaman kepada petugas Bank Keliling yang melanggar perhatian itu. "Nyoe han kapateh, ureung kupoh honda ku toet".

Bank Keliling, koperasi dan retenir saat ini sangat mudah dijumpai di perkampungan, sasaran masyarakat yang berpendapatan pas-pasan.

"Kiban bek geu larang, kop brat anco masyarakat selama bangke nyan di tameng lam gampong (Bagaimana tidak dilarang, sangat hancur masyarakat selama 'Banke' itu masuk dalam kampung)," kata salah seorang wanita paruh baya sambil berlalu saat AJNN mengabadikan foto spanduk tersebut.

Keuchik Gampong Tu, Abdullah yang dikonfirmasi AJNN, Kamis (6/2) menjelaskan, larangan bank keliling, koperasi dan retenir masuk ke gampong tersebut setelah kesepakatan bersama antara masyarakat dengan aparatur gampong setempat.

Dijelaskannya, disamping melanggar Syariat Islam karena perbuatan tersebut hukumnya riba, selama petugas yang sering disebut 'tim revo' itu masuk gampong (meminjamkan uang kepada masyarakat), masyarakat di gampong tersebut malah lebih merana.

"Kami sudah tanyakan ke guree (ustad), bank keliling itu hukumnya haram. Dan selama ini, masyarakat bukannya terbantu setelah pinjam uang pada bank keliling, malah terjepit," kata Abdullah tegas melalui sambungan seluler.

Abdullah menambahkan, dengan kehadiran "Banke" tersebut, kehidupan masyarakat di gampong resah. Betapa tidak, lanjutnya, saat pengutipan, petugas "Banke" ini ada yang datang menjelang shalat magrib.

Pendatang atau perantau ke Aceh mungkin banyak tidak mengetahui, dan mereka perlu mengetahui, di Aceh tabu rasanya bertamu ke rumah orang, apalagi menagih hutang saat shalat magrib tiba.

"Selama ada Banke, kehidupan masyarakat kami resah, magrib, kadang-kandang malam, mereka (petugas) mengutip uang. Dan yang meminjam uang pada Banke ini, rata-rata masyarakat yang berpendapatan pas-pasan," jelasnya.

Spanduk larang tersebut, sambung Keuchik Gampong Tu, baru dipasang sekitar dua pekan yang lalu.

"Saat ini tidak boleh lagi ada Banke masuk gampong kami. Gampong-gampong lain juga sudah melarang Banke. Karena Banke ini sangat meresahkan. Meski ada masyarakat yang mengatakan, bagaimana kami bisa hidup jika tidak pinjam uang. Tapi pada kenyataannya kan, sebelum ada Banke mereka juga hidup, malah saat berurusan dengan Banke, hidup mereka jadi susah," terangnya.

Setelah melarang Banke masuk gampong, sambung Abdullah, pihaknya akan mencari solusi untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui dana desa.

"Kita sudah melarang Banke, kita juga harus mencari solusi untuk masalah ini, dan dana desa dapat menjadi solusinya," jelas Abdullah.

"Kita di Pidie Jaya selalu mengadakan zikir, doa bersama, ceramah. Tapi perbuatan riba seperti Banke kita biarkan. Mungkin pihak kabupaten belum sempat memikirkan yang ini, jadi biar kami (keuchik) yang memikirkan (larangan Banke)," tutup Abdullah.

Komentar

Loading...